Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Pemberian POC Tauge Dan Seresah Daun Bagi Pembuahan Jambu Air (Syzygium aqueum) Varietas Deli Hijau Dengan Teknik Alifia Okta Billa Margita; Wening Tyas
SIMBIOSIS: Jurnal Sains Pertanian Vol. 2 No. 2 (2025): Edisi September
Publisher : Prodi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/74bjsc63

Abstract

Jambu air (Syzygium samarangense)  Varietas Deli Hijau merupakan tumbuhan dalam suku jambu jambuan asli Indonesia. Tumbuhan ini dapat tumbuh hampir semua wilayah Indonesia karena dapat menyesuaikan jenis tanahnya asalkan tanahnya subur, gembur, dan banyak air. Varietas baru jambu air MDH, disarankan agar varietas ini dibudidayakan dengan metode "tabulampot" (tanaman buah dalam pot) daripada ditanam langsung di lahan terbuka. Permasalahan yang ditemui dalam budidaya Tabulampot adalah perlunya perawatan yang intensif untuk merangsang pembuahan.  Penggunaan pupuk organik dapat memicu terjadinya proses pengikatan dan pelepasan ion dalam tanah yang berperan dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh POC Tauge dalam proses pembuahan Jambu Air dengan sistem Tabulampot. Metode yang digunankan dalam penelitian ini adalah metode Eksperimen. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan 4 ulangan pada masing-masing perlakuan. Perlakuan terdiri dari: P1: Kontrol, P2: POC Tauge. Pengamatan dilakukan terhadap unutuk melihat variabel pertumbuhan meliputi keberhasilan POC, waktu munculnya bunga, dan waktu munculnya buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan POC Tauge dengan dosis 20ml/1 liter air sebagai perangsang pembuahan jambu air nyata hasilnya dibandingkan dengan yang tidak menggunakan POC yang tidak muncul buahnya selama pengamatan.
Pengendalian Busuk Batang pada  Daun Sawi Dengan Pestisida Nabati Ekstrak Daun Kelor Ima Arniati; Wening Tyas; Lisa Pratama
SIMBIOSIS: Jurnal Sains Pertanian Vol. 2 No. 2 (2025): Edisi September
Publisher : Prodi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/zaxkvv90

Abstract

Penyakit busuk batang merupakan salah satu masalah utama dalam budidaya tanaman sawi yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan. Penggunaan pestisida kimia sintetis yang berlebihan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak daun kelor sebagai pestisida nabati ramah lingkungan untuk mengendalikan penyakit busuk batang pada tanaman sawi. Penelitian dilaksanakan di Desa Bumi Harjo, Lampung pada tanggal 16 April 2025 menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL).Ekstrak daun kelor diperoleh melalui metode perendaman dengan perbandingan berat daun kering dan volume air 1:5 (w/v) selama 24 jam. Perlakuan terdiri dari lima konsentrasi ekstrak daun kelor yaitu 0% (kontrol), 5%, 10%, 15%, dan 20% yang diaplikasikan setiap tiga hari sekali selama 21 hari. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan penyakit, luas daun terserang, dan pertumbuhan tanaman. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor berpengaruh signifikan terhadap pengendalian penyakit busuk batang pada tanaman sawi. Konsentrasi 15% memberikan efektivitas pengendalian sebesar 55,2% dengan penurunan luas daun terserang sebesar 68,2% ± 3,4%. Konsentrasi 20% menunjukkan efektivitas tertinggi mencapai 67,1% dengan kategori sangat efektif. Selain itu, perlakuan ekstrak daun kelor juga meningkatkanpertumbuhan tanaman sawi dengan tinggi rata-rata 35,6 cm ± 2,2 cm pada konsentrasi 15% dibandingkan kontrol yang hanya 27,3 cm ± 1,8 cm. Senyawa bioaktif dalam daun kelor seperti flavonoid, tanin, dan saponin berperan sebagai agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan patogen penyebab busuk batang. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kelor efektif sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan penyakit busuk batang pada tanaman sawi dan merupakan alternatif yang ramah lingkungan, ekonomis, dan berkelanjutan untuk menggantikan pestisida kimia sintetis.
Strategi Pemasaran Produk “Sale Pisang Manis” Di Desa Yosowinangun Kecamatan Belitang Madang Raya OKU Timur Dafa Surya Pratama; Wening Tyas
SIMBIOSIS: Jurnal Sains Pertanian Vol. 3 No. 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : Prodi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/hqs8er73

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemasaran produk pisang manis di Desa Yosowinangun BK 11, Kecamatan Belitang Madang Raya, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggunakan wawancara mendalam dengan pemilik usaha rumahan setempat sebagai sumber data utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran masih tradisional dan kurang memanfaatkan media digital. Promosi dilakukan langsung melalui pasar lokal dan pelanggan setia tanpa perencanaan formal atau penggunaan media sosial yang optimal. Tantangan tambahan meliputi pencatatan keuangan yang buruk, penetapan harga yang tidak berdasarkan analisis biaya, modal terbatas, dan kurangnya pelatihan atau pendampingan UMKM. Selain itu, kemasan dan branding sangat mendasar dan gagal mencerminkan nilai pasar produk secara visual. Meskipun pengusaha tersebut menyatakan keterbukaan terhadap inovasi dan kolaborasi, belum ada kemitraan formal yang terjalin. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan pemasaran digital, manajemen keuangan, dan pendampingan bisnis berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing produk lokal.
Perbandingan Pertumbuhan Tanaman Terong (Solanum melongena L.) pada Sistem Pertanian Organik dan Konvensional Arjun Naja; Wening Tyas; Arini Rosa Sinensis; Mufti Ali
SIMBIOSIS: Jurnal Sains Pertanian Vol. 3 No. 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : Prodi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/6h2p2642

Abstract

Penelitian ini menganalisis pertumbuhan tanaman terong (Solanum melongena) menggunakan metode pertanian organik dan konvensional selama satu bulan. Masalah yang diidentifikasi adalah perlunya pendekatan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengatasi degradasi lahan, pencemaran lingkungan, dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat akibat praktik pertanian konvensional.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pertumbuhan tanaman terong dengan kedua metode tersebut. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan polybag di ruang terbuka, dilaksanakan pada tanggal 5 Mei hingga 5 Juni 2025 di Desa Kerujon, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.Media tanam yang digunakan adalah tanah kompos dan arang sekam. Untuk budidaya organik, digunakan POC atau fotosintesis bakteri, sedangkan untuk konvensional digunakan pupuk NPK Mutiara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC fotosintesis bakteri belum memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman terong pada umur 1 bulan setelah tanam karena tanaman lebih memfokuskan unsur N untuk pertumbuhan pucuk dibandingkan pertumbuhan akar. Pada minggu ke-2, tinggi rata-rata tanaman terong organik mencapai 12,4 cm, dan pada minggu ke-3 meningkat menjadi 17,2 cm, lalu pada minggu ke-4 mencapai 18,4 cm.Sementara itu, pemberian pupuk NPK Mutiara pada pertanian konvensional berpengaruh pada tinggi tanaman umur 3 minggu setelah tanam, dengan tinggi rata-rata mencapai 18,8 cm, dan pada minggu ke-4 mencapai 20,5 cm.Ini menunjukkan bahwa pupuk NPK Mutiara bagus untuk pertumbuhan vegetatif tanaman.