Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Strategi Kemenangan Ratu-Angga pada Pemilihan Kepala Daerah Sumba Barat Daya Tahun 2024 Vivin Kurniawaty T. Lunga; Yeftha Y. Sabaat; Philips Y.N. Ndoda
Terang : Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 2 No. 3 (2025): September : Terang : Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik dan Hukum
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/terang.v2i3.1276

Abstract

This study aims to analyze the winning strategy of the candidate pair Ratu Wulla and Angga Kaka in the 2024 Regional Head Election (Pilkada) of Sumba Barat Daya Regency. The main focus of this research is how the Ratu-Angga pair gained public support, particularly after Ratu Wulla's controversial decision to resign from her seat in the House of Representatives (DPR RI) to run for Regent. This research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation.The primary theoretical framework used is Adman Nursal’s 3P political marketing strategy, which includes Push Marketing, Pull Marketing, and Pass Marketing. The findings show that Push Marketing, through face-to-face campaigns and social activities, succeeded in building emotional ties with the community. Pull Marketing effectively utilized social media to reach younger voters. Meanwhile, Pass Marketing was carried out by involving traditional leaders, religious figures, women, and youth who hold strong influence in society. These three strategies were applied synergistically and proved effective in transforming negative public perception of Ratu Wulla resignation into significant political support.The victory of the Ratu-Angga pair, with 49.03% of the valid votes, indicates the success of an inclusive, adaptive, and locally responsive political communication strategy. This research contributes significantly to the understanding of voter behavior dynamics and campaign strategies in the context of local politics in Indonesia.
Dinamika dalam Kepemimpinan Desa : Studi pada Rektrumen Aparatur Desa, di Desa Weseben Kabupaten Malaka Sarci Aurelia Tibultali; Yeftha Yerianto Sabaat; Diana S.A Natalia Tabun; Frans B.R Humau
Sosial Simbiosis : Jurnal Integrasi Ilmu Sosial dan Politik Vol. 2 No. 4 (2025): November: Sosial Simbiosis : Jurnal Integrasi Ilmu Sosial dan Politik
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/sosial.v2i4.2555

Abstract

This study, entitled "Dynamics in Village Leadership (A Study of Village Apparatus Recruitment in Weseben Village, Malaka Regency)," aims to analyze the leadership style of village heads in the apparatus recruitment process, uncover the growing practices of patronage and clientelism, and examine their implications for the implementation of good governance principles at the village level. Theoretically, this research is based on village leadership theory, patronage-clientelism theory, and the concept of good governance, which emphasizes the values ​​of transparency, accountability, and public participation in village governance.The method used was a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews with village heads, village officials, traditional leaders, members of the Village Consultative Body (BPD), and the community, and was supported by field observations and documentation studies. The results indicate that: (1) the leadership style of village heads in Weseben is dominant and personalistic, with the village head retaining full control over the apparatus recruitment process, (2) apparatus recruitment places greater emphasis on loyalty and personal closeness than on professional competence, (3) The practice of patronage and clientelism is strongly evident in the relationship between the village head as patron and village officials as clients, which is built through kinship ties and reciprocal interests, (4) decisions regarding the appointment of officials are often tinged with elements of nepotism and collusion to strengthen the village head's political support base, and (5) the recruitment system is not yet oriented towards the principle of a merit system, namely a selection system based on individual ability, achievement, and integrity, as implemented in professional governance.Thus, it can be concluded that the dynamics of village leadership in Weseben are still strongly influenced by the practice of patronage and clientelism, which hinders the realization of democratic, transparent, and accountable village governance.  
Keterwakilan Perempuan dalam Politik: Analisis Rendahnya Anggota Legislatif Terpilih Perempuan di DPRD Kabupaten Sabu Raijua Pada Pemilu 2024 Lodia Lede Hiku; Yeftha Y. Sabaat; Stefanus Triadmaja; Rex Tiran
Terang : Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 2 No. 4 (2025): Desember : Terang : Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik dan Hukum
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/terang.v2i4.1476

