p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal FARMASAINKES
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK DAN KANDUNGAN METABOLIT SEKUNDER TUMBUHAN ENDEMIK KAYU RARU (Cotylelobium lanceolatum Craib) Daulay, Anny Sartika; Ridwanto; Ihsan Fadhilah; Nasution, Haris Munandar
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 4 No. 2 (2025): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/farmasainkes.v4i2.4236

Abstract

Tanaman raru (Cotylelobium lanceolatum Craib) berasal dari familia Dipterocarpaceae. Kulit kayu raru diyakini oleh masyarakat daerah Sumatera Utara sebagai bahan yang memiliki kandungan senyawa yang berkhasiat sebagai antidiabetes yang dapat menurunkan kadar gula didalam darah. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan karakteristik dan kandungan metabolit sekunder ekstrak etanol dan methanol kulit kayu Raru (Cotylelobium lanceolatum Craib) sebagai langkah awal dalam penentuan senyawa kimia bahan alam yang berkhasiat obat anti diabetes. Dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi makroskopik. Kemudian dilakukan ekstraksi pada sampel simplisia dengan metode maserasi. Variasi pelarut yang digunakan adalah etanol 96%, 70%, 50% dan metanol 95%, 70%, dan 50%. Karakterisasi terhadap organoleptis dilakukan pada kulit kayu raru segar dan simplisia. Pengujian metabolit sekunder dilakukan pada hasil ekstrak etanol dan metanol. Karakteristik organoleptis kulit kayu raru (Cotylelobium lanceolatum Craib) segar adalah : Bentuk Kulit silinder, tekstur keras dan tebal berkisar 3 mm; Berwana Coklat kehitaman; berbau khas kayu pada umumnya; Rasa: sangat pahit. Sedangkan simplisia kulit kayu raru yaitu berbentuk serbuk halus; Berwarna coklat kemerahan; berbau khas; Rasa sangat pahit. Hasil Skrining Fitokimia Simplisia dan ekstrak kulit kayu raru dilakukan untuk menentukan metabolit sekunder. Pada Serbuk simplisia dengan pelarut metanol dan Ekstrak metanol keduanya mempunyai kandungan metabolit sekunder yang sama yaitu: (+) Alkaloid, (+) Flavonoid, (+) Saponin, (+) Tanin, (+) Steroid/triterpenoid dan (-) glikosida. Sedangkan Ekstrak Etanol kulit kayu raru yaitu (-) Alkaloid, (+) Flavonoid, (+) Saponin, (+) Tanin, (+) Steroid/triterpenoid dan (-) glikosida. Ekstrak kulit kayu raru dengan pelarut methanol mengandung metabolit sekunder yang lengkap termasuk alkaloid tetapi tanpa glikosida.
PENENTUAN KADAR ALKALOID EKSTRAK KULIT KAYU RARU SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT NON POLAR Anny Sartika Daulay; Sri Wahyuni; Ridwanto; Ihsan Fadhilah; Shakila Salwa
JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 6 No. 1 (2026): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/farmasainkes.v6i1.6822

Abstract

Kulit kayu raru yang memiliki senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar alkaloid dalam ekstrak Kulit Kayu Raru (Cotylelobium lanceolatum Craib) dengan pelarut etanol dan metanol serta menentukan aktivitas antibakteri isolat dengan pelarut non polar. Penelitian yang dilakukan meliputi ekstraksi simplisia kulit kayu raru dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dan metanol. Ekstrak yang dihasilkan diekstraksi cair-cair dengan pelarut kloroform untuk mendapatkan isolat alkaloid. Kemudian isolat diuji aktivitasnya terhadap uji antibakteri. Penelitian ini merupakan fundamental yang direncanakan dilakukan dalam satu tahun dan merupakan kelanjutan penelitian tahun sebelumnya. Penelitian ini menggunakan dana internal Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Adapun Tingkat Kesiapan Teknologi dalam penelitian ini adalah 2. Hasil penelitian ini adalah senyawa alkaloid dari ekstrak kulit kayu raru dapat difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair pelarut kloroform. Hasil fraksinasi diidentifikasi menggunakan spektroskopi FT-IR hasil identifikasi mengandung gugus fungsi N-H, C-N, C=O, C=C Aromatik, dan C=O Tajam, yang menandakan teridentifikasi mengandung senyawa alkaloid. Kadar senyawa alkaloid ditentukan dengan Spektrofotometri UV, fraksi kloroform ekstrak etanol dan metanol masing-masing adalah 18,9491± 0,09222956, dan 21,0325 ± 0,098274937 µg/g. Fraksi alkaloid ekstrak kulit kayu raru memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan zona hambat terbaik yaitu konsentrasi 50%