Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ARNI vs ACE Inhibitors in Improving Left Ventricular Geometry, Diastolic Function, and Cardiac Power Output in HFrEF Patients: A Prospective Cohort Study among Acehnese, Indonesia Taufiqurrahman; Teuku Heriansyah; Adi Purnawarman; Novita; Zulkarnain
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 4 (2025): April
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i4.10593

Abstract

Heart failure with reduced ejection fraction (HFrEF) is a condition associated with high morbidity and mortality. Changes in left ventricular geometry, diastolic function, and cardiac power output (CPO) are key indicators in the management of heart failure. ARNI and ACE inhibitors have been proven effective to treat this condition, but comparative studies on these therapies in the Asian population remain limited. This study was conducted to assess changes in left ventricular geometry, diastolic function, and CPO in heart failure patients following ARNI therapy compared to ACE inhibitors among Indonesian. This observational study employed a prospective cohort design involving 73 heart failure patients divided into two groups: the ARNI group and the ACE inhibitor group. Evaluations were conducted at first admission/recruitment and after three months period of therapy using echocardiography to assess parameters of left ventricular geometry (LVMI and RWT), diastolic function (E/e' ratio), and CPO. The use of ARNI or ACE inhibitors over three months showed a significant reduction in LVMI, accompanied by an improvement in diastolic function marked by a significant decrease in the E/e' ratio (p < 0.05). However, no significant differences were observed between the two groups. CPO values increased in both groups with a p-value < 0.05, where ARNI therapy showed a greater improvement compared to ACE inhibitors (p = 0.048). The use of ARNI and ACE inhibitors in heart failure patients can improve CPO, left ventricular geometry, and diastolic function, with ARNI therapy providing a better enhancement in CPO compared to ACE inhibitors.
Relationship between the Left Atrial Volume Index and Left Ventricular Geometry and the Incidence of Atrial Fibrillation in Hypertensive Patients with Cardiovascular Complications Chairatu Sadrina Djeni; Teuku Heriansyah; Mudatsir; Novita; Haris Munirwan
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 8 (2025): August
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i8.12031

Abstract

This study aimed to evaluate the relationships of the left atrial volume index (LAVI) and left ventricular geometry with the incidence of AF in hypertensive patients with cardiovascular complications such as heart failure or coronary arterial disease.  This study employed a retrospective observational cohort design. A total of 202 subjects met the inclusion and exclusion criteria for the study. The subjects were selected from hypertensive patients with cardiovascular complications treated at Dr. Zainoel Abidin General Hospital Banda Aceh, a tertiary referral center in Indonesia, between July and December 2024. 12At the end of the study, the participants were divided into two groups: those with newly diagnosed atrial fibrillation (n=37) and those without atrial fibrillation (n=165). The diagnosis of new-onset atrial fibrillation was based on medical records obtained during hospitalization and continued through a three-month follow-up after discharge via outpatient clinic visits and 12-lead ECG monitoring. The study revealed a significant association between increased LAVI and AF incidence (p < 0.01). The mean LAVI in the AF group was 49.9 ± 19.2 ml/m², whereas it was 33.34 ± 15.6 ml/m² in the non-AF group. Additionally, changes in left ventricular geometry were correlated with increased AF incidence (p value = 0.03), with eccentric hypertrophy showing the highest AF incidence (29.5%). A strong association was also found between increased LAVI and left ventricular geometric changes, with eccentric hypertrophy resulting in the highest mean LAVI (43.2 ± 16.9 ml/m²). The odds ratio (OR) analysis demonstrated that patients with LAVI above the threshold had a significantly greater risk of developing AF (OR: 5.2; 95% CI: 2.475–11.161). Similarly, patients with normal ventricular geometry had a significantly lower risk of AF compared to those with eccentric hypertrophy (OR: 0.148; 95% CI: 0.049–0.449). Increased LAVI and left ventricular geometry changes, particularly eccentric hypertrophy, are significant risk factors for AF in hypertensive patients with cardiovascular complications such as heart failure and coronary arterial disease. Clinical practice should incorporate echocardiographic monitoring of left ventricular geometry and LAVI to prevent the progression of AF and detect risk early
Pengaplikasian Teknik Ikat Celup Pada Busana Casual Pingki Alviola; Novita; Nurbaiti
Jurnal Busana & Budaya Vol. 6 No. 1 (2026): April : Jurnal Busana dan Budaya
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jbb.v6i1.1879

