Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

STRUKTUR KOMUNITAS IKAN TERUMBU KARANG PADA DAERAH PERLINDUNGAN LAUT DI PULAU SEBESI LAMPUNG Yudha, Firsta Kusuma; Yulianda, Fredinan; Yulianto, Gatot
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.847 KB) | DOI: 10.23887/jst-undiksha.v10i2.40211

Abstract

Daerah Perlindungan Laut (DPL) merupakan salah satu konsep pengelolaan ekosistem pesisir di Pulau Sebesi, yang dibentuk untuk menekan tingkat kerusakan terumbu karang di Pulau Sebesi. Salah satu indikasi kerusakan terumbu karang ialah kehadiran ikan terumbu karang yang memanfaatkan terumbu karang sebagai habitat untuk hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur komunitas ikan terumbu karang pada Pulau Sebesi sebagai bahan pengelolaan DPL Pulau Sebesi. Secara keseluruhan ditemukan 493 individu ikan terumbu karang yang termasuk 12 famili ikan terumbu karang. Famili Pomacentridae merupakan famili dengan komposisi tertinggi pada seluruh lokasi studi. Kelimpahan ikan terumbu karang terbanyak dijumpai di Pulau Umang, sedangkan terendah dijumpai pada Gosong Sawo. Jumlah jenis ikan terumbu karang di lokasi studi berkisar antara 11-21 spesies. Indeks keanekaragaman tertinggi dijumpai pada Pulau Umang. Hal ini menandakan Pulau Umang memiliki kelimpahan dan jenis ikan terumbu karang yang lebih banyak dibandingkan lokasi lain.
USAHA PERIKANAN TANGKAP DI PULAU SEBATIK DALAM MENDUKUNG SKPT SEBATIK Asnawi Asnawi; Firsta Kusuma Yudha; Umi Muawanah
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jksekp.v11i1.8866

Abstract

Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Sebatik merupakan upaya pemerintah membangun perikanan di pulau terluar Indonesia. Penelitian ini bertujuan mempelajari kondisi usaha perikanan di Sebatik, sebagai bahan masukan dalam pengelolaan dan memajukan SKPT Sebatik. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 di Sebatik menggunakan data primer primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survey dengan responden yang dipilih secara purposif dan dengan teknik snowball sampling, dan melalui Focus Group Discussion (FGD). Data sekunder diperoleh dari studi literatur pada dokumen-dokumen terkait. Data yang dikumpulkan kemudian diolah menjadi informasi kualitatif menggunakan pendekatan tematik Ada lima temuan pokok dari penelitian ini. Pertama: terjadi tingkat pemanfaatan sumber daya perikanan melebihi batas untuk (i) pelagis besar, (ii) rajungan dan (iii) cumi-cumi akibat penggunaan alat tangkap trawl oleh nelayan Tawau pada waktu lampau. Kedua: Sebagian besar Ikan hasil tangkapan di Sebatik didaratkan menggunakan motor tempel dengan kapasitas 0-5 GT. Ketiga; terdapat lima jenis ikan bernilai ekonomis tinggi yang termasuk jenis udang dan moluska. Keempat: pemasaran ikan dari Sebatik dicirikan oleh adanya ikatan sosial ekonomi antara pedagang pengumpul, pedagang besar, dan agen di Tawau Malaysia. Kelima: kondisi-kondisi tersebut membuat pencatatan ekspor menjadi kurang baik dan dapat beresiko pada keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah itu. Berdasar hal ini, langkah strategis yang dapat direkomendasikan adalah penguatan integrasi aktor-aktor usaha perikanan tangkap di Sebatik ke dalam skema SKPT untuk memudahkan pencatatan ekspor hasil perikanan dari Sebatik ke Tawau Malaysia. Tittle: Fisheries Bussiness in Sebatik Island to Support the SKPT SebatikThe Sebatik Integrated Marine and Fisheries Center (SKPT Sebatik) built to develop the fisheries sector in Indonesia’s outermost islands. This study aimed to asses the fisheries business condition in Sebatik as recommendation for the management and advancement of SKPT Sebatik. The research was conducted in 2018 in Sebatik based on primary and secondary data. Primary data were collected through surveys with purposive and snowball sampling, and Focus Group Discussion (FGD). Secondary data were obtained from literature studies of relevant documents. The data were processed into qualitative information with thematic approach. There are five key findings of the research. First, the utilization rate of fisheries resources has exceeded its maximum level for (i) large pelagic fish, (ii) crabs, and (iii) squids as a result of the past trawl fishing by Tawau fishers. Second, most of the catches in Sebatik are landed using outboard motors of 0-5 GT. Third, there are five species of fish classified as shrimp and molluscs that bring a high economic value. Fourth, there is a social economic relationship among traders, wholesalers and agents in Tawau Malaysia in fish marketing from Sebatik. Fifth, such conditions resulted in a poor record of fish export and threaten the sustainability of fish resources in the area. Based on these findings, this study recommend to policy makers reinforce the integration of capture fisheries business actors in Sebatik into SKPT to facilitate the record of fishery product export from Sebatik to Tawau, Malaysia.
Assessing fish community structure at two different coral reef depths around Seribu Islands, Jakarta Karizma Fahlevy; Firsta Kusuma Yudha; Wedi Andika; Ahmad Eko Suprianto; Nadya Jeny Irianda; Mas Irfanto; Beginer Subhan; Hawis Madduppa
Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.289 KB) | DOI: 10.33387/jikk.v1i1.678

