Inko Sakti Dewanto
Institut Teknologi Nasional Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : de-lite

Repetisi Simbol Lingkaran Pada Pembuka Ke 25 Anime One Piece Inko Sakti Dewanto
de-lite Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v5i2.10439

Abstract

One Piece merupakan mahakarya komikus Jepang, Eichiiro Oda, yang telah meraih kesuksesan global sejak awal perilisannya pada tahun 1997. Kejeniusan Oda dalam meramu jalan cerita merupakan kunci sukses dari serial One Piece sehingga masih berlangsung hingga kini. Serial anime One Piece telah bekerjasama dengan banyak musisi yang menyumbangkan lagu untuk pembukaan dan penutupnya. Pada episode 1074, pembuka anime One Piece menggunakan lagu "Saiko Totatsuten" (yang berarti “Titik Tertinggi”) karya band Jepang "Sekai No Owari". Pembuka ke-25 ini terasa spesial karena menjadi pengantar menuju akhir petualangan kru bajak laut Topi Jerami di Negeri Wano (negeri para samurai). Peneliti mengangkat topik ini karena dalam pembuka anime tersebut menyisipkan banyak simbol lingkaran yang muncul dari awal hingga akhir. Lingkaran atau dalam budaya Jepang disebut “Enso”, dijelaskan sebagai simbol integritas, ketidakterbatasan, dan keabadian yang merepresentasikan dewa matahari. Berdasarkan teori Image of Time, lingkaran mencerminkan perjalanan waktu dan peristiwa-peristiwa kronologis. Landasan teori inilah yang membagi pembahasan artikel ini ke dalam tiga bagian utama yaitu sejarah dan penjajahan negeri Wano, perjuangan pembebasan negeri Wano, hingga perayaan kemenangan perjuangan di negeri Wano. Hasil kajiannya bahwa pembuka ke 25 anime One Piece memuat banyak nilai mitos primitif, seputar hidup-mati, manusia-dewa/dewi, serta baik-jahat/buruk. Maka demikian, sebegitu menariknya simbol-simbol lingkaran dalam pembuka anime ke-25 One Piece untuk dikaji, karena kandungan makna-makna simbolik yang tersembunyi di baliknya.
Pemasaran Interaktif yang Melampaui Zaman dalam Industri Musik Pop Indonesia Era 1980-an: Studi Kasus Sampul Album Kaset JK Records Inko Sakti Dewanto; Asep Ramdhan
de-lite Vol. 6 No. 1 (2026): July 2026
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v6i1.11283

Abstract

Industri musik pop Indonesia pada dekade 1980-an didominasi oleh media kaset pita sebagai komoditas budaya, sehingga menciptakan persaingan antar label rekaman yang sangat ketat. Di tengah situasi tersebut, label rekaman JK Records hadir dengan strategi visual yang visioner dengan mentransformasi sampul album kaset yang tidak sekadar sebagai kemasan pembungkus, melainkan sebagai platform pemasaran interaktif yang melampaui zamannya. Penelitian ini bertujuan untuk membedah secara mendalam bagaimana elemen-elemen visual dan interaktif pada sampul kaset JK Records bekerja secara sistematis sebagai mesin pemasaran untuk mendongkrak penjualan dan membangun loyalitas para penggemar musik pop. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan purposive sampling dalam proses seleksi artefak fisik sampul kaset JK Records era 1980-an, berdasarkan kriteria sampul yang memiliki fitur-fitur interaktif seperti undian berhadiah, bonus kalender, foto-foto eksklusif para musisinya, serta korespondensi surat menyurat melalui PO BOX. Data primer juga ditunjang oleh wawancara dengan pihak manajemen kreatif JK Records. Analisis dilakukan dengan menggunakan pisau bedah teori experiential marketing (sense, feel, think, act, relate), sales promotion (sweepstakes dan premiums), serta konsep impulse buying dan collecting behavior. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama, yaitu: 1) JK Records secara sadar mengkonstruksi identitas visual idola pop melalui komodifikasi wajah rupawan musisi sebagai jangkar emosional yang menyentuh ranah sensorik dan perasaan audiens; 2) nilai craftsmanship tinggi melalui penerapan teknik tipografi manual (hand-lettering) yang memberikan eksklusivitas dan karakter organik; 3) inovasi pemasaran interaktif diterapkan secara terstruktur melalui penyertaan bonus fisik seperti kalender dan poster (premiums), penyediaan undian berhadiah mewah (sweepstakes), serta pencantuman alamat PO BOX untuk korespondensi surat-menyurat yang memfasilitasi interaksi parasosial di ruang privat penggemar. Kesimpulannya, JK Records telah mempraktikkan manajemen pengalaman konsumen (customer experience) terpadu di era pra-digital, sehingga menjadikan kemasan kaset sebagai artefak visual yang signifikan dalam membentuk budaya populer Indonesia masa itu.