Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Modeling of Forest and Land Fires Risk Level and Zone Using GIS in Kapuas Tengah Sub Basin, West Kalimantan Province Iin Arianti; Naik Sinukaban; I Nengah Surati Jaya
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 13 No. 2 (2007)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the last 2 decades, forest and land fires in Indonesia have become a serious problem at national, regional, and even international levels. The smoke of the fires gave a negative impact on human activities and health and in turn coused economical and social loss. In addition, the haze pollution has become a serious problem internationally. This study was conducted to establish a risk model of forest and land fire in Kapuas tengah watershed, Kalimantan Barat Province. The model was based on scoring and weighting of bio-phisycal and human activity factors. Rangking method and Composite Mapping Analysis (CMA) were used to establish the model. The result showed that the accuracy of model by ranking method to determine the risk level and zone of forest and land fire was only 62,4% in Kapuas Tengah watersheed. Therefore, the model was not good enough to represent actual condition in the field. The accuracy of model using CMA method could be used to determine risk level and zone of forest and land fire. The CMA method showed that the Kapuas Tengah watershed consisted of 1,051,029.4 ha high risk, 379,307.0 ha of moderate and 195,010.7 ha of low vulnerable. The risk map can be used for early warning system to prevent forest and land fires.Keywords: forest and land fires, composite mapping analysis, rangking method, fire risk map
PERKEMBANGAN KOTA BERBASIS PERAIRAN DI PONTIANAK Ely Nurhidayati; Iin Arianti
Jurnal Ilmiah Arsitektur Vol 11 No 1 (2021): Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jiars.v11i1.1578

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lansekap didominasi oleh laut, pesisir, sungai dan kanal sehingga dapat disimpulkan bahwa sejarah peradaban Indonesia berdasarkan pada budaya maritim dan asal mula perkembangannya berbasis pada perairan. Beberapa pulau berkembang menjadi kota-kota besar yang berbasis perairan menjadi faktor pendorong pengembangan suatu kota. Hal yang menarik adalah Pontianak sebagai kota air (waterfront city) memiliki 42 sungai dan kanal dengan posisi kota terletak pada persimpangan dua sungai besar yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang menjadi cikal bakal lahirnya Pontianak pada tahun 1771. Penelitian ini menggunakan interpretasi citra satelit, pengolahan gambar data, dan pendekatan penginderaan jauh. Sumber peta berasal dari citra landsat masing-masing tahun 1978, 1989, 2000 dan 2015. Penelitian ini menyajikan perkembangan eksisting dan guna lahan yang berkembang dari tahun 1978 sampai 2015. Hasil analisis interpretasi citra menunjukkan perkembangan guna lahan pada awalnya berkembang mulai dari posisi persimpangan triangle Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang merupakan asal terbentuknya permukiman pertama. Kemudian berkembang secara merata ke berbagai wilayah daratan di Pontianak. Analisis interpretasi citra juga menunjukkan perkembangan guna lahan yang berkembang mengikuti mengikuti pola aliran sungai dan jaringan jalan, hal tersebut merupakan indikator ekspansi perkembangan guna lahan ke wilayah ke daratan.
Spatial Modeling of Flood-Vulnerability as Basic Data for Flood Mitigation Iin Arianti; Muhammad Rafani; Nurul Fitriani; . Nizar
Civil Engineering Journal Vol 9, No 4 (2023): April
Publisher : Salehan Institute of Higher Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28991/CEJ-2023-09-04-02

Abstract

Identifying risks in flood-prone areas is necessary to support risk management decisions. This research was conducted to establish a vulnerability model of flood hazards in the city of Pontianak. The model was based on the scoring and weighting of biophysical factors. The AHP method and logical formulations were used to establish the model. The result showed that the accuracy of the model used by AHP to determine the vulnerability of floods was 80% in Pontianak City. The accuracy of the model using logical formulations to determine the vulnerability level of a flood was 84%. The Kappa accuracy value in model 1 is 76.7%. The model of flood vulnerability explains that most of Pontianak City has a very high level of flood vulnerability, which is 31,440,568.8 m2 or 29.11% of the total research area of 108,003,319.8 m2. The vulnerable area is 29,945,485.7 m2 or 27.73%, and the less safe area is 22,126,936.3 m2 or 20.49%, with the safe area being 24,490,328.7 m2or 22.67% of the total area. This research contributes to the government to establish policies regarding flood management and urban development in the future, and as an effort to mitigate against flooding. Doi: 10.28991/CEJ-2023-09-04-02 Full Text: PDF
Modal Sosial dan Ketahanan Kota Tepi Air di Pontianak Ely Nurhidayati; Iin Arianti
SPECTA Journal of Technology Vol. 5 No. 3 (2021): SPECTA Journal of Technology
Publisher : LPPM ITK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.546 KB) | DOI: 10.35718/specta.v5i3.385

Abstract

Masyarakat yang bermukim di tepi air Kota Pontianak, masyarakat telah hidup berdampingan dengan sungai hingga saat ini. Sehingga masyarakat beranggapan bahwa air pasang (besar/tinggi) bukanlah bagian dari bencana. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menemukenali modal sosial yang membentuk ketahanan kota tepi air. Sasaran penelitian ini yaitu megidentifikasi kerentanan di kawasan dan menemukenali modal sosial. Pendekatan penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan jenis data primer dan sekunder. Adapun data tersebut yaitu kuesioner, wawancara, observasi lapangan dan telaah dokumen. Hasil penelitian ini yaitu kerentanan bencana di kawasan tepi air Kota Pontianak seperti risiko genangan, pasang surut sungai, kekeringan, risiko kerusakan bangunan rumah tinggal, dan risiko kebakaran. Hal tersebut menimbulkan modal sosial yang diwujudkan dalam bentuk nilai kearifan lokal, adaptasi dan mitigasi, serta ketahanan masyarakat. Hal tersebut didukung dengan adanya aktivitas masyarakat dalalm lokasi penelitian ini adalah interaksi antar masyarakat dan tentang rasa kekeluargaan antar sesama dan turut ikut jika ada kegiatan gotong royong di masyarakat sekitar.