Inko Sakti Dewanto
Institut Teknologi Nasional Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE ADAPTATION AND IMPLEMENTATION OF SINGA BATAK CARVING INTO LATIN LETTER TYPEFACE Inko Sakti Dewanto; Muhammad Yulhanri Alfath
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Every region in Indonesia has strong art with its characteristics, one of which is wood carving. Local wisdom in each region saves the uniqueness of its patterns and forms so that carving art in Indonesia becomes rich in identity and valuable cultural expressions. Of the many carving arts, the Batak region is famous for its carving art in the form of a lion, which is often found in the traditional houses of the Batak Toba. The lion carving symbolizes the figure of a generous king. In addition, lion ornaments in the Batak community are also believed to be bad luck repellents, which are thick with magical symbolic values inherited from the ancestors. Unfortunately, along with the times and technology, the art of Singa Batak carving is now starting to be forgotten and less recognized, especially by the younger generation. So, this research and design was carried out, as an effort to make local cultural artifacts closer to the current generation, especially in the Batak community and North Sumatra region. The research generally used a qualitative approach, namely visual adaptation. The result is a Latin typeface “Gorga”, inspired by the Singa Batak carving with the concept of “firm and dynamic”, which has been tested, then implemented on several regional tourism promotional media to preserve Batak culture through modern visual expression. This typeface is expected to be a bridge that perpetuates and preserves the noble values of Batak culture to the current and future generations.
Repetisi Simbol Lingkaran Pada Pembuka Ke 25 Anime One Piece Inko Sakti Dewanto
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.10439

Abstract

One Piece merupakan mahakarya komikus Jepang, Eichiiro Oda, yang telah meraih kesuksesan global sejak awal perilisannya pada tahun 1997. Kejeniusan Oda dalam meramu jalan cerita merupakan kunci sukses dari serial One Piece sehingga masih berlangsung hingga kini. Serial anime One Piece telah bekerjasama dengan banyak musisi yang menyumbangkan lagu untuk pembukaan dan penutupnya. Pada episode 1074, pembuka anime One Piece menggunakan lagu "Saiko Totatsuten" (yang berarti “Titik Tertinggi”) karya band Jepang "Sekai No Owari". Pembuka ke-25 ini terasa spesial karena menjadi pengantar menuju akhir petualangan kru bajak laut Topi Jerami di Negeri Wano (negeri para samurai). Peneliti mengangkat topik ini karena dalam pembuka anime tersebut menyisipkan banyak simbol lingkaran yang muncul dari awal hingga akhir. Lingkaran atau dalam budaya Jepang disebut “Enso”, dijelaskan sebagai simbol integritas, ketidakterbatasan, dan keabadian yang merepresentasikan dewa matahari. Berdasarkan teori Image of Time, lingkaran mencerminkan perjalanan waktu dan peristiwa-peristiwa kronologis. Landasan teori inilah yang membagi pembahasan artikel ini ke dalam tiga bagian utama yaitu sejarah dan penjajahan negeri Wano, perjuangan pembebasan negeri Wano, hingga perayaan kemenangan perjuangan di negeri Wano. Hasil kajiannya bahwa pembuka ke 25 anime One Piece memuat banyak nilai mitos primitif, seputar hidup-mati, manusia-dewa/dewi, serta baik-jahat/buruk. Maka demikian, sebegitu menariknya simbol-simbol lingkaran dalam pembuka anime ke-25 One Piece untuk dikaji, karena kandungan makna-makna simbolik yang tersembunyi di baliknya.