Program Tahfidz dan Tahsin adalah langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman Al-Qur’an, tetapi implementasinya di berbagai lembaga seringkali menemui hambatan seperti motivasi yang rendah, disiplin yang kurang, serta metode pembelajaran yang tidak selalu cocok dengan kebutuhan para peserta. Secara rasional, program ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk menanggapi tingginya angka buta huruf Al-Qur’an di Indonesia, sehingga lembaga seperti MDQ berupaya menyediakan lingkungan belajar yang terarah, sistematis, dan mampu menjembatani kesenjangan kemampuan membaca serta menghafal Al-Qur’an pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai seberapa efektif Program Tahfidz dan Tahsin di Markaz Dirasah Qur’an (MDQ) dengan menggunakan Model Countenance Stake yang mengevaluasi tiga komponen penting, yaitu antecedents, transactions, dan outcomes. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yang meliputi observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen dengan melibatkan pemimpin lembaga, guru, siswa, dan orang tua murid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam aspek antecedents, MDQ memiliki kualifikasi pengajar yang memadai, kurikulum yang terstruktur, serta metode pengajaran yang fleksibel, meskipun terdapat keterbatasan fasilitas akibat status bangunan yang belum sepenuhnya diwakafkan. Di bagian transactions, proses pembelajaran berlangsung terorganisir melalui tahsin, pratahfidz, dan tahfidz, disertai evaluasi rutin seperti mutaba’ah, tasmi’, dan ujian semester. Tantangan utama yang dihadapi mencakup ketidakkonsistenan kehadiran, motivasi siswa, serta bentrok jadwal dengan pendidikan formal. Dalam aspek outcomes, program ini terbukti efektif dalam meningkatkan penghafalan dan mutu bacaan siswa, bahkan banyak peserta yang melebihi target hafalan minimal tiga juz, serta menunjukkan perubahan positif dalam kedisiplinan ibadah dan sikap religius. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan fasilitas, strategi motivasi yang lebih beragam, memperkuat kolaborasi dengan orang tua murid, serta penambahan jumlah tenaga pengajar agar pelaksanaan program dapat lebih optimal dan berkelanjutan.