Abstract

Pengaplikasian Teknik Ikat Celup pada Busana Casual Ikat Celup merupakan suatu cara membuat ragam hias diatas permukaan kain dengan menutup bagian yang tidak dikehendaki terkena warna dengan media ikatan atau jahitan, setiap motif yang dihasilkan dari teknik ikat celup memiliki ciri khas tersendiri dan tidak selalu memiliki kesamaan satu sama lain, sehingga motif motif yang unik dan beragam dapat dijumpai pada teknik ikat celup tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat motif kain dengan teknik ikat celup, mendesain busana casual dengan kain motif ikat celup, membuat produk baju casual dengan teknik ikat celup, serta mengetahui daya tarik mahasiswa Departemen Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Konsentrasi Tata Busana terhadap produk baju casual yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen terapan dengan pendekatan kualitatif, peneliti melakukan wawancara dengan 1 pengrajin yang memiliki usaha ikat celup dan memiliki pengetahuan tentang ikat celup dan 5 mahasiswa angkatan 2020 yang sudah lulus mata kuliah ilmu tekstil dengan kumulatif nilai A. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dapat disimpulkan pendapat responden tentang teknik ikat celup memberikan tanggapan yang sangat baik, penggunaan teknik ikat celup sangat sesuai dengan desain busana casual, pemilihan warna yang cocok untuk anak remaja dan penempatan motif ikat celup sesuai dengan model baju yang didesain.
Pemanfaatan Zat Pewarna Alami Dari Tinta Cumi-Cumi (Loligo sp.) Menggunakan Teknik Ikat Celup Pada Produk Sarung Bantal Hias Rizka Safia Putri; Novita; Rosmala Dewi
Jurnal Busana & Budaya Vol. 6 No. 1 (2026): April : Jurnal Busana dan Budaya
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jbb.v6i1.1900

Abstract

Penggunaan pewarna alami dalam industri tekstil semakin berkurang karena pewarna sintetis dianggap lebih praktis meskipun berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Tinta cumi-cumi (Loligo sp.) merupakan pewarna alami yang aman dan ramah lingkungan, namun masih jarang dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan tinta cumi-cumi sebagai pewarna alami pada sarung bantal hias menggunakan teknik ikat celup. Metode yang digunakan adalah eksperimen terapan dengan pendekatan kualitatif, melibatkan lima informan yang dipilih secara purposive. Penelitian dilakukan selama empat bulan di Laboratorium Tata Busana PKK FKIP Universitas Syiah Kuala. Tahapan penelitian meliputi ekstraksi tinta cumi-cumi, pewarnaan kain katun dengan fiksator tawas dan tunjung, pembuatan produk, serta evaluasi melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinta cumi-cumi menghasilkan warna abu-abu khas, dengan fiksator tawas menghasilkan abu kebiruan dan tunjung menghasilkan abu kehijauan. Informan memberikan tanggapan positif terhadap warna, motif, kualitas produk, serta nilai estetika dan potensi jual. Penelitian ini membuktikan bahwa tinta cumi-cumi berpotensi sebagai alternatif pewarna alami ramah lingkungan pada produk tekstil rumah tangga.
Eksplorasi Tradisi Seumuleung Aceh Jaya Sebagai Inspirasi Motif Tekstil Pada Desain Kemeja Pria Formal Nikmah Agustina; Fitriana; Novita
Jurnal Busana & Budaya Vol. 6 No. 1 (2026): April : Jurnal Busana dan Budaya
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jbb.v6i1.1911

Abstract

Motif tekstil merupakan bagian penting dalam perkembangan industri fashion, khususnya Indonesia yang memiliki ragam budaya dan tradisi yang dapat dijadikan inspirasi penciptaan motif tekstil. Tradisi seumulueng di Aceh Jaya merupakan tradisi menyuapi raja yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Aceh Jaya setiap tahun pada hari ketiga Idul Adha sebagai bentuk penghormatan kepada keturunan Raja. Penelitian berupaya mengeksplorasi tradisi seumuleung sebagai sumber ide dalam pengembangan motif tekstil, bertujuan mendesain dan menerapkan motif pada kemeja pria formal serta mengetahui tanggapan informan terhadap produk yang dihasilkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan purposive sampling terdahap tiga informan. Data dikumpulkan melalui eksplorasi, eksperimen, wawancara dan dokumentasi. Kemudian dianalisis secara bertahap melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplorasi terhadap tradisi seumuleung menghasilkan beberapa elemen visual, seperti siluet tangan yang menyuapi raja, bentuk bangunan, serta flora lokal Aceh Jaya. Motif diaplikasikan pada tekstil menggunakan teknik printing, dan menghasilkan dua kemeja pria formal dengan motif yang sama, namun peletakannya yang berbeda. Tanggapan informan menunjukkan apresiasi positif terhadap motif dan produk kemeja yang dihasilkan, mereka menegaskan bahwa pengangkatan tradisi lokal menjadi motif tekstil merupakan langkah strategis dalam pelestarian budaya, penguatan identitas daerah, serta berpotensi menjadi produk unggulan yang mendukung ekonomi kreatif.