Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN BAHASA DALAM FILM NGERI – NGERI SEDAP KARYA BENE DION Lubis, Desy; Sitorus, Maria; Pardede, Reksi; Siahaan, Meilina
Jurnal Teknologi Mesin UDA Vol 2 No 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Lembaga Penenlitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/teknologimesin.v2i2.5540

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa dalam film Ngeri - Ngeri Sedap karya Bene Dion. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa dalam film "Ngeri-Ngeri Sedap" karya Bene Dion dari perspektif sosiolinguistik. Film ini menjadi objek penelitian karena menggambarkan beragam konteks sosial dan budaya dalam cerita yang kompleks. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis wacana dan pendekatan sosiolinguistik dengan fokus pada variasi bahasa, konotasi, dan makna sosial dalam percakapan karakter dalam film. Penelitian ini juga membahas pengaruh sosial, budaya, dan sejarah terhadap penggunaan bahasa dalam konteks film ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahasa dalam film ini memiliki peran penting dalam menggambarkan karakter, latar belakang sosial, dan mengkomunikasikan makna dalam cerita. Kajian ini memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana bahasa digunakan sebagai alat penting dalam narasi film yang mencerminkan realitas sosial dan budaya. Penelitian ini juga memberikan kontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang hubungan antara bahasa, budaya, dan media visual dalam konteks sinema.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dan sumber data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak dan catat. Teknik simak dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menyimak tuturan tokoh dalam dialog di film. Hasil penelitian ini terdapat 5 kalimat percakapan yang mengandung unsur alih kode dan terdapat 16 kalimat yang mengandung unsur campur kode.
PELATIHAN PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG DARI PENGOLAHAN HINGGA PEMASARAN DIGITAL BAGI KELOMPOK TANI HARAPAN JAYA DI DESA BALATA DUA PARBALAN Sitorus, Peniel Sam Putra; Situmorang, Eduward; Sirait, Gloria; Sianipar, Vina; Adolf MS, Albert; Desmon Sirait, Glenn; Junita Arista Siringoringo, Kerin; Sitorus, Maria; Sitorus, Pontas
Nusantara Hasana Journal Vol. 5 No. 7 (2025): Nusantara Hasana Journal, December 2025
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v5i7.1779

Abstract

Simalungun Regency has 32 sub-districts covering an area of 438,660 hectares, representing 6.12% of the total area of North Sumatra province. There are 386 villages (nagori) and 27 sub-districts (kelurahan). In Pematang Bandar District, corn and rice are commonly cultivated. In Balata Village, Jorlang Hataran District, farmers are organized into the "Harapan Jaya" farmer group and prefer to cultivate corn. Corn prices in the Indonesian market are unstable, impacting farmers' incomes. Training in processing corn into food is needed to increase their income. This training encompasses skills in production and marketing. Digital marketing training can help farmers promote their products and expand their marketing reach. Corn is an important commodity in Indonesia, serving as a source of food, animal feed, and industrial raw materials. Corn is also a staple food in some regions and is used in various industries. Corn mills are essential post-harvest tools to increase corn's added value, improve production efficiency compared to manual methods, and support food security. However, many farmers in Indonesia still use traditional methods with low productivity and lack knowledge of crop processing and marketing strategies. Farmers face various challenges, such as limited access to information and price fluctuations. Capacity building through training is needed to improve production and marketing. The "Harapan Jaya" farmer group focuses on corn cultivation and sales, but has not yet maximized the added value of their harvest.