Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tantangan Diagnostik Seorang Laki-laki 19 Tahun dengan Kista Koledokus Tipe IC Yosefin Ratnaningtyas; Syifa Mustika; Supriono Supriono; Bogi Pratomo
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 9 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i9.2838

Abstract

Kista koledokus merupakan dilatasi kistik dari saluran empedu, baik intra maupun ekstrahepatik, yang dapat menyebabkan obstruksi biliaris dan sirosis biliaris progresif. Kondisi ini sering dikaitkan dengan trias klasik berupa nyeri perut kanan atas, massa intraabdomen, dan ikterus obstruktif. Modalitas pencitraan seperti MRCP dan ERCP dianggap sebagai standar emas untuk mendiagnosis kista koledokus dan anomali terkait. Artikel ini bertujuan untuk memahami tantangan diagnostik kista koledokus melalui analisis kasus seorang pasien dewasa muda dengan gejala klinis dan pencitraan yang tidak khas. Seorang laki- laki, 19 tahun, datang dengan nyeri perut kanan atas, mual, muntah, urine berwarna seperti teh, tinja berwarna dempul, dan gatal-gatal. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan obstruksi saluran empedu. Pemeriksaan USG abdomen mencurigai adanya kista koledokus, namun MRCP menyimpulkan batu pada duktus biliaris komunis dengan dilatasi duktus hepatikus kanan kiri, duktus hepatikus komunis, duktus sistikus, dan duktus biliaris komunis. Pasien direncanakan prosedur ERCP untuk evakuasi batu namun evakuasi gagal dilakukan diduga akibat obstruksi pada duktus koledokus dengan kemungkinan kista koledokus. Pasien kemudian menjalani operasi. Diagnosis tegak dengan ditemukan kista koledokus tipe 1C. Pasien mengalami perbaikan klinis dan laboratorium setelah operasi. Kista koledokus pada orang dewasa lebih sering muncul dengan gejala mirip batu empedu seperti nyeri perut kanan atas dan tanda-tanda obstruksi bilier, dibandingkan massa intraabdomen. Kegagalan interpretasi MRCP pada kasus ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang mendalam mengenai kista koledokus, dan perlunya kehati-hatian dalam evaluasi diagnostik dan penggunaan modalitas pencitraan
Prevalensi dan Faktor Risiko Neuropati Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Durasi Penyakit Lebih Dari Lima Tahun di Klinik Diabetes Melitus RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Ahmad Kahfi Lutfi Jamaludin; Pugud Samodro; Yosefin Ratnaningtyas
Health & Medical Sciences Vol. 3 No. 3 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v3i3.635

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah penyakit kronis yang sering memicu kerusakan saraf perifer (neuropati diabetik). Kondisi ini menyebabkan nyeri hingga penurunan kualitas hidup, terutama pada pasien yang sudah mengidap diabetes lebih dari 5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian (prevalensi) serta faktor risiko neuropati diabetik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Studi ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 141 pasien DMT2 dengan riwayat penyakit di atas 5 tahun dilibatkan sebagai sampel. Data kemudian dianalisis menggunakan uji statistik bivariat (chi-square) dan multivariat (regresi logistik berganda). Angka kejadian neuropati diabetik ditemukan sangat tinggi, yakni mencapai 80% dari total pasien. Secara statistik, hipertensi terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian kerusakan saraf ini (p < 0,05). Sebaliknya, faktor status gizi, dislipidemia, kebiasaan merokok, dan kontrol gula darah tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p > 0,05). Berdasarkan uji akhir multivariat, hipertensi diidentifikasi sebagai faktor risiko yang paling dominan memengaruhi munculnya neuropati diabetik. Pasien DMT2 yang sudah sakit lebih dari 5 tahun memiliki risiko neuropati diabetik yang sangat tinggi, di mana tekanan darah tinggi (hipertensi) bertindak sebagai faktor pemicu utamanya.