Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Health Disparity Reduction Policy through Community Health Centers in Remote Areas Andi Hardianti; Asni Hasanuddin; Kamesyworo Kamesyworo; La Ode Asrianto
Oshada Vol. 2 No. 2 (2025): Oshada Journal - April
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/3gh8jm87

Abstract

The gap in access and quality of health services in Indonesia, especially in remote areas, is a structural problem that continues to hamper the development of the health sector. The unequal distribution of health workers, limited infrastructure, and low investment in basic service facilities cause people in 3T (Disadvantaged, Frontier, and Outermost) areas to experience delays in medical treatment and high maternal and infant mortality rates. Community health centers as primary health care institutions play a strategic role in overcoming this problem. However, the effectiveness of the role of Community Health Centers is often hampered by the imbalance between central policy design and local conditions, as well as a lack of resources and infrastructure. This study uses a qualitative approach with a case study in one of the 3T areas to explore the challenges and strategies for reducing health disparities through Community Health Centers. The results show that the health policies implemented are often not contextual to local needs, such as limited medical personnel and infrastructure. Therefore, an approach based on local data and involving the community in policy formulation is needed to create more adaptive solutions. Decentralization of policies and the use of technology such as telemedicine are key to increasing the effectiveness of health services in remote areas.
PEMETAAN DATA TINGKAT AFP DAN KETERSEDIAAN SPESIMEN TAHUN 2024 DAN 2025 Andi Hardianti
Jurnal Spektrum Kesehatan Vol 1 No 3 (2025): Vol. 1 No. 3 September 2025
Publisher : PT. Media Ilmiah Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/rum-kes.v1i3.28

Abstract

Surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP) merupakan komponen kritis dalam mempertahankan status bebas polio Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan memetakan distribusi kasus AFP serta ketersediaan spesimen di Sulawesi Selatan tahun 2024-2025 menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan analisis cross-sectional data sekunder dari laporan Dinas Kesehatan Provinsi. Hasil menunjukkan heterogenitas spasial yang signifikan dalam kinerja surveilans dengan tingkat AFP berkisar 0,8-3,2 per 100.000 anak di bawah 15 tahun, dimana beberapa kabupaten mencapai target WHO ≥2 per 100.000 sementara yang lain masih di bawah ambang minimal. Kualitas pengumpulan spesimen mencapai rata-rata 67%, masih di bawah target WHO 80%, dipengaruhi oleh keterlambatan pengiriman, kondisi cold chain tidak optimal, dan ketidakpatuhan protokol. Karakteristik epidemiologi menunjukkan pola konsisten global dengan kasus terbanyak pada anak laki-laki usia 1-4 tahun dan Guillain-Barré Syndrome sebagai diagnosis utama. Pemetaan ini mengidentifikasi area yang memerlukan penguatan surveilans dan memberikan dasar pengambilan kebijakan berbasis bukti untuk meningkatkan efektivitas deteksi dini poliovirus serta memelihara status bebas polio Indonesia jangka panjang.
ANALISIS RISIKO TRANSMISI POLIO BERBASIS INDIKATOR SURVEILANS AFP DAN CAKUPAN IMUNISASI DI SULAWESI SELATAN TAHUN 2025 Andi Hardianti; Nurul Azizah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 3 No. 3 (2026): April
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v3i3.7215

Abstract

Sulawesi Selatan menghadapi tantangan dalam mempertahankan status bebas polio akibat adanya celah imunitas. Penelitian ini bertujuan memetakan risiko transmisi wilayah melalui integrasi kinerja surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP) dan cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) tahun 2025. Studi deskriptif dengan pendekatan stratifikasi risiko (risk stratification) ini menggunakan data sekunder dari 24 kabupaten/kota yang dihimpun secara cross-sectional. Data dikelompokkan secara deskriptif menggunakan matriks stratifikasi risiko bertingkat berdasarkan variabel Non-Polio AFP Rate dan Cakupan IDL. Hasil menunjukkan sensitivitas surveilans provinsi tinggi (Rate 3.60) dengan kualitas spesimen prima (94%). Namun, untuk menghindari bias cut-off tunggal, kategorisasi 3 level diterapkan dan menemukan disparitas signifikan, termasuk empat kasus pending di daerah urban strategis. Hasil stratifikasi matriks mengidentifikasi adanya sebaran wilayah di tingkat risiko "Sedang" (cakupan 80-94%) dan risiko "Tinggi" (cakupan <80%), meskipun secara umum surveilans mampu mendeteksi kasus. Kesimpulannya, meskipun sistem deteksi dini berkinerja sangat baik, terdapat "kantong risiko" akibat gradasi kesenjangan imunitas. Rekomendasi utama adalah pelaksanaan imunisasi catch-up mendesak yang ditargetkan berdasarkan level kerawanan zona untuk mencegah transmisi virus.