Abstract

This research is entitled “Women’s Representation in Political (Analysis of the Low Number of Elected Female Legislative Members in the Sabu Raijua Regency DPRD in the 2024 Election).” The low representation of women in politics is a significant issue in various regions, including Sabu Raijua Regency. This study aims to analyse the low representation of women in politics and the factors that hinder women from becoming legislative members in the Sabu Raijua Regency DPRD in the 2024 elections using Gender Theory, which focuses on three derivatives of the theory, namely gender issues, gender ideas, and gender representation. The results of the study show that the obstacles faced by women are not only related to individual capabilities, but are also the result of social constructs influenced by gender issues, gender ideas, and gender representation. Women are often faced with domestic burdens, financial constraints, and a lack of training from political parties, which limits their political capacity. Patriarchal customs also reinforce the notion that men are more suitable for leadership, while women are seen as quota fillers. As a result, representation is more symbolic than substantial, as evidenced by the fact that only two women have won seats in the Regional People's Representative Council (DPRD), one of whom was through the PAW mechanism. Barriers include traditional norms, gender stereotypes, and social legitimacy; lack of support and strategy from political parties; and financial constraints and campaign capital.
Belisdan Repruduksi Kekuasaan ( Pendekatan Feminisme dan Gender Dalam Memahami Praktik Belis di Desa Oelomin Kecamatan Nekamese Kabuaten Kupang) Ratry Bistolen; Yeftha Yerianto Sabaat; YonatanH.L.Lopo; Ananias R.P Jacob
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 3 No. 3 (2025): Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 3 Nom
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v3i3.177

Abstract

Penelitian ini berjudul “Belis dan Reproduksi Kekuasaan (Pendekatan Feminisme dan Gender dalam Memahami Praktik Belis di Desa Oelomin, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang)”. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus komparatif, yang bertujuan untuk memahami bagaimana praktik belis memengaruhi posisi, peran, dan otonomi perempuan dalam kehidupan rumah tangga dan komunitas adat, dengan membandingkan pasangan yang telah menerima belis dan yang belum menerima belis di Desa Oelomin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belis tidak sekadar menjadi simbol penghormatan terhadap perempuan, tetapi berfungsi sebagai instrumen politik gender yang mereproduksi ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Dalam kerangka teori Ratnawati, belis menempatkan perempuan dalam posisi subordinat melalui legitimasi adat yang menormalisasi dominasi laki-laki. Sementara dalam perspektif Foucault, belis beroperasi sebagai mekanisme disiplin sosial yang mengatur perilaku dan tubuh perempuan secara halus melalui kontrol adat. Perspektif Gramsci memperlihatkan bahwa Belis bekerja sebagai bentuk hegemoni kultural, di mana nilai dan norma patriarkal diterima secara sukarela sebagai kebenaran sosial. Dalam pandangan Bourdieu, belis menjadi modal simbolik yang memberi pengakuan adat sekaligus membatasi kebebasan perempuan. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya resistensi perempuan, terutama di kalangan yang menikah tanpa belis, yang mulai menegosiasikan peran lebih egaliter dan menunjukkan partisipasi sosial serta politik yang lebih aktif. Fenomena ini mencerminkan munculnya kesadaran politik gender baru yang menantang hegemoni patriarki adat. Dengan demikian, praktik belis di Desa Oelomin tidak hanya mereproduksi kekuasaan, tetapi juga membuka ruang bagi transformasi sosial dan politik menuju kesetaraan gender.
Studi Kasus: Akses nelayan dalam eksploitasi teripang laut di pesisir pantai Oesapa Riska Agustin Rahmawati; Yeftha Y. Sabaat
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 3 No. 3 (2025): Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 3 Nom
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v3i3.179

