Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Hama Pada Tanaman Buah Semangka Sistem Tumpang Sari Di Desa Nusa Tenggara Destiana; Mufti Ali
SIMBIOSIS: Jurnal Sains Pertanian Vol. 2 No. 2 (2025): Edisi September
Publisher : Prodi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/mcpvjp66

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama yang menyerang tanaman semangka di desa nusa tenggara, kecamatan belitang iii, kabupaten oku timur. penelitian kualitatif ini menggunakan metode wawancara langsung dengan petani, observasi, identifikasi, dan dokumentasi. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 jenis hama yang menyerang tanaman semangka, antara lain ulat grayak, kutu kebul, ulat jengkal, dan siput sebagai hama yang paling dominan dan sering ditemukan. faktor lingkungan mempengaruhi keanekaragaman spesies arthropoda. penggunaan pestisida berbahan aktif profenofos dan sistem tumpangsari dapat efektif dalam mengendalikan populasi hama dan meminimalkan penggunaan pestisida dan herbisida, sehingga berdampak positif pada kesehatan lingkungan dan manusia. penelitian ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengembangan strategi pengendalian hama yang efektif pada tanaman semangka.
Perbandingan Pertumbuhan Tanaman Terong (Solanum melongena L.) pada Sistem Pertanian Organik dan Konvensional Arjun Naja; Wening Tyas; Arini Rosa Sinensis; Mufti Ali
SIMBIOSIS: Jurnal Sains Pertanian Vol. 3 No. 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : Prodi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/6h2p2642

Abstract

Penelitian ini menganalisis pertumbuhan tanaman terong (Solanum melongena) menggunakan metode pertanian organik dan konvensional selama satu bulan. Masalah yang diidentifikasi adalah perlunya pendekatan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengatasi degradasi lahan, pencemaran lingkungan, dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat akibat praktik pertanian konvensional.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pertumbuhan tanaman terong dengan kedua metode tersebut. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan polybag di ruang terbuka, dilaksanakan pada tanggal 5 Mei hingga 5 Juni 2025 di Desa Kerujon, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.Media tanam yang digunakan adalah tanah kompos dan arang sekam. Untuk budidaya organik, digunakan POC atau fotosintesis bakteri, sedangkan untuk konvensional digunakan pupuk NPK Mutiara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC fotosintesis bakteri belum memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman terong pada umur 1 bulan setelah tanam karena tanaman lebih memfokuskan unsur N untuk pertumbuhan pucuk dibandingkan pertumbuhan akar. Pada minggu ke-2, tinggi rata-rata tanaman terong organik mencapai 12,4 cm, dan pada minggu ke-3 meningkat menjadi 17,2 cm, lalu pada minggu ke-4 mencapai 18,4 cm.Sementara itu, pemberian pupuk NPK Mutiara pada pertanian konvensional berpengaruh pada tinggi tanaman umur 3 minggu setelah tanam, dengan tinggi rata-rata mencapai 18,8 cm, dan pada minggu ke-4 mencapai 20,5 cm.Ini menunjukkan bahwa pupuk NPK Mutiara bagus untuk pertumbuhan vegetatif tanaman.