Anggit Febrianto
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

VISI KOSMOPOLITANISME DALAM NOVEL PERJALANAN SELIMUT DEBU KARYA AGUSTINUS WIBOWO Hadi Prasetyo; Fajar Diana Safitri; Anggit Febrianto
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 1 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/96xqd613

Abstract

Di Indonesia, sastra perjalanan mengalami perkembangan yang cukup pesat dan banyak menjadi bahan kajian di dalam penelitian-penelitian sastra. Akan tetapi, dari berbagai penelitian terdahulu yang telah dilakukan, belum ada penelitian yang mencoba mengkaji karya sastra perjalanan menggunakan teori Debbie Lisle. Secara umum, teori yang dipakai dalam berbagai penelitian terdahulu ialah teori sastra perjalanan yang digagas oleh Carl Thompson. Adapun dalam penelitian ini, penulis akan mencoba menyelisik visi kosmopolitan dalam novel Selimut Debu karya Agustinus Wibowo menggunakan teori sastra perjalanan Debbie Lisle. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, yaitu dengan pembacaan yang cermat dan menyeluruh terhadap satuan-satuan linguistik berupa dialog, monolog, dan narasi yang terdapat dalam novel Selimut Debu. Data yang sudah terkumpul kemudian akan dianalisis menggunakan Teori Sastra Perjalanan Debbie Lisle. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa novel Selimut Debu memuat beberapa ciri khas kosmopolitanisme, yaitu: pertama, novel ini menampilkan penerimaan terhadap perayaan perbedaan; kedua, Agustinus membingkai setiap pertemuan dengan cara yang konstruktif yang sering kali menampilkan sisi empati dan simpati; ketiga, Agustinus terus bergerak, berpindah dari satu ruang ke ruang lain untuk menunjukkan keunikan perbedaan yang ia temui dan setiap ruang yang ia singgahi menjadi sarana untuk merayakan perbedaan identitas; dan keempat, penonjolan tradisi budaya merupakan elemen yang penting dalam novel Selimut Debu.