Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tafsir Maqashidi dalam Tafsir Nazm Al-Durar Fi Tanasub Al-Ayat Wa Al-Suwar Karya Burhanuddin Al-Biqa’i Kharisma, Siti Nur Lutfiyatul; Firdaus, Shellen Salsabilla Amilya; Yardho, Moh.
AL-KAINAH: Journal of Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2024): Al-Kainah: Journal of Islamic Studies
Publisher : Institute for Research and Community Services (P3M), The Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Miftahul Huda in Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69698/jis.v3i2.752

Abstract

Al-Biqa’i merupakan seorang mufasir abad pertengahan yang banyak berkontribusi dalam dunia intelektual dan telah menghasilkan sebuah karya fenomenal yakni kitab Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar. Tafsir maqashidi seiring berjalannya waktu terus mengalami perkembangan pada setiap masanya, dan dalam perkembangannya tidak luput dari peran para mufasir yang telah berperan aktif memberikan pemikirannya dalam menggali kandungan dan tujuan-tujuan dalam al-Qur’an Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui lebih lanjut mengenai corak yang digunakan oleh al-Biqa’i, artikel ini membahas bagaimana corak maqashidi dalam tafsir Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar karya al-Biqa’i. Penelitian menggunakan jenis penelitian pustaka atau library research. Penelitian pustaka adalah tenik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Library research juga merupakan kategori dari bentuk pendekatan kualitatif, yakni sebuah penelitian yang lebih menggunakan analisis secara mendalam berdasarkan data-data yang telah diperoleh. Pendekatan ini memberi kemungkinan kepada penulis untuk mengkaji secara mendalam dan mampu menjabarkan topik yang diteliti berdasarkan data yang telah dikumpulkan.Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Kitab tafsir karya Burhan al-Din al-Biqa’i yang diberi judul Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar menitikberatkan terkait aspek munasabah dalam al-Qur’an. Munasabah yaitu hubungan keterkaitan antar isi suatu surah dan penempatan urutannya dalam al-Qur’an. Al-Biqa’i juga menggunakan pendekatan maqashidi dalam kitab tafsirnya untuk menjelaskan munasabah dari tiap-tiap surah dalam al-Qur’an. Al-Biqa’i menemukan maqashid dari setiap surah dengan memahami isi surah tersebut kemudian menggunakannya untuk menjelaskan munasabah surah tersebut. Adapun pendekatan maqashidi dalam kitab tafsirnya yakni menggunakan maqashid surah-surah al-Qur’an
The Transmission Network of Qirā’āt Knowledge: The Genealogy of the Sanad of Arab-Indonesian Scholars and the Dominance of the Riwayat Hafs in National Standardization Kharisma, Siti Nur Lutfiyatul; Muhammad Fathur Rozaq
Jurnal test Vol 5 No 1 (2026): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58363/alfahmu.v5i1.743

Abstract

This article examines the historical transmission networks of qirāʾāt (Quranic recitation variants) from Arab centers to contemporary Indonesia through a socio-historical and network analysis framework. Utilizing Azyumardi Azra’s ulama network theory and Harald Motzki’s common link methodology, this study investigates why Ḥafṣ ʿan ʿĀṣim became nationally standardized while other readings persist in specialized communities. Through library research on classical manuals (al-Shāṭibiyyah, al-Ṭayyibah), prosopographical analysis of Indonesian qurrāʾ (Aceh, Banten, Java), and document examination of curricula, mushaf standardization, and digital pedagogy, data are analyzed descriptively, critically, and comparatively to map transmission phases, nodes, and flows. Findings reveal that transmission operates through multi-layered mechanisms: face-to-face (talaqqī–musyāfahah), institutional ecosystems (pesantren, LPTQ/JQH), and material regimes (printing, competitions, curricula). Ḥafṣ dominance emerges from the convergence of dense personal isnād chains, twentieth-century print standardization, and curricular alignment, while Warsh and Qālūn persist as advanced specializations. This study introduces “institutional isnād” as a concept linking personal chains with policy and publishing systems, and proposes an evolutionary timeline from early codification to digital re-globalization, offering implications for multi-qirāʾāt curriculum design and teacher certification frameworks.