Wahid Nurwaluyadin Sofyan
Institut Madani Nusantara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

URGENSI KEPEMIMPINAN YANG UNGGUL DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN Istikhori Istikhori; Moh. Jujun Sirojudin; Suhendi Mubarok; Wahid Nurwaluyadin Sofyan; Ari Rahmatullah Fauzi; M. Arif Hidayat; Hendi Supandi
Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 1 (2025): November
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/joire.v2i1.3476

Abstract

Kepemimpinan merupakan faktor strategis yang berperan menentukan keberhasilan peningkatan mutu pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual urgensi kepemimpinan unggul dalam membangun dan menjaga mutu pendidikan yang berkelanjutan. Pembahasan difokuskan pada karakteristik kepemimpinan unggul, meliputi visi transformatif, keteladanan moral dan spiritual, kemampuan adaptif dan inovatif, serta orientasi humanistik dan partisipatif. Melalui telaah literatur dan pendekatan deskriptif-analitis, artikel ini menunjukkan bahwa kepemimpinan pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai pengelola administrasi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu membangun budaya mutu, meningkatkan profesionalisme guru, menciptakan iklim kerja yang kondusif, serta mendorong peningkatan hasil belajar peserta didik. Dalam perspektif pendidikan Islam, kepemimpinan dipahami sebagai amanah yang mengandung tanggung jawab moral dan spiritual, sehingga nilai-nilai etis seperti amanah, adil, ikhlas, dan tawadhu’ menjadi landasan penting dalam praktik kepemimpinan pendidikan. Artikel ini menegaskan bahwa penguatan kapasitas kepemimpinan pada setiap jenjang pendidikan merupakan strategi utama dalam mewujudkan sistem pendidikan yang unggul, humanis, dan berdaya saing di tengah tantangan global. Kata kunci: kepemimpinan unggul, mutu pendidikan, kepemimpinan pendidikan, budaya mutu, pendidikan Islam.
KONTRIBUSI PEMIKIRAN PARA FILSUF MUSLIM TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Yurna Bachtiar; Moh. Jujun Sirojudin; Suhendi Mubarok Mubarok; Wahid Nurwaluyadin Sofyan; M. Arif Hidayat
Journal of Islamic Religious Education Vol. 2 No. 1 (2025): November
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/joire.v2i1.3529

Abstract

Artikel ini membahas peran para filsuf Muslim klasik seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, dan Ibn Khaldun dalam membangun dasar pendidikan Islam. Pembahasan difokuskan pada pentingnya keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, dan moral dalam proses pendidikan. Penelitian ini menegaskan bahwa gagasan pendidikan para filsuf Muslim tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga rasional, berbasis pengalaman, dan memiliki pandangan ke depan. Melalui analisis filosofis dan historis, artikel ini menunjukkan bahwa pemikiran mereka masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan modern yang cenderung menitikberatkan aspek materi dan mengabaikan nilai kemanusiaan. Kajian ini didasarkan pada pandangan bahwa masalah utama pendidikan saat ini bukan hanya terletak pada metode atau sistem pembelajaran, tetapi pada hilangnya tujuan dan makna pendidikan itu sendiri. Oleh sebab itu, pemikiran para filsuf Muslim klasik dikaji sebagai rujukan penting dalam menawarkan konsep pendidikan yang lebih utuh dan berorientasi pada pembentukan manusia secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis dan historis terhadap karya-karya utama para tokoh, sehingga dapat menggali dasar pemikiran pendidikan Islam secara lebih mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan menurut para filsuf Muslim bukan sekadar proses penyampaian ilmu pengetahuan, tetapi merupakan proses pembinaan akal, penyucian jiwa, dan pembentukan akhlak. Temuan ini menegaskan bahwa prinsip pendidikan Islam klasik masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini, terutama dalam menghadapi kecenderungan sekularisasi, penggunaan ilmu secara sempit, dan berkurangnya perhatian terhadap nilai etika dan spiritual.