Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bagaimana Paritta Melawan Penyakit? Studi Kajian Pustaka Buddhologi Karniawan, Majaputera; Sutrisno, Sutrisno; Acep, Lauw
Jurnal Ilmu Agama dan Pendidikan Agama Buddha Vol. 4 No. 1 (2022): JIAPAB Vol. 4 No. 1 Maret 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA DHARMA WIDYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diyakini pasien yang mendapatkan bimbingan dan dukungan rohani Keagamaan Buddhadengan pembacaan Paritta dikala sakit memiliki peluang sembuh lebih tinggi, namun ada yangsembuh dan tidak sembuh setelah dibacakan Paritta. Tujuan penelitian ini mencari tahu apakahmanfaat pembacaan Paritta bagi mengatasi penyakit secara Buddha Dhamma. Metode kajianpustaka dengan teknik analisa pararelisasi sutta-sutta (Mah?padessa) ataupun kanon-kanonliteratur lainnya digunakan sebagai pisau analisa. Hasilnya didapati sepuluh hal yang membuatkekuatan Paritta sebagai obat bekerja: (1) Mengandung pernyataan kebenaran (Saccakiriya),(2) Keyakinan (Saddh?), Moralitas (S?la), (4) Cinta kasih (Mett?), (5) Kebenaran (Sacca), (6)Pelafalan dan hafal (V?c?), (7) Pembaca dan yang dibacakan tidak dalam pengaruh limarintangan batin (PaƱca N?vara??), (8) Tidak ada halangan karena Perbuatan masa lalu(Kamm?-vara?ena), Halangan karena kekotoran batin masa kini (Kiles?-vara?ena), ataupunhalangan karena kurangnya keyakinan (Asadda-hanat?ya). (9) Menyimak kemudianmerasakan perasaan gembira (Attamana) ketika dan setelah Paritta dibacakan, (10) Harusdilafalkan atau ada mahluk yang melafalkan.
Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI): Urgensinya Mendukung Lembaga Pendidikan Formal Buddhis sebagai Nibaddha Kusala Majaputera Karniawan; Sutrisno Sutrisno; Srie Muldrianto
Dhammavicaya : Jurnal Pengkajian Dhamma Vol. 8 No. 1 (2024): Dhammavicaya : Jurnal Pengkajian Dhamma
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/dhammavicaya.v8i1.1642

Abstract

Since Dhammacakka (599BCE/528BCE) to its golden era (450-1193CE), the development of Buddhism cannot be separated from the role of the world of education, but the spirit of Buddhist support for the development of formal education is not sustainable in the 21st century. The phenomenon that occurs in Indonesia is that Buddhists build more places of worship (monasteries/cetiya/arama) than formal educational institutions with a percentage reaching 10:1000. This study aims to determine the perspective of the Indonesian Theravada Buddhist Family (KBTI) in seeing the importance of supporting formal Buddhist educational institutions as a field of empowerment that is continuously rewarding (Nibaddha Kusala). Qualitative methods with historical descriptive analysis and heuristics were chosen to find meaning in the form of historical data on the development of Buddhist education, then triangulated with data from interviews with KBTI member organizations. The results of this study indicate that all KBTI member organizations consider formal educational institutions to be an important thing to support, but there is still room for apathy and a lack of integration with each other in supporting formal Buddhist educational institutions.