Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evektivitas Pelaksanaan Program Tahfidz dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Santri di Aceh Rizki, Muhammad; Fildzah, Cut Nur Nabilah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.25729

Abstract

Penelitian ini fokus untuk mengetahui bagaimana efektivitas pelaksanaan program tahfidz dalam meningkatkan kemampuan menghafal Al-Qur’an santri di Aceh Besar. Adapun yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana proses pelaksanaan program tahfidz, bagaimana kompetensi dan profesionalisme ustadz-ustadzah dan apa saja kendala dalam pelaksanaan program tahfidz terhadap peningkatkan kemampuan menghafal Al-Qur’an para santri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan Analisis deskriptif, adapun metode yang digunakan adalah studi komparatif. Hasil Penelitian ini merupakan; 1). Pada Ma’had Daarut Tahfidz waktu pelaksanaan dilakukan setelah subuh dan waktu dhuha, sedangkan pada Dayah Insan Qurani dilaksanakan setelah subuh dan setelah shalat Ashar. Materi capaian target semester pada Ma’had Daarut Tahfidz Al-Ikhlas sebanyak 6 juz, sedangkan di Dayah Insan Qurani sebanyak 5 juz. 2). Kriteria pengajar pada Dayah Insan Qurani ustadz-ustadzahnya tidak wajib 30 juz, namun akan ditempatkan pada kelas yang sesuai dengan jumlah hafalan santri. Sedangkan pada Ma’had Daarut Tahfidz bagi pengajar tahfidz wajib memiliki hafalan 30 juz. Penerapan metode, Ma’had Daarut Tahfidz Al-Ikhlas memberlakukan metode Pakistani, sedangkan pada Dayah Insan Qurani menerapkan metode Talaqqi. 3). Kendala dalam pelaksanaan program yaitu; motivasi orang tua, pemilihan teman bermain dan rutinitas yang sama setiap harinya sehingga membawa kejenuhan. Dari hasil temuan pada Ma’had Daarut Tahfidz teman bermain sangat berpengaruh sedangkan pada Dayah Insan Qurani mengaku tidak begitu berpengaruh.
INTEGRATING CAPACITY-BASED MITIGATION PARADIGMS AND SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) INTO RESILIENT URBAN SPATIAL PLANNING : A CASE STUDY OF THE NOVEMBER 2025 HYDROMETEOROLOGICAL CRISIS IN LANGSA CITY Fildzah, Cut Nur Nabilah; Wulandari, Elysa; Rizki, Muhammad; Nabila, Selyana
Indonesian Journal of Environmental Sustainability Vol. 3 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Center for Environmental Studies, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ijes.v3i2.9531

Abstract

Langsa City faces escalating challenges from hydrometeorological disasters that threaten socio-economic stability, as evidenced by the extreme flooding event on November 26, 2025. This study aims to formulate an integration model between local spatial planning policies (RDTR/RTRW) and capacity-based disaster mitigation paradigms within the Sustainable Development Goals (SDGs) framework, specifically Goal 13 (Climate Action). Employing a descriptive qualitative method with a spatial approach, this research identifies infrastructure vulnerabilities and socio-economic impacts across five districts. Spatial analysis reveals that rice field land cover in Langsa dropped from 2,410 hectares in 2012 to 1,925 hectares in 2025, representing a significant loss of natural water retention. Analysis of the November 26, 2025, event reveals spatial anomalies where floodwaters encroached into zones previously categorized as "low risk," indicating a systemic dysfunction of infiltration systems due to uncontrolled land conversion. Despite the Qanun RTRW mandate for 30% Green Open Space (RTH), field implementation is hindered by limited indigenous engagement in autonomous mitigation. This article recommends a drainage network engineering strategy integrated with Gampong Social Capital specifically institutional trust in Geuchik and Tuha Peut as a sustainable urban resilience solution. These findings contribute to the global urban resilience literature by emphasizing the empowerment of the smallest community units as a mitigation basis in developing nations.