Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERILAKU DAN KEBERSHIAN PERSONAL DENGAN PREVALENSI INFESTASI SKABIES PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN KECAMATAN RANGKASBITUNG, LEBAK, BANTEN Trasia, Reqgi First; Hakyanto, Eka; Ulfah Irawati, Nur Bebi
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.290

Abstract

ABSTRAK Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau kecil bernama Sarcoptes scabei varietas hominis yang memiliki tingkat penularan tinggi, terutama di lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi seperti pondok pesantren. Faktor-faktor seperti kebersihan personal yang kurang baik, sanitasi yang buruk, serta rendahnya pengetahuan santri tentang skabies berkontribusi terhadap tingginya prevalensi penyakit ini. Riset ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, perilaku, dan kebersihan personal dengan prevalensi skabies pada santri di Pondok Pesantren Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Riset ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross-sectional dan pengambilan data dilakukan melalui metode kuesioner. Hasil Riset menunjukkan bahwa prevalensi infestasi skabies di pondok pesantren tersebut mencapai 17,3%, namun tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan (p = 0,708), perilaku (p = 0,667), dan kebersihan personal (p = 0,134) dengan kejadian skabies. Meskipun tidak signifikan, individu dengan kebersihan personal yang lebih baik cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap skabies. Oleh karena itu, upaya edukasi kesehatan, peningkatan kebersihan, serta isolasi bagi santri yang terinfeksi tetap perlu diperkuat untuk mencegah penyebaran skabies di lingkungan pesantren. ABSTRACT Scabies is a skin disease caused by the infestation of a small mite called Sarcoptes scabei variety hominis that has a high transmission rate, especially in high population density environments such as boarding schools. Factors such as poor personal hygiene, poor sanitation, and low knowledge of students about scabies contribute to the high prevalence of this disease. This study aimed to analyze the relationship between knowledge, behavior, and personal hygiene with the prevalence of scabies among students in Islamic boarding schools in Rangkasbitung District, Lebak Regency, Banten. This research used an observational analytic method with a cross-sectional design and data collection was done through a questionnaire method. The results showed that the prevalence of scabies infestation in the boarding school reached 17.3%, but there was no significant relationship between the level of knowledge (p = 0.708), behavior (p = 0.667), and personal hygiene (p = 0.134) with the incidence of scabies. Although not significant, individuals with better personal hygiene tend to have a lower risk of scabies. Therefore, health education efforts, improved hygiene, and isolation for infected students still need to be strengthened to prevent the spread of scabies in the pesantren environment.
Plant survey analisis risiko pada UKM produksi pangan lokal Sari, Ita Marlita; Azzami, M Kaamil; Akhwazain, Syahla; Adinda P, Zahra; Ifany S, Ria Novian; Amalina, Alya Nur; Khalisa, Shakila Nur; Safitri, Dina Lutfia; Hidayat, Putri; Mutiara, Ratu Annisa; Pradiva M, Kania; Hakyanto, Eka; Fitrullah, Muhammad
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38479

Abstract

AbstrakUsaha Kecil dan Menengah (UKM) pangan memainkan peran penting dalam perekonomian lokal, namun keberlanjutannya seringkali terancam oleh praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang tidak memadai. Data nasional menunjukkan bahwa sebagian besar kecelakaan kerja di industri pangan skala mikro berasal dari standar operasional yang tidak memadai. Pekerja rumahan di perkotaan umumnya melaporkan keluhan muskuloskeletal, sementara paparan asap masakan yang berkepanjangan meningkatkan risiko infeksi pernapasan akut. Kapasitas teknis yang terbatas, kurangnya fasilitas, dan tidak adanya prosedur operasi standar meningkatkan bahaya kerja di kalangan pekerja informal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya di tempat kerja, menilai risiko kesehatan, dan mengembangkan rekomendasi peningkatan K3 untuk UKM Sate Bandeng dalam binaan Puskesmas Singandaru di Serang, Banten. Kegiatan ini dilakukan pada November 2024, dengan menerapkan metode campuran kualitatif dan kuantitatif, termasuk observasi partisipatif kegiatan produksi, wawancara mendalam, dan analisis risiko menggunakan matriks frekuensi-keparahan. Temuan mengungkapkan berbagai bahaya di berbagai aspek fisik, kimia, biologis, ergonomis, psikososial, dan keselamatan. Para pekerja mengalami gejala pernapasan akibat paparan asap, ketegangan muskuloskeletal akibat tugas berulang dan berdiri terlalu lama, adanya risiko infeksi dari penanganan ikan mentah, dan stres terkait pekerjaan. Bahaya berisiko tinggi diidentifikasi berupa potensi sengatan listrik yang disebabkan oleh stopkontak yang tidak tertutup. Meskipun tindakan pencegahan seperti penggunaan masker dan alat pemadam kebakaran tersedia, penerapannya masih belum konsisten. Penguatan kepatuhan penggunaan APD, peningkatan ventilasi, dan pengamanan instalasi listrik merupakan strategi praktis dan berkelanjutan untuk meningkatkan perlindungan kesehatan kerja di tempat kerja sektor informal. Kata kunci: UKM; keselamatan dan kesehatan kerja; risiko bahaya. Abstract Food Small and Medium Enterprises (SMEs) play a vital role in local economies, yet their sustainability is frequently challenged by inadequate Occupational Safety and Health (OHS) practices. National reports indicate that most workplace accidents in micro-scale food industries stem from insufficient operational standards. Urban home-industry workers commonly report musculoskeletal complaints, while prolonged exposure to cooking smoke elevates the risk of acute respiratory infections. Limited technical capacity, lack of facilities, and absence of standard operating procedures increase occupational hazards among informal workers. This community service project aimed to identify workplace hazards, assess health risks, and develop OHS improvement recommendations for a Milkfish Satay SME supervised by the Singandaru Community Health Center in Serang, Banten. Conducted in November 2024, the study applied mixed qualitative and quantitative methods, including participatory observation of production activities, in-depth interviews, and risk analysis using a frequency and severity matrix. Findings revealed multiple hazards across physical, chemical, biological, ergonomic, psychosocial, and safety domains. Workers experienced respiratory symptoms from smoke exposure, musculoskeletal strain from repetitive tasks and prolonged standing, infection risks from handling raw fish, and work-related stress. A high-risk hazard was identified in the form of potential electric shock caused by uncovered electrical outlets. Although preventive measures such as mask use and fire extinguishers were available, their implementation remained inconsistent. Strengthening PPE compliance, improving ventilation, and securing electrical installations are practical and sustainable strategies to enhance occupational health protection in informal sector workplaces. Keywords: SME; occupational safety and health; hazard risk.