Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mengkaji Pengembangan Pariwisata Melalui Model CIPP (Context, Input, Process, Product): Studi Kasus Pulau Maitara, Kota Tidore, Maluku Utara Fergiawan Fergiawan; Muhammad Yopan
Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) Vol. 6 No. 4 (2025): Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ)
Publisher : Yayasan Pendidikan Riset dan Pengembangan Intelektual (YRPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/msej.v6i4.7972

Abstract

Pulau Maitara yang terletak di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan wisata bahari. Namun demikian, potensi ini menghadapi beberapa kendala, termasuk infrastruktur yang kurang memadai, keterlibatan masyarakat lokal yang masih terbatas, dan kurangnya keragaman atraksi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pengembangan atraksi wisata di Pulau Maitara dengan menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggabungkan berbagai metode pengumpulan data, termasuk wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen, yang melibatkan para pemangku kepentingan seperti pejabat pemerintah daerah, perwakilan bisnis, dan anggota masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa, dari sudut pandang kontekstual, program pengembangan pariwisata selaras dengan kebutuhan daerah dan sesuai dengan kebijakan pariwisata nasional. Studi ini menyoroti perlunya mengatasi tantangan yang teridentifikasi dengan menggarisbawahi relevansi inisiatif pengembangan pariwisata ini dengan tujuan strategis daerah. Upaya di masa depan harus memprioritaskan peningkatan infrastruktur, mendorong partisipasi masyarakat yang lebih besar, dan mendiversifikasi atraksi wisata untuk sepenuhnya memanfaatkan potensi pariwisata pulau ini dan mendorong pertumbuhan ekonomi regional yang berkelanjutan. Evaluasi terhadap masukan mengidentifikasi beberapa keterbatasan yang signifikan, termasuk keterbatasan anggaran, kurangnya sumber daya manusia yang memadai, dan infrastruktur yang tidak memadai. Terkait dengan implementasi program, efektivitasnya terhambat oleh lemahnya koordinasi lintas sektor dan terbatasnya keterlibatan masyarakat. Meskipun evaluasi produk menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan, manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal masih sangat minim. Singkatnya, program pengembangan pariwisata Pulau Maitara membutuhkan peningkatan alokasi sumber daya, peningkatan kapasitas lembaga, dan pemberdayaan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan. Rekomendasi kebijakan harus berfokus pada peningkatan dukungan anggaran, penyediaan pelatihan untuk sumber daya manusia, dan mengintegrasikan inisiatif berbasis masyarakat.
Clinical Pharmacy Services in Hospital Settings in Timor- Leste: A Systematic Literature Review Justina Dos Santos; Muhammad Yopan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57780

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi terkini layanan farmasi klinis di rumah sakit di Timor-Leste, mengidentifikasi hambatan dan faktor pendukung implementasinya, serta mengevaluasi model praktik yang dapat diadaptasi dari negara Asia Tenggara. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA melalui pencarian database PubMed, Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Sebanyak 15 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan pendekatan sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan farmasi klinis di Timor-Leste masih berada pada tahap awal dan didominasi oleh fungsi dispensing. Hambatan utama meliputi keterbatasan tenaga farmasis, kurangnya pelatihan klinis, lemahnya kebijakan, serta minimnya integrasi dalam tim multidisiplin. Sebaliknya, faktor pendukung meliputi dukungan kebijakan, penguatan SDM, serta integrasi layanan berbasis tim. Model praktik yang relevan untuk diadaptasi meliputi program kepatuhan obat, layanan farmasi berbasis bangsal, antimicrobial stewardship, dan medication review. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan layanan farmasi klinis di Timor-Leste memerlukan pendekatan sistemik yang mengintegrasikan kebijakan, kapasitas SDM, dan model layanan berbasis bukti. Kata Kunci: farmasi klinis, rumah sakit, LMIC, Timor-Leste, systematic review Abstract This study aims to analyze the current state of hospital clinical pharmacy services in Timor-Leste, identify key barriers and facilitators to their implementation, and determine adaptable practice models from Southeast Asian countries. A systematic literature review (SLR) was conducted following PRISMA guidelines using databases including PubMed, Scopus, Web of Science, and Google Scholar. A total of 15 eligible peer-reviewed studies published between 2021 and 2025 were included and analyzed using thematic synthesis. The findings indicate that clinical pharmacy services in Timor-Leste remain at an early stage of development and are predominantly limited to traditional dispensing roles. Major barriers include workforce shortages, limited clinical training, weak policy frameworks, and lack of integration into multidisciplinary healthcare teams. Conversely, key facilitators identified across Southeast Asia include strong policy support, workforce development, and structured clinical pharmacy service models. Several adaptable models were identified, including medication adherence programs, ward-based clinical pharmacy services, antimicrobial stewardship programs, and medication review systems. This study concludes that advancing clinical pharmacy services in Timor-Leste requires a system-level approach integrating policy reform, workforce strengthening, and evidence-based service implementation. Keywords: clinical pharmacy, hospital, LMIC, Timor-Leste, systematic review
The Implementation of Meaningful Participation in Lawmaking: A Comparative Study and Its Implications for Indonesia Sa’adati; Muhammad Yopan
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 6 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i6.6040

Abstract

This study aims to analyze the implementation of meaningful participation in lawmaking in Indonesia, compare it with practices in South Africa and Kenya, and examine its implications for strengthening legislative governance in Indonesia. This study employs a qualitative approach enriched with comparative analysis and public policy analysis. The data used consist of secondary data, including legislation, Constitutional Court decisions, reports, and articles relevant to public participation practices in the comparison countries. The results of the study indicate that although Indonesia has a legal foundation that recognizes public participation, its implementation remains procedural and does not yet meet the indicators of meaningful participation, such as access to information, representation, substantive influence, deliberation, and accountability. A comparative study with South Africa and Kenya shows that similar challenges exist, even though both countries have normative reinforcement at the constitutional level. The main issues lie in implementation, particularly limited access, the dominance of elite groups, weak feedback mechanisms, and minimal public influence on policy substance. This study concludes that strengthening meaningful participation in Indonesia requires improvements in institutional design, stronger accountability mechanisms, and a paradigm shift from procedural participation to substantive participation.