Abstract

ABSTRACTCoral reefs structure play important roles for reef fish assemblages. Coral coverage and reef fish abundance are associated with the positive relationship. However, the relationship between reef fish abundance and composition and depth variation around Pramuka Island is poorly known. This study was carried out to investigate the biodiversity and the trophic level of fish communities between two different depths (3 and 10 m) around Pramuka Island regions (Pramuka Island and Sekati Island). The hard coral at the depth of 10 m within both study sites in Pramuka island held significantly higher percent cover than the depth of 3 m except in Dock 2 A total of 2620 individual fishes were counted, belonging to 58 species and 13 families. The fish community in 3 and 10 depth was dominated by omnivorous fishes. The multivariate analysis of fish abundance using the Bray Curtis similarity index and non-metric multidimensional scaling (NMDS) clearly showed the clustering of two different depths. The NMDS results showed that at the depth of 10 m are more clustered than 3 m depth. The present study results showed that the biodiversity of reef fishes around Pramuka Island seemed to be linked to the hard coral condition and depth.Keywords: Coral, Depth, Reef fishes, Trophic level
Evaluasi Kesehatan Terumbu Karang di Pulau Pramuka: Tantangan dan Peluang Konservasi di Kawasan Kepulauan Seribu: Evaluasi kesehatan terumbu karang di Pulau Pramuka: Tantangan dan peluang konservasi di Kawasan Kepulauan Seribu Wahjoedi, Iqbal Raihansyah Kusuma; Jagadhita, I Gusti Putu Yudhistira; Edtri, Dewanti Puti; Sachio, Nikolas; Sholichah, Mar’atus; Santanu, Haekal Fathur Bayu; Hutagaol, Irvan Davi; Musa, Albi Muhamad Taufik; Yudha, Firsta Kusuma
Habitus Aquatica Vol 6 No 2 (2025): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.6.2.89

Abstract

Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang merupakan pusat administratif. Salah satu wisata yang terkenal dan menarik adalah wisata bahari. Ekosistem terumbu karang dikenal sebagai ekosistem bawah laut yang paling indah dan menawan serta memiliki komunitas yang paling kaya di bumi. Hal tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah Kepulauan Seribu sebagai wisata bahari setempat. Namun semakin banyak kegiatan pariwisata, berpotensi memengaruhi kondisi ekosistem terumbu karang. Kegiatan pemantauan kondisi ekosistem terumbu karang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Pengamatan data terumbu karang dilakukan dengan metode Line Intercept Transect (LIT) yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pengamatan data. Persentase tutupan substrat dasar didominasi oleh kategori abiotic, hard coral, dan algae. Kondisi terumbu karang pada lokasi pengamatan tergolong dalam rataan sedang. Terdapat 2 stasiun pengamatan dengan tutupan terumbu karang yang baik, yaitu APL dan SPG. Lokasi dengan kategori tutupan buruk terdapat di BPR dan TEP.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN TERUMBU KARANG PADA DAERAH PERLINDUNGAN LAUT DI PULAU SEBESI LAMPUNG Yudha, Firsta Kusuma; Yulianda, Fredinan; Yulianto, Gatot
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.847 KB) | DOI: 10.23887/jstundiksha.v10i2.40211

Abstract

Daerah Perlindungan Laut (DPL) merupakan salah satu konsep pengelolaan ekosistem pesisir di Pulau Sebesi, yang dibentuk untuk menekan tingkat kerusakan terumbu karang di Pulau Sebesi. Salah satu indikasi kerusakan terumbu karang ialah kehadiran ikan terumbu karang yang memanfaatkan terumbu karang sebagai habitat untuk hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur komunitas ikan terumbu karang pada Pulau Sebesi sebagai bahan pengelolaan DPL Pulau Sebesi. Secara keseluruhan ditemukan 493 individu ikan terumbu karang yang termasuk 12 famili ikan terumbu karang. Famili Pomacentridae merupakan famili dengan komposisi tertinggi pada seluruh lokasi studi. Kelimpahan ikan terumbu karang terbanyak dijumpai di Pulau Umang, sedangkan terendah dijumpai pada Gosong Sawo. Jumlah jenis ikan terumbu karang di lokasi studi berkisar antara 11-21 spesies. Indeks keanekaragaman tertinggi dijumpai pada Pulau Umang. Hal ini menandakan Pulau Umang memiliki kelimpahan dan jenis ikan terumbu karang yang lebih banyak dibandingkan lokasi lain.
Pengaruh Variasi Kedalaman terhadap Struktur Komunitas Ikan Terumbu Karang di Kepulauan Seribu, Jakarta Yudha, Firsta Kusuma; Sachio, Nikolas; Hidayati, Tirza; Fuadi, Itsar Nur; Assyifa, Siti Fatma; Rabiyanti, Intan; Afif, M. Irfan
Jurnal Laut Khatulistiwa Vol 8, No 3 (2025): October
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lkuntan.v8i3.98019

