Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perspektif Buya Hamka tentang Urgensi Spiritual Quotient (SQ) dalam Pendidikan Islam Adintya Salsabilla; Nurussakinah Daulay; Mohammad Al Farabi
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 13 No. 3 Agustus (2024): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.980

Abstract

Penelitian ini mengulas pandangan Buya Hamka tentang urgensi Spiritual Quotient (SQ) dalam pendidikan Islam. Buya Hamka, seorang cendekiawan Muslim terkemuka abad ke-20, menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual (IQ) dan emosional (EQ), tetapi juga kecerdasan spiritual (SQ) sebagai landasan utama dalam membentuk karakter dan moralitas individu Muslim. Penelitian ini menggali pemikiran-pemikiran Buya Hamka dari berbagai karya tulisnya, terutama dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis konten untuk mengidentifikasi konsep-konsep utama yang ditekankan oleh Buya Hamka mengenai SQ dan implikasinya dalam konteks pendidikan Islam. Temuan dari penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana Buya Hamka memandang SQ sebagai pondasi esensial dalam pembentukan insan Muslim yang seimbang secara spiritual, intelektual, dan moral. Implikasi dari penelitian ini dapat membantu pengembangan kurikulum dan strategi pembelajaran dalam pendidikan Islam untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan moralitas generasi muda Muslim di era kontemporer.
Pembentukan Karakter Rasa Ingin Tahu Siswa pada Pembelajaran PAI di SMP Swasta Sinar Husni Medan Siti Faridah; Hasan Matsum; Mohammad Al Farabi
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 2 (2026): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/46er6962

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembentukan karakter rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Swasta Sinar Husni Medan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses pembentukannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan utama penelitian adalah guru Pendidikan Agama Islam, sedangkan informan pendukung meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan siswa. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter rasa ingin tahu siswa dilakukan melalui proses pembelajaran yang aktif, pembiasaan dalam kegiatan sekolah, serta kerja sama antara guru dan orang tua. Pembiasaan tersebut mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan mencari informasi secara mandiri sehingga rasa ingin tahu berkembang menjadi bagian dari karakter sehari-hari. Faktor pendukung pembentukan karakter meliputi tersedianya fasilitas pembelajaran yang memadai dan dukungan lingkungan sekolah. Sementara itu, faktor penghambat meliputi rendahnya keaktifan sebagian siswa dalam pembelajaran serta kurang optimalnya peran orang tua dalam mendampingi proses belajar di rumah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter rasa ingin tahu memerlukan sinergi antara sekolah, guru, dan keluarga agar dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Efektivitas Layanan Bimbingan Kelompok untuk Meningkatkan Kematangan Emosi Siswa Kelas XI di MAN Pematangsiantar Ikrimah Amalah Batubara; Mohammad Al Farabi; Alfin Siregar
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 3 (2026): September
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i3.1142

Abstract

Kematangan emosi merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan diri dan mengekspresikan emosi secara tepat sesuai situasi sehingga memudahkan proses adaptasi sosial. Studi pendahuluan di MAN Pematangsiantar menemukan sejumlah indikasi rendahnya kematangan emosi siswa kelas XI, antara lain kurangnya etika berbicara terhadap guru, mudah terpancing amarah terhadap teman sebaya, dan mudah terpancing emosi ketika ditegur oleh guru mata pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan kematangan emosi siswa kelas XI di MAN Pematangsiantar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 8 siswa kelas XI IPA 2 yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan skor kematangan emosi rendah pada tahap pretest. Pengumpulan data menggunakan skala Likert kematangan emosi sebanyak 22 item, dan data dianalisis menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor rata-rata kematangan emosi siswa dari 636 (pretest) menjadi 680 (posttest). Hasil uji Wilcoxon memperoleh nilai Z = -2,536 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,011 (<0,05), sehingga hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok efektif dalam meningkatkan kematangan emosi siswa kelas XI di MAN Pematangsiantar.