Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ARTIKEL REVIEW : IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID PADA SPONS CALLYSPONGIA SP. SEBAGAI ANTIBAKTERI DALAM PENGEMBANGAN PRODUK FARMASI Syafitri Dwiyanti, Dhea; Qotrunnada, Baiq Citra Azzahra; Lestari, Dinda Ayu; A’yun, Faolananda Qurrota; Agustiani, Eti; Alfhina, Luluk; Sunarwidh, Anggit Listyacahyani
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.38294

Abstract

Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan kelautan yang sangat potensial, termasuk berbagai biota laut seperti spons. Spons laut yang diketahui mengandung metabolit sekunder bernilai tinggi adalah Callyspongia sp. Spons ini mengandung beragam senyawa bioaktif yang berasal dari metabolit primer dan sekunder, termasuk alkaloid, asam lemak, peptida, flavonoid, nukleosida, steroid, poliasetilen, dan terpenoid. Salah satu senyawa metabolit sekunder dari Callyspongia sp. yang memiliki banyak efek farmakologis terutama sebagai antibakteri yaitu flavonoid. Aktivitas antibakterinya menjadikannya berpotensi besar untuk pengembangan obat-obatan di masa depan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui cara isolasi dan identifikasi senyawa flavonoid dari spons Callyspongia, menguji aktivitas antibakterinya, dan mengeksplorasi penggunaannya dalam produk farmasi. Penelitian ini menggunakan metode literature review yaitu mengumpulkan data - data hasil penelitian sebelumnya dari berbagai sumber bacaan seperti jurnal yang kemudian dianalisis dan dirangkum. Berdasarkan hasil penelitian, dalam spons Callyspongia sp. ditemukan senyawa alkaloid, tanin, terpenoid, dan flavonid. Isolasi serta identifikasi flavonoid dari Callyspongia dapat dilakukan dengan uji warna, kromatografi lapis tipis dan juga bisa menggunakan metode kromatografi cairan vakum. Callyspongia sp. menunjukkan penghambatan pertumbuhan bakteri maksimal pada berbagai jenis bakteri, seperti Shigella, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Salmonella typhi, Streptococcus pyogenes dan  S. mutans. Aktivitas antibakteri yang terdapat dalam Callyspongia sp. tersebut dapat dikembangkan menjadi suatu produk farmasi seperti krim dan salep.  
PENDAMPINGAN PEMANFAATAN LIMBAH BONGGOL JAGUNG (JANGGEL) SEBAGAI MEDIA TANAM JAMUR DI DESA DARA KUNCI, SAMBELIA, LOMBOK TIMUR Jurnal Wicara; Abidin, Muhammad; Astiti, Ida Ayu Made Widya; Alfhina, Luluk; Meilieana, Eca; Putra, Lalu; Hidayani, Nurul; Adiat, Dina; Rizal Abidin, Muhammad; Prayanto, Muhammad; Susilawati, Desi; Ahfal, Syahrul
Jurnal Wicara Vol 3 No 5 (2025): Jurnal Wicara Desa
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/2161n081

Abstract

The majority of the residents in Dara Kunci Village rely on the agricultural sector. Maize serves as the primary commodity in alignment with the national food security program. However, only the kernels are utilized, while the cobs remain as agricultural waste. In fact, maize cobs contain substances that can accelerate the growth of mushrooms. Therefore, the Community Service Program (KKN) team from the University of Mataram (UNRAM) initiated a training program on the utilization of maize cobs as mushroom cultivation media, aiming to reduce agricultural waste and develop economically valuable products. Furthermore, it is expected that the people of Dara Kunci Village will be able to implement this mushroom cultivation independently. The applied methodology consisted of two stages, namely surveys and observations, as well as training. The activities were carried out in accordance with the proposed methods. During the training, all stages of mushroom cultivation using maize cobs were explained in detail, including critical aspects that required particular attention. Prior to the training, the team had already cultivated mushrooms as a demonstrative example, proving that this waste utilization is indeed beneficial. In doing so, the team was able to highlight factors that may inhibit mushroom production and provide appropriate solutions to address such issues. Moreover, following the training, several community members successfully cultivated mushrooms within the expected growth period.