Stefanus Djoni Husodo
Universitas Hang Tuah

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Patin sebagai sumber omega 3 untuk menurunkan faktor resiko terjadinya MAFLD karena DM tipe 2 Indri N. Rahayu; Asami Rietta Kumala; Dody Taruna; Stefanus Djoni Husodo; Eric Mayo Dagradi; Judya Sukmana
Surabaya Biomedical Journal Vol. 3 No. 1 (2023): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v3i1.114

Abstract

Diet asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) telah diteliti dan terbukti dapat memodulasi peradangan, namun, hanya sedikit beberapa penelitian yang fokusnya pada patobiologi PUFA dengan menggunakan diet isokalori dan isolipid namun belum dapat dijelaskan apakah patologi terkait tersebut disebabkan oleh komposisi diet PUFA, metabolisme lipid, atau obesitas, karena sebagian besar penelitian membandingkan diet dengan yang diberi makan ad libitum. Stres oksidatif dan mitokondria hati berperan dalam patogenesis penyakit hati berlemak nonalcohol. Omega-3 PUFA memiliki peran protektif yang potensial terhadap kerusakan sel oksidatif yang diinduksi ROS pada tikus organ, terutama di hati. Atenuasi hepatic fibrosis oleh EPA (asam eicosapentaenoic) secara signifikan berhubungan dengan kadar ROS hati. EPA juga menekan peningkatan kadar ROS hati dan penurunan penanda oksidatif serum, seperti 8-isoprostan dan feritin. Ikan patin memiliki kandungan asam lemak tak jenuh ganda omega 3 serta selenium yang merupakan antioksidan sehingga dapat menghambat terjadinya progresifisitas kejadian NAFLD maupun MAFLD. Mekanismenya antara lain melalui jalur penghambatan stress oksidatif yang merupakan patofisiologi terjadinya NAFLD maupun MAFLD.
PENGARUH PEMBERIAN TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID DAN KREATININ PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MODEL NEFROPATI DIABETIK DENGAN INDUKSI STREPTOZOTOCIN Muhammad Rasyid Ridho; Moh. Fathi Ilmawan; Irmawati M. Dikman; Stefanus Djoni Husodo
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 3 (2026): May
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i3.191

Abstract

Latar Belakang : Diabetes melitus adalah kumpulan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia persisten yang disebabkan oleh gangguan produksi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini masih banyak menjadi masalah pada sebagian besar masyarakat. Diabetes melitus yang terjadi secara kronis sangat berisiko untuk terjadi komplikasi salah satunya yaitu nefropati diabetik. Nefropati diabetik juga menjadi penyebab utama terjadinya gagal ginjal kronis di Indonesia. Pada nefropati diabetik, ginjal mengalami proses inflamasi yang ditandai dengan meningkatnya kadar malondialdehid (MDA) dalam serum ataupun jaringan. Penyakit ini juga digambarkan dengan adanya penurunan fungsi ginjal sehingga terjadi peningkatan kadar kreatinin yang dapat diukur pada serum darah. Pemberian terapi oksigen hiperbarik diketahui mampu menjadi terapi adjuvant untuk memperbaiki fungsi ginjal dengan menurunkan kadar MDA dan kreatinin dengan menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) model nefropati diabetik yang diinduksi streptozotocin. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi oksigen hiperbarik terhadap kadar MDA dan kreatinin pada tikus model nefropati diabetik yang diinduksi streptozotocin. Metode : Penelitian eksperimen ini menggunakan post test only control group design. Objek penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) model nefropati diabetik yang diinduksi dengan streptozotocin. Terdapat tiga pembagian kelompok sampel, kelompok normal sebagai kontrol negatif (K-), kelompok nefropati diabetik tanpa terapi OHB sebagai kontrol positif (K+), kelompok nefropati diabetik dengan terapi OHB sebagai kelompok perlakuan (Kp). Hasil : Terdapat perbaikan signifikan pada tikus model nefropati diabetik pasca pemberian terapi OHB 2,4 ATA selama 5 hari, berupa penurunan kadar MDA ( p=0.002 ) dan kreatinin ( p=0.005 ) pada kelompok nefropati diabetik dengan TOHB (Kp) dibandingkan dengan kelompok nefropati diabetik tanpa TOHB (K+). Kesimpulan : Pemberian terapi OHB 2,4 ATA selama 5 hari dapat memperbaiki kondisi ginjal pada tikus model nefropati diabetes yang diinduksi streptozotocin melalui penurunan kadar MDA dan kreatinin.