Dewi Ulfah
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

"Belenggu Emas" sebagai Pergulatan Identitas Perempuan dalam Konteks Kolonial: Analisis Sara Mills Dewi Ulfah; Anwar Efendi; Hartono Hartono
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i2.5571

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi perempuan dalam konteks kolonial menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) Sara Mills. Selama ini identitas perempuan terjebak dalam narasi patriarkal dan norma-norma gender yang mengekang. Fokus penelitian ini yaitu 1) mengkaji cara perempuan digambarkan, baik sebagai subjek dan objek penceritaan dalam teks. 2)mengkaji cara penceritaan penulis kepada pembaca yang mempengaruhi konstruksi identitas perempuan dalam teks. Data dan sumber data dalam penelitian ini berupa kosa kata, klausa atau kalimat, yang berkaitan dengan identitas perempuan, norma-norma gender, dan konteks sosial politik masa kolonial yang ada dalam cerpen Belenggu Emas karya Iksana Banu. Penelitian ini juga akan melibatkan kajian literatur untuk memahami konteks historis dan teori gender yang relevan untuk mendalami konsep gender dan wacana. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik baca dan teknik catat. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu, 1) kondensasi data, 2) penyajian data, 2) penarikan kesimpulan atau verifiaksi. Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan digambarkan sebagai subjek sekaligus objek penceritaan. Dalam cerpen yang diteliti menunjukkan, 1) perempuan mengalami dualitas identitas mengakibatkan konflik internal dan ekternal sehingga perempuan sering terjebak dalam narasi patriarkal. 2) Adanya gerakan untuk menciptakan ruang bagi diri mereka sendiri dan kelompoknya dengan pendidikan dan keterampilan. 3) Adanya keberanian untuk menolak hierarki kekuasaan yang menciptakan ketidaksetaraan. Selain itu, dalam penelitian ini penulis juga berusaha untuk memberi kesadaran kepada pembaca mengenai tantangan-tangangan yang dihadapi perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan di masa kolonial dan saat ini. Dengan demikian melalui penelitian ini, masyarakat lebih peka terhadap isu gender serta dapat membuka ruang bagi kebijakan yang lebih sensitif gender
The Personality Dynamics of the Main Character in the Novel Rara Mendut by Y.B. Mangunwijaya Dewi Ulfah; Anwar Efendi
RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 19, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/retorika.v19i1.81861

Abstract

This study aims to analyze the personality dynamics of Rara Mendut, the main character in Y.B. Mangunwijaya’s novel Rara Mendut, through Sigmund Freud’s psychoanalytic perspective. It focuses on three interrelated aspects: life and death instincts, forms of anxiety, and ego defense mechanisms. This research uses a descriptive qualitative method with psychoanalytic literary criticism as the analytical approach. The primary data source is the novel Rara Mendut, while secondary data are obtained from relevant psychoanalytic and literary studies. Data were collected through close reading and note-taking techniques, then classified according to Freudian categories of instincts, realistic anxiety, neurotic anxiety, moral anxiety, and defense mechanisms. The findings show that Rara Mendut’s personality is shaped by the tension between Eros and Thanatos. Eros appears in her desire for love, freedom, dignity, and self-preservation, whereas Thanatos emerges in moments of despair, anger, and self-endangering resistance. Her anxiety arises from external domination, inner conflict, and moral pressure produced by feudal-patriarchal power. To manage these pressures, Rara Mendut employs several defense mechanisms, including rationalization, denial, regression, and sublimation. The study concludes that Rara Mendut is represented not merely as a rebellious woman, but as a psychologically complex subject negotiating desire, fear, honor, and power. The implication of this study is that Freudian psychoanalysis can enrich the interpretation of Indonesian literary characters by revealing the inner psychological consequences of social domination and by strengthening psychologically oriented approaches to gendered literary resistance studies.