Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pembentukan Karakter Religius Dan Solidaritas Sosial Melalui Aksi Bagi-Bagi Takjil Di Desa Yosorati Kecamatan Sumberbaru Ulya Maulani Subhan; Roni Subhan; Hakam Adilla Subhan
Aksi Kita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2025): NOVEMBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/agb8m934

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat melalui aksi bagi-bagi takjil di Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru, merupakan bentuk implementasi nilai religius dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di bulan suci Ramadan. Di sisi lain, aksi bagi-bagi takzil  juga ingin mewujudkan organisasi FATAYAT yang bias bekerjasama dan mewujudkan gotong royong antar anggota. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menanamkan dan mendeskripsikan karakter religius seperti keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi, sekaligus membangun solidaritas sosial antarwarga. Metode pelaksanaan menggunakan PAR (Partcipatory Action Research) yang dilakukan melalui pembagian takjil kepada masyarakat umum, terutama pengguna jalan dan warga kurang mampu, dengan melibatkan pemuda, remaja masjid, dan elemen masyarakat lainnya. Jumlah takzil yang dibagikan sebanyak 600 takzil. Pembagian takzil dilakukan bekerja sama dengan Polsek untuk menjaga kemanan adanya pengendara sepeda motor ataupun mobil. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa aksi sederhana seperti pembagian takjil mampu mempererat hubungan sosial, meningkatkan rasa empati, dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. Makanan dan minuman terbungkus dalam sebuah plastik yang dijadikan satu oleh para anggota perempuan pemuda FATAYAT. Selain itu, keterlibatan aktif pemuda perempuan FATAYAT didorong agar bias menumbuhkan rasa kebersamaan dan empati terhadap sesama anggota.  Pengembangan program yang serupa merupakan salah satu harapan dapat menjadi kelanjutan dan inspirasi bagi wilayah lain. 
PENGEMBANGAN LITERASI BERBASIS BUDAYA: PELATIHAN HURUF PEGO BAGI SANTRI SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN AKSARA TRADISIONAL Ulya Maulani Subhan
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 4 No. 04 (2026): JULI 2026
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pegon adalah sistem penulisan bahasa lokal, terutama bahasa Jawa, Sunda, dan Madura, menggunakan huruf Arab yang telah dimodifikasi untuk menyesuaikan bunyi yang tidak terdapat dalam bahasa Arab. Aksara Pegon memiliki posisi yang sangat penting dalam tradisi intelektual pesantren. Selain berfungsi sebagai alat bantu dalam memahami kitab kuning, Pegon juga menjadi media transmisi nilai-nilai keislaman dan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Metode yang digunakan yaitu Assed-Based Community Development (ABCD) menekankan pada pengembangan dalam setiap tahapan. Tahapan-tahapan tersebut diantaranya yaitu identifikasi asset komunitas, identifikasi masalah, menyusun dan melaksanakan rencana, dan evaluasi kegiatan. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran pego yaitu santri baru yang sebelumnya tidak sepenuhnya mengenal tentang penulisan pegon kini mulai bisa membedakan huruf huruf pegon beserta cara bunyinya.
Gender Stereotypes in EYL Textbook Visual Imagery: Implications for Inclusive Classroom Learning Setyo Utami; Ulya Maulani Subhan; Ahmad Syairofi; Rusma Adam; Ladawan Longsoh
AT-THULLAB : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol 10 No 1 (2026): At-Thullab : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/atl.v10i1.2926

Abstract

This study investigates gender representation in the My Next Words English textbook series, a nationally endorsed resource for Indonesian elementary schools. Using Critical Content Analysis (CCA), 882 human illustrations containing 2,150 characters were analyzed through Harper's Framework of Gender Stereotypes in Children's Literature. The findings reveal that male characters outnumber female characters (54.3% vs. 45.7%) and are more frequently portrayed in diverse occupations, leadership positions, sports, and public activities. Traditional gender stereotypes accounted for 50.6% of all illustrations, whereas gender-sensitive (27.2%), gender-restrictive (19.3%), and gender-neutral (2.9%) representations were considerably less frequent. The study also identifies an invisible gender barrier, characterized by the implicit visual segregation of boys and girls within shared educational settings. By integrating Harper's Framework with Hidden Curriculum, Social Role Theory, and Critical Pedagogy, this study extends current scholarship on gender representation. It offers a new conceptual perspective for advancing inclusive textbook development and equitable English language education.