Abstract

Ikan terumbu karang merupakan salah satu kelompok biota dominan yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelimpahan dan biomassa ikan terumbu karang pada dua kedalaman berbeda di perairan Pulau Pramuka dan sekitarnya. Pengamatan dilakukan pada tujuh stasiun menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC). -rata kelimpahan ikan pada kedalaman 3 m mencapai 46 ind/100 m², sedangkan pada kedalaman 10 m hanya 28 ind/100 m². Biomassa tertinggi pada kedalaman dangkal tercatat di Selatan Pulau Panggang sebesar 3.397,29 g/100 m², sementara biomassa terendah ditemukan di Utara Pulau Pramuka sebesar 677,84 g/100 m². Pada kedalaman 10 m, biomassa tertinggi terdapat di Selatan Pulau Air (5.301,68 g/100 m²) dan terendah di Dermaga 1 Pulau Pramuka (60,65 g/100 m²). Secara umum, ikan mayor mendominasi pada kedalaman dangkal, sedangkan ikan target lebih sering dijumpai pada kedalaman dalam. Temuan ini menunjukkan bahwa variasi kedalaman berpengaruh nyata terhadap struktur komunitas ikan terumbu karang melalui distribusi kelimpahan dan biomassa pada setiap lokasi pengamatan.
Komposisi Ikan Karang Target di Perairan Pulau Pramuka dan Sekitarnya Muhammad Zidan Alif Saputra; Habib Ramadhan; Lutfi Hanif Sarof; Bayu Aji Pamungkas; Firsta Kusuma Yudha
Habitus Aquatica Vol 7 No 1 (2026): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.7.1.60

Abstract

Target reef fish possess significant economic value as food and ornamental sources, yet they are highly vulnerable to anthropogenic pressures and overfishing. Pramuka Island, serving as the administrative center and a primary marine tourism destination in the Seribu Islands National Park, plays a critical role in the sustainability of marine resources. This study aims to analyze the family composition, abundance, and biomass of target reef fish in the waters surrounding Pramuka Island. Observations were conducted using the Underwater Visual Census (UVC) method at six observation stations across two depth levels. The results revealed a total abundance of 1,711 individuals, heavily dominated by the families Pomacentridae (72,88%) and Caesionidae (15,78%). The highest abundance was recorded at the SPG station (73,17 ind/100m²), whereas the lowest was found at the BPR station (23,83 ind/100m²), which is characterized by high anthropogenic activity. The highest biomass value was observed at the BSK station, reaching 1600,29 gram/100m². Size structure analysis of the dominant species, Caesio cuning, indicated that the individuals found were below the Length at First Maturity (Lm), categorizing the stock as not yet catchable. These findings highlight the urgent need for appropriate fishery management strategies to prevent growth overfishing and ensure stock sustainability.
A Comparative Study of Coral Reef Cover Percentage Between Shallow and Deep Depths at Pramuka Island, Kepulauan Seribu Ratna Clara Laksmitha; Muhammad Farhan Haidar Rahman; Try Feby Innocentia; Imam Fatoni; Ridha Rahman; Firsta Kusuma Yudha
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 10 No 1 (2026): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/coj.v10i1.71414

Abstract

Indonesia possesses one of the largest coral reef resources in the world, representing approximately 14% of global reef coverage, and these reefs are highly vulnerable to environmental changes and human activities, particularly in densely populated areas like Pramuka Island, Kepulauan Seribu. This research was conducted to evaluate reef conditions around Pramuka Island through an analysis of coral cover at two depth ranges, namely shallow waters (3–5 m) and deeper reef zones (8–10 m). Data collection utilized Line Intercept Transect (LIT) method at six stations, with three transect replications at each depth. The results showed a significant difference in live coral cover between shallow and deep depths (p=0.018). The highest cover and best condition (very good category) were found at Panggang Cultivation Area, linked to ongoing coral cultivation and transplantation activities. Reef conditions among the observation sites ranged from poor to very good, reflecting considerable spatial variation in coral ecosystem quality, with the dominant lifeform being Coral Massive (CM), indicating high resistance to local pressures.