Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kristologi Kosmik dan Keluarga Kristen sebagai Basis Ontologis dan Medium Pedagogis Etika Ekologis dalam Kolose 1:15-23 Harlinton Simanjuntak
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2026): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/rdyg6m49

Abstract

Krisis ekologis di Indonesia bukan berakar pada gejala fenomenologis atau epistemologis, melainkan masalah yang berakar pada gejala teologis. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan etika ekologis berbasis Kristologi kosmik dalam Kolose 1:15-23 serta mengintegrasikannya ke dalam keluarga Kristen sebagai medium pembentuk etika ekologis lintas generasi. Penelitian ini menggunakan metode riset literatur dengan pendekatan eksegesis dan hermeneutika kontekstual dalam menghubungkan makna teks biblis dengan realitas kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kristologi kosmik dalam Kolose 1:15-23 merupakan basis ontologis etika ekologis yang menegaskan Kristus sebagai Pencipta, Penopang, Pendamai, dan Kepala atas seluruh realitas kosmik. Serta, keluarga Kristen sebagai bagian integral dari tubuh Kristus yang berperan membentuk kesadaran dan praktik etika ekologis lintas generasi. Dengan demikian, Kristologi kosmik berkontribusi bagi reorientasi etika ekologis, dan keluarga Kristen berkontribusi untuk menghasilkan generasi yang memiliki orientasi etis-ekologis. Namun demikian, penelitian ini masih berfokus pada etika ekologis teologis-normatif, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut yang komprehensif berdasarkan dimensional yang lain. 
PEREMPUAN SEBAGAI PENGAJAR DAN PEMIMPIN DALAM KONTEKS PEREMPUAN INDONESIA MENURUT 1 TIMOTIUS 2:11-12 Harlinton Simanjuntak; Mariana Hadi; Jesyka Nofrianti Ambarita; Alva Gratia Fitrahoney Utomo
Jurnal Amanat Agung Vol. 22 No. 1 (2026): Jurnal Amanat Agung Vol. 22 No. 1 Juni 2026
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v22i1.721

Abstract

Penafsiran tradisonal terhadap 1 Timotius 2:11-12 kerap dipahami sebagai larangan permanen bagi perempuan untuk mengajar dan memimpin, sementara realitas sosial kontemporer di Indonesia memperlihatkan peningkatan signifikan partisipasi dan kontribusi perempuan dalam kepemimpinan publik maupun gerejawi. Ketegangan ini menuntut peninjauan ulang terhadap teks berdasarkan konteks historis dan dinamika sosial kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode riset literatur dengan pendekatan hermeneutika sosial, yang menganalisis konteks sosial-historis jemaat Efesus, masalah ajaran sesat, serta literatur kontemporer mengenai kepemimpinan perempuan. Kerangka teologis imago dei digunakan sebagai landasan evaluatif terhadap relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larangan Paulus bersifat situasional dan diarahkan pada penyalahgunaan otoritas yang muncul dalam konteks penyebaran ajaran sesat, bukan pada kapasitas perempuan secara ontologis. Melalui pembacaan logika terbalik, teks ini menyiratkan pengakuan Paulus terhadap kemampuan kepemimpinan perempuan apabila dijalankan secara tertib, bertanggung jawab, dan selaras dengan kesalehan hidup. Penelitian menyimpulkan bahwa 1 Timotius 2:11-12 tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak kepemimpinan perempuan secara universal. Dengan demikian, partisipasi perempuan dalam kepemimpinan gerejawi memiliki legitimasi biblis ketika didukung oleh kompetensi, karakter, dan kedewasaan rohani, serta konsisten dengan prinsip imago dei sebagai dasar relasi kepemimpinan yang setara.
Krisis Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Etis-Teologis dalam Bencana Ekologis Sumatera Harlinton Simanjuntak
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v4i1.62

Abstract

Abstract: The ecological disaster that occurred in Aceh, North Sumatra, and West Sumatra in November 2025 revealed an ethical-theological crisis in political leadership practices in Indonesia. The narrative friction between the government and the community, as well as various controversial legal and political policies, form the background of this study. Using a literature-based research method grounded in Colossians 3:17 and a social hermeneutic approach, this study analyses the socio-legal-political dynamics behind these disasters in relation to moral responsibility in governance. The results of the study reveal five main issues: deforestation and environmental destruction, weak disaster risk mitigation, problems with environmental law enforcement, unpreparedness and lack of responsiveness in disaster management, and ineffective and irrelevant public communication. These findings confirm that the ecological crisis in Sumatra is not merely a natural phenomenon, but a manifestation of leadership failure. A comprehensive evaluation of natural resource management is needed to realise environmental policies that are fair, sustainable, and in line with the principles of ethical-theological responsibility. Abstrak: Bencana ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 memperlihatkan adanya krisis etis-teologis dalam praktik kepemimpinan politik di Indonesia. Friksi narasi antara pemerintah dan masyarakat serta berbagai kebijakan hukum dan politik yang kontroversial menjadi latar belakang penelitian ini. Melalui metodo riset literatur berbasis prinsip Kolose 3:17 dan pendekatan hermeneutika sosial, penelitian ini menganalisis dinamika sosial-hukum-politik di balik bencana tersebut dalam kaitannya dengan tanggung jawab moral dalam tata kelola pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan lima persoalan utama: deforestasi dan perusakan lingkungan hidup, lemahnya mitigasi risiko bencana, masalah penegakan hukuk lingkungan, ketidaksiapan dan ketidaksigapan penanggulangan bencana, serta komunikasi publik yang tidak efektif dan relevan. Temuan ini menegaskan bahwa krisis ekologis di Sumatera bukan sekadar fenomena alam, melainkan manifestasi dari kegagalan dalam kepemimpinan. Diperlukan evaluasi yang menyeluruh terhadap pengelolaan sumber daya alam untuk mewujudkan kebijakan lingkungan yang adil, lestari, dan sesuai dengan prinsip tanggung jawab etis-teologis
PERAN AYAH JARAK JAUH DALAM PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH: PENDEKATAN TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL BANDURA Harlinton Simanjuntak
Jurnal Pelayanan Pastoral Jurnal Pelayanan Pastoral (JPP) Vol. 6 No. 2 Oktober 2025
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UPPM), STP-IPI Malang.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/jpp.v6i2.716

