Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Stabilitas Lereng Menggunakan Metode RMR dan SMR di Daerah Malanu, Distrik Sorong Utara, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya Mayzarah, Erikha Maurizka; Padendenan, Hardus; Wiratama, Rana; Tandirerung, Restu
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 26 No. 1 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v26i1.805

Abstract

Kondisi lereng pada kawasan tambang batuan di Daerah Malanu, Distrik Sorong Utara, Kota Sorong sangat menarik, karena terdapat rekahan-rekahan yang kemungkinan menyebabkan lereng berada dalam kondisi tidak stabil dan berpotensi menimbulkan bencana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas massa batuan, tingkat kestabilan lereng, dan upaya perkuatan lereng, sehingga dapat memberikan informasi kepada instansi terkait dan masyarakat mengenai kondisi lereng tersebut. Metode yang digunakan adalah scanline sampling, analisis RMR, analisis SMR, dan analisis kinematik. Dari hasil analisis, didapatkan bahwa lereng 1 memiliki nilai RMR 65 (baik), tipe runtuhan guling, dan nilai SMR 65 (stabil), lereng 2 memiliki nilai RMR 67 (baik), tipe runtuhan baji, dan nilai SMR 59,5 (stabil sebagian), lereng 3 memiliki nilai RMR 63 (baik), tipe runtuhan bidang, dan nilai SMR 57 (stabil sebagian), lereng 4 memiliki nilai RMR 63 (baik), tipe runtuhan bidang, dan nilai SMR 13 (sangat tidak stabil), serta lereng 5 memiliki nilai RMR 60 (sedang), tipe runtuhan guling, dan nilai SMR 60 (stabil). Rekomendasi perkuatan yang disarankan oleh Romana (1985) adalah perkuatan (IIb) untuk lereng 1, perkuatan (IIIa) untuk lereng 1,2, dan 5, serta perkuatan (Va) untuk lereng 4. Kata kunci: Massa Batuan, Kestabilan lereng, Scanline, RMR, SMR  
Karakteristik Petrologi dan Petrografi Satuan Batugamping Formasi Klasaman di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya Randa, Angelina Majesty; Harahap, Meriana G. M.; Patandianan, Eric A.; Tandirerung, Restu; Koibur, Yosua
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1224

Abstract

Lokasi penelitian batugamping berada di Daerah Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Batugamping Formasi Klasaman termasuk ke dalam Cekungan Salawati yang mempunyai karakteristik litologi yang beragam sehingga menarik untuk dilakukan pengamatan baik secara langsung ataupun secara mikroskopis. Penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan informasi terkait komposisi penyusun batugamping, karakteristik dan jenis-jenis batugamping, hingga interpretasi proses dan faktor pembentukan batugamping tersebut. Batugamping dari Formasi Klasaman memiliki karakteristik yang sangat menarik untuk dikaji, baik dari segi petrologi dan petrografi, sedimentologi, maupun kandungan fosil dan porositasnya yang berpotensi sebagai reservoir migas. Formasi ini terbentuk pada lingkungan laut dangkal hingga menengah, yang dipengaruhi oleh perubahan muka air laut dan aktivitas tektonik pada masa Tersier. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasi lapangan dan analisis sayatan tipis petrografi kemudian diidentifikasi secara spesifik pada sayatan tipis di bawah mikroskop polarisasi untuk melihat komposisi material penyusun batugamping, meliputi grain, matriks, maupun semen. Hasil pengamatan lapangan dan melalui pengamatan mikroskopis berupa sayatan tipis batuan yang diamati di bawah mikroskop polarisasi dapat diidentifikasi bahwa jenis batugamping pada daerah penelitian merupakan jenis batugamping Packstone dan Kristalin. Pada batugamping Packstone menunjukkan keterdapatan fosil foraminifera besar, tekstur grain-supported dengan kandungan matrik mikrit, dan pori antar butir masih jelas. Sedangkan Batugamping Kristalin sudah menunjukkan tekstur rekristalisasi penuh, antar butiran menyatu, matriks asal hampir tidak kelihatan.
Morphotectonic Identification of the Active Ransiki Fault Zone as a Source of Shallow Seismicity in South Manokwari, West Papua: Integrating Stream Length–Gradient Index and Lineament Analysis Tandirerung, Restu; Alzair, Nur
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 11 No. 1 (2026): Article in Press - JGEET Vol 11 No 01 : March (2026)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Ransiki area, which is in South Manokwari, West Papua, lies in a tectonically active transition zone related to the oblique convergence between the Indo-Australian and Pacific plates. Although shallow seismic activity has already been detected, the geometry and seismo-tectonic behavior of local fault structures have not been characterized yet. This work aims to explore the morphotectonic framework of the region by combining quantitative geomorphic indices and structural evidence. From 8–30 m resolution DEMNAS data multi-azimuth lineaments were extracted and Stream Length–Gradient Index (SLI) was derived on 42 river segments. The distribution of lineament density and SLI anomalies were correlated using Pearson coefficient and verified with field observation of fault scarps, triangular facets and slickensides. The results show relevant NNW–SSE lineaments (N330°-N340°E) having high local SLI values (>500) that are more concentrated in the eastern sector of Ransiki. Field evidences evidence envisage an active sinistral strike-slip deformation along this trend. These combined geomorphic- and structural-based indicators attest the actively deforming character of the Ransiki Fault Zone as a transpressional shear corridor that transfers deformation between the Sorong Fault System and the Arfak upliftement. The methodology applied in this case study offers an efficient tool to identify active faults in tropical regions with sparse geophysical ground data and provides valuable input for seismic hazard assessment in eastern Indonesia.