Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

How the Subaltern Speaks in Iksaka Banu’s “Di Ujung Belati” : A Postcolonial Study Fajar Diana Safitri; Ine Wulandari; Hairini Nur Hanifah
Alphabet: A Biannual Academic Journal on Language, Literary, and Cultural Studies Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.alphabet.2022.05.01.05

Abstract

Iksaka Banu’s “Di Ujung Belati is a short story set in the colonial era. The social class system established by the Dutch government at that time makes the natives difficult to speak in various spheres of life. In this study, the short story was discussed using the perspective of subalternity introduced by Spivak. The method used was the literature review method. Based on the discussion, it can be seen that the Dutch put the natives in a subaltern position in terms of gender, economy, and culture. The oppression perceived by the subaltern gives rise to resistance in the form of rebellion and betrayal towards the Dutch government. That rebellion and betrayal is the way the subaltern speaks. Even though they have succeeded in overthrowing the Dutch, the natives are under the domination of another Western power, which is Britain. This shows that the natives are not completely successful in fighting Western hegemony. In relation to the current context of globalization, “Di Ujung Belati” short story can be a form of raising public awareness of the existence of neocolonialism after colonialism is abolished.
Kritik Sosial dalam Cerpen “Maskapai Liong Mabur” Karya Sujiwo Tejo Safitri, Fajar Diana; Nabila, Atika Silma; Fakhrunnisa, Ritma; Edwar, Valentina Edellwiz
Bahterasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jpbsi.v6i2.24304

Abstract

Penelitian ini mengkaji kritik sosial yang terdapat dalam cerpen "Maskapai Liong Mabur" karya Sujiwo Tejo. Cerpen tersebut merupakan bentuk transformasi dari teks hipogram yang terdapat dalam lakon wayang Gatotkaca Winisuda. Berdasarkan analisis, Sujiwo Tejo meneruskan dan melakukan penyimpangan terhadap naskah hipogram. Penerusan dan penyimpangan teks tersebut digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial kepada pemuda Indonesia. Sujiwo Tejo menjadikan Gatutkaca sebagai sosok idealis bagi pemuda Indonesia. Hal tersebut karena tokoh Gatutkaca diciptakan oleh penyair Jawa secara sempurna sebagai pribadi yang kuat, sukses, dan produktif. Selain itu, melalui sudut pandang tokoh Gatutkaca yang hidup di zaman kerajaan dan zaman modern, Sujiwo Tejo melakukan kritik sosial kepada masyarakat. Sujiwo Tejo menyayangkan sikap masyarakat Indonesia yang latah terhadap tren/isu, terlalu santai dalam menghadapi perubahan, dan mulai melupakan ilmu bertahan hidup di alam karena kecanggihan teknologi.
VISI KOSMOPOLITANISME DALAM NOVEL PERJALANAN SELIMUT DEBU KARYA AGUSTINUS WIBOWO Hadi Prasetyo; Fajar Diana Safitri; Anggit Febrianto
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 1 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/96xqd613

Abstract

Di Indonesia, sastra perjalanan mengalami perkembangan yang cukup pesat dan banyak menjadi bahan kajian di dalam penelitian-penelitian sastra. Akan tetapi, dari berbagai penelitian terdahulu yang telah dilakukan, belum ada penelitian yang mencoba mengkaji karya sastra perjalanan menggunakan teori Debbie Lisle. Secara umum, teori yang dipakai dalam berbagai penelitian terdahulu ialah teori sastra perjalanan yang digagas oleh Carl Thompson. Adapun dalam penelitian ini, penulis akan mencoba menyelisik visi kosmopolitan dalam novel Selimut Debu karya Agustinus Wibowo menggunakan teori sastra perjalanan Debbie Lisle. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, yaitu dengan pembacaan yang cermat dan menyeluruh terhadap satuan-satuan linguistik berupa dialog, monolog, dan narasi yang terdapat dalam novel Selimut Debu. Data yang sudah terkumpul kemudian akan dianalisis menggunakan Teori Sastra Perjalanan Debbie Lisle. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa novel Selimut Debu memuat beberapa ciri khas kosmopolitanisme, yaitu: pertama, novel ini menampilkan penerimaan terhadap perayaan perbedaan; kedua, Agustinus membingkai setiap pertemuan dengan cara yang konstruktif yang sering kali menampilkan sisi empati dan simpati; ketiga, Agustinus terus bergerak, berpindah dari satu ruang ke ruang lain untuk menunjukkan keunikan perbedaan yang ia temui dan setiap ruang yang ia singgahi menjadi sarana untuk merayakan perbedaan identitas; dan keempat, penonjolan tradisi budaya merupakan elemen yang penting dalam novel Selimut Debu.