Abstract

Indonesian society generally believes that an ideal marriage should be complemented by the presence of children, creating the expectation of a complete family. However, the complexity of human psychological development is established early in life and continues to evolve, particularly when children enter school age. At this stage, the presence of the father is one of the key factors influencing children's psychosocial development. Unfortunately, in various situations, fathers are not always physically present in their children's lives due to work-related reasons or specific circumstances. This study aims to formulate strategies for distant fathers' involvement in the development of school-age children using Albert Bandura's social learning theory approach. The study employs a qualitative method with a literature review approach through thematic analysis, examining Erikson's and Bandura's theories as well as relevant literature. The results of the study indicate that distant fathers can still play an active role as learning models for children through three main strategies: (1) intensive interaction and communication, (2) emotional validation and appreciation, and (3) teaching patience and empathy. In conclusion, despite physical separation, fathers can still build meaningful involvement through communication technology. These findings contribute significantly to enriching the scientific discourse on the role of fathers in parenting and can serve as a practical reference for Indonesian families facing similar realities.
Studi Komparatif Gotong Royong dan Bastazete: Peran Gereja Lokal dalam Mengatasi Kemiskinan di Kepulauan Nias Harlinton Simanjuntak; Anastasya Laoli; Fioli
Jurnal Teologi Pambelum Vol 5 No 2 (2026): Teologi Transformatif dan Peran Gereja dalam Membangun Masyarakat yang Inklusif,
Publisher : Unit Penerbitan Informasi dan Teknologi Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59002/jtp.v5i2.141

Abstract

Poverty in Indonesia, particularly in Nias, is a complex issue related to access to education, unemployment, and access to the workforce. These four aspects are interrelated, forming a complex cycle that is difficult to break. This study aims to identify the role of the local church in poverty alleviation in Nias through the integration of Christian values, particularly based on the principle of bastazete in Galatians 6:2, with the culture of mutual cooperation that is deeply rooted in Indonesian society. A comparative theological-anthropological study has never been conducted before, creating an opportunity to explore how the integration of theology and anthropology can drive the church's role in addressing social issues within society. Using a comparative-integration approach, this study found that the local church in Nias has strategic potential to become an agent of change through education and community empowerment programmes based on Christian values and the culture of mutual cooperation. This integration not only offers practical solutions to poverty but also strengthens the role of the church in the local and even global context. Practically, this research contributes conceptual frameworks for local churches to become agents of change through theological and practical approaches.
Kepemimpinan Transposisional Paulus sebagai Tawaran Etis-Teologis bagi Kepemimpinan Politik di Indonesia: Analisis 1 Korintus 9:19-23 Harlinton Simanjuntak
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 1 (2025): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i1.59

Abstract

Dinamika sosial-politik Indonesia memperlihatkan model kepemimpinan yang cenderung kehilangan dimensi etisnya – termanifestasi dalam bentuk kepemimpinan yang nir-empati, bersifat lip-service, berorientasi pada kepentingan partikular, dan menimbulkan krisis kepercayaan publik. Realitas ini menegaskan perlunya transformasi paradigma kepemimpinan nasional. Penelitian ini menggunakan metode riset literatur dengan pendekatan hermeneutika sosial untuk menganalisis prinsip-prinsip kepemimpinan transposisional Paulus berdasarkan analisis terhadap 1 Korintus 9:19–23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga prinsip etis-teologis yang menandai kepemimpinan transposisional Paulus, yaitu pelayanan, empati, dan integritas. Ketiga prinsip ini berakar pada teologi inkarnasi Kristus yang menampilkan inkarnasi sebagai inti dari kepemimpinan sejati. Dengan demikian, kepemimpinan transposisional Paulus memberikan kontribusi teologis-etis bagi rekonstruksi paradigma kepemimpinan Indonesia menuju model kepemimpinan yang melayani, partisipatif, dan berintegritas sebagai manifestasi kemerdekaan mengabdi bagi orang lain.