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tata kelola sumber daya alam melalui studi kasus akses nelayan dalam eksploitasi teripang laut di pesisir Pantai Oesapa, Kota Kupang. Eksploitasi teripang menjadi isu penting karena tingginya nilai ekonomi komoditas ini mendorong praktik penangkapan legal maupun ilegal yang berpotensi menurunkan populasi dan mengganggu keberlanjutan ekosistem laut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tipe studi kasus, melibatkan informan dari unsur pemerintah, pengelola perikanan, dan nelayan pesisir. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses nelayan terhadap teripang dipengaruhi oleh akses legal (izin, kebijakan Pemerintah) dan akses ilegal yang muncul akibat lemahnya pengawasan, kebutuhan ekonomi, serta kuatnya permintaan pasar. Melalui Teori Akses Nancy Peluso, ditemukan bahwa mekanisme akses berbasis hak maupun relasi kekuasaan sama-sama menentukan kemampuan nelayan memperoleh dan mempertahankan akses terhadap komoditas teripang. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa tata kelola sumber daya alam di wilayah Oesapa belum berjalan efektif karena regulasi tidak diikuti dengan pengawasan yang memadai, sehingga praktik eksploitasi berlebihan masih terjadi. Diperlukan penguatan institusi pengawasan, peningkatan partisipasi masyarakat, serta kebijakan berbasis keberlanjutan untuk mengatasi ketimpangan akses dan menjaga kelestarian teripang.
Politik Tata Ruang Dalam Proyek Strategis Nasional (Studi Kasus Proyek Pembangunan Rempang Eco-City Pulau Rempang, Batam) Fredi Sahetapy; Yeftha Y. Sabaat; Yonathan H.L.Lopo
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika politik tata ruang dalam proyek pembangunan Rempang Eco-City sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) di Pulau Rempang, Kota Batam. Penetapan Rempang sebagai kawasan PSN merefleksikan bagaimana kebijakan tata ruang dijalankan melalui mekanisme perencanaan yang bersifat top-down dengan orientasi pada investasi dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana relasi kuasa antara negara, aktor ekonomi, dan masyarakat lokal beroperasi dalam proses produksi ruang serta implikasinya terhadap tata kelola ruang wilayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi, dengan informan yang berasal dari masyarakat Pulau Rempang dan institusi pemerintah terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menggunakan teori produksi ruang Henri Lefebvre yang meliputi tiga dimensi utama, yaitu praktik spasial, representasi ruang, dan ruang representasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan tata ruang dalam proyek Rempang Eco-City didominasi oleh representasi ruang yang dirancang oleh negara dan investor, sementara praktik spasial serta pemaknaan ruang oleh masyarakat lokal kurang terakomodasi dalam proses perencanaan. Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan relasi kuasa dalam pengelolaan ruang serta lemahnya mekanisme partisipasi publik dalam kebijakan tata ruang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dinamika tata ruang di Rempang mencerminkan praktik produksi ruang yang belum sepenuhnya berorientasi pada keadilan spasial dan tata kelola ruang yang partisipatif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan penataan ruang yang lebih inklusif, transparan, dan berkeadilan dalam pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.
Tata Kelola Pasar (Studi Ekonomi Politik terhadap Kebijakan Penataan Pedagang Pasca Renovasi Pasar Kadelang Kabupaten Alor) Junia Indriani Alberthus; Yeftha Y. Sabaat; Yohanes Jimmy Nami
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.238

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan penerapan pedagang pasca renovasi Pasar Kadelang Kabupaten Alor dengan menggunakan perspektif evaluasi kebijakan publik. Renovasi pasar yang dilakukan pemerintah daerah diarahkan untuk menciptakan pasar yang tertib, rapi, dan nyaman, sekaligus diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan pedagang. Namun, implementasi kebijakan tersebut memunculkan berbagai dampak dan persepsi yang berbeda di kalangan pedagang, pembeli, dan pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pedagang, pembeli, aparat pengelola pasar, serta anggota DPRD Kabupaten Alor, dan didukung oleh data dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori evaluasi kebijakan publik William N. Dunn yang mencakup enam indikator, yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan (equity), responsivitas, dan ketepatan (appropriateness). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan penerapan pedagang pasca renovasi Pasar Kadelang efektif dalam aspek penataan fisik dan keteraturan ruang pasar, serta meningkatkan kenyamanan bagi pembeli. Namun, dari sisi pedagang, kebijakan ini belum sepenuhnya efektif karena penempatan kios yang kurang strategis berdampak pada penurunan pendapatan. Dari aspek efisiensi dan kecukupan, kebijakan dinilai belum optimal karena manfaat ekonomi yang diterima pedagang belum sebanding dengan beban yang ditanggung. Selain itu, indikator perataan dan responsivitas menunjukkan bahwa distribusi manfaat belum adil dan respons pemerintah terhadap keluhan pedagang masih terbatas. Sementara itu, dari sisi ketepatan, kebijakan dinilai tepat dalam penataan fisik pasar, tetapi kurang tepat dalam menjawab persoalan ekonomi pedagang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan penerapan pedagang pasca renovasi Pasar Kadelang belum sepenuhnya memenuhi indikator evaluasi kebijakan publik secara substantif, sehingga diperlukan penyesuaian kebijakan yang lebih responsif dan berorientasi pada kesejahteraan pedagang.