Wulansari, Herida
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Manajemen Pembiayaan Pendidikan di SMA Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin Wulansari, Herida; Widakdo, Bayu; Ulpa, Asiyatul; Maghfiroh, Ellien Lutfia; Heryannor, Heryannor; Alim, Imad Al; Nazid , Ahmad Rifqi; Riinawati, Riinawati
Pahlawan Jurnal Pendidikan-Sosial-Budaya Vol 21 No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Achmad Yani Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57216/pah.v21i1.959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pembiayaan pendidikan di SMA Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, dengan fokus pada tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembiayaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur, observasi langsung, dan dokumentasi. Penelitian dilakukan di SMA Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin dengan melibatkan kepala sekolah, ketua yayasan, serta staf terkait dalam pengelolaan keuangan sekolah. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perencanaan pembiayaan pendidikan di SMA Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin melibatkan berbagai pihak terkait dan mempertimbangkan sumber pendanaan dari dana BOS, iuran siswa, dan sumbangan orang tua. Rencana anggaran tahunan disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional, penggajian, dan pengembangan fasilitas, serta dilakukan secara transparan dan melibatkan yayasan dalam setiap tahapnya. Pelaksanaan anggaran dilakukan dengan sistem pencatatan yang terorganisir dan pengawasan yang ketat dari yayasan dan komite sekolah. Evaluasi terhadap penggunaan anggaran dilakukan setiap tahun dengan melibatkan pihak yayasan, komite sekolah, dan kepala sekolah, untuk memastikan penggunaan dana yang efektif dan efisien sesuai dengan rencana yang telah disusun. Transparansi dan akuntabilitas menjadi prinsip utama dalam setiap tahapan pengelolaan keuangan di sekolah ini.
Kitab Kuning of Shafi’i School in Teaching Fiqh at Pondok Pesantren in South Kalimantan amid Islamic Transnational Movement Muthmainnah, Inna; Rasyidi; Syaiful, Muhammad; Wulansari, Herida
Jurnal Pendidikan Islam Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Education, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpi.2025.142.377-392

Abstract

Purpose – In curriculum studies, teaching materials are fundamental components. In the context of Islamic education, especially in pondok pesantren, kitab kuning has long been the main reference, particularly in fiqh and uṣūl al-fiqh, that according to Bruinessen represents Shafi’i school. Yet in the last few decades, Islamic transnational movement that has introduced diverse schools of thought has entered Indonesia, potentially including the educational area. However, previous studies have not touched kitab kuning at pondok pesantren in particular. This study therefore examines whether Bruinessen’s finding regarding the dominance of Shafi’i school in fiqh and uṣūl al-fiqh remains valid at pondok pesantren in South Kalimantan or has shifted, especially concerning kitab kuning. Design/methods/approach – The study employed qualitative case study, with documentation and interview in data collection. Kyais and ustādhs at five pondok pesantren salafiyah, khalafiyah, and mixed across two regencies in South Kalimantan were involved. Miles’ and Huberman’s data analysis was followed while Lincoln and Guba’s trustworthiness in terms of triangulation of methods of data collection, sources of data, member checking, an audit trail, reflexivity, and thick description were used. Findings – The study concluded that salafiyah and mixed pondok pesantren continued to teach kitab kuning of the Shafi’i school as their teaching materials in fiqh and uṣūl al-fiqh. Although some new references were introduced, they were still in Shafi’i school. In addition, the kyais and ustādhs read kitab kuning from other schools, they did not teach them to their santris citing the absence of ijāzah, and to preserve Ahlussunnah wa al-jamā’ah. They studied those kitab kuning only for personal enrichment. At pondok pesantren khalafiyah, initially the santris studied fiqh from four schools of fiqh, however later they learnt solely Shafi’i school, as available ustadzs were trained in that school. Thus, Islamic transnational movement has not touched pondok pesantren’s teaching materials. Research implications – This study was limited to two regencies in South Kalimantan. For generalization, like Bruinessen’s research, broader study is required.