Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Representasi Nilai Budaya Etnis Angkola dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Lintas Budaya BIPA Nur Fatimah; Dia Ananda Putri; Poppy Amalia; Icut Aprilla; Tri Indah Prasasti
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.13031

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi nilai budaya etnis Angkola serta menganalisis relevansinya terhadap pembelajaran lintas budaya dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber daring yang berkaitan dengan budaya etnis Angkola, seperti artikel ilmiah, situs budaya, dan dokumentasi digital. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan membaca, mengamati, dan mencatat, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya Angkola yang dominan meliputi Dalihan Na Tolu, holong (kasih sayang), gotong royong, hormat kepada orang tua, kebersamaan (domu), tradisi lisan, dan upacara adat. Nilai-nilai tersebut memiliki bentuk representasi yang beragam, seperti praktik sosial, penggunaan bahasa, serta tradisi budaya yang masih berkembang dalam masyarakat. Selain itu, nilai budaya Angkola memiliki relevansi yang kuat terhadap pembelajaran BIPA, terutama dalam meningkatkan kompetensi linguistik, pragmatik, dan interkultural pemelajar asing. Dengan demikian, integrasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran BIPA dapat menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan autentik.
ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH TERHADAP PEMBERITAAN BANJIR BANDANG SUMATERA UTARA 2025 DI KOMPAS.COM Rahma Hidayati; Arlin Septia Basana Siagian; Nur Fatimah; Dia Ananda Putri; Poppy Amalia
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.13539

Abstract

This study analyzes the representation of the 2025 North Sumatra flash flood disaster in Kompas.com news coverage using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) approach. The data consists of five news articles published between November 26 and December 3, 2025. Analysis was conducted through three levels: textual analysis, discursive practice, and social practice. The findings reveal two dominant patterns in disaster representation. First, naturalization of disaster, evident in the November 26 and December 2, 2025 articles through the use of the word "mystery" and the metaphor "nature's fury," which shifts responsibility away from human actors. Second, politicization of disaster, evident in the November 30 and December 1, 2025 articles through phrases such as "policy disaster" and "policy gap," which frame the flood as a product of systemic government failure. Furthermore, all articles were found to rely on elite sources without providing space for the voices of affected communities, resulting in a top-down and hegemonic discourse. This study confirms that disaster reporting in mainstream media is never neutral, but always shaped by particular ideologies and power relations.
NILAI TRADISI LISAN ODHONG-ODHONG SEBAGAI FONDASI HARMONI SOSIAL MASYARAKAT PAKPAK BHARAT: KAJIAN LITERATUR Arlin Septia Basana Siagian; Rahma Hidayati; Dia Ananda Putri; Poppy Amalia; Tri Indah Prasasti
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15071

Abstract

The odhong-odhong oral tradition is a distinctive chant of the Pakpak Bharat community that embodies essential life values as the foundation of social harmony. This study aims to describe the nature and characteristics of odhong-odhong, identify the values contained within it, analyze the role of those values in building social harmony, and examine its relevance in the era of modernization and globalization. This study employs a descriptive qualitative method through a literature review approach, drawing on scientific journals, books, and relevant literature published within the last six years. The findings reveal that odhong-odhong is a chant performed by Pakpak men while searching for frankincense resin in the forest, functioning simultaneously as emotional expression, prayer, and a medium for transmitting cultural values. The values embedded in this tradition include emotional, moral, social, spiritual, and cultural dimensions. From the perspective of Émile Durkheim's solidarity theory, odhong-odhong strengthens the mechanical solidarity of the Pakpak Bharat community through collective consciousness formed by shared values and communal experiences. Despite facing the threats of modernization, including declining interest among younger generations and limited documentation, odhong-odhong remains relevant as a cultural identity that must be preserved through educational integration, digitalization, and revitalization in traditional ceremonies.
ANALISIS LIMA PUTUSAN PENGADILAN DALAM KAJIAN LINGUISTIK Dia Ananda Putri; Poppy Amalia; Nur Fatimah; Wisman Hadi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 9 No. 3 (2026): Inpress Vol. 9 No. 3 Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v9i3.63719

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan lima putusan pengadilan melalui lensa linguistik forensik, dengan menyajikan informasi mengenai nomor putusan, kategori perkara, urutan kronologis peristiwa, entitas yang terlibat, serta amar atau hasil akhir putusan. Pendekatan yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif, dengan korpus data berupa lima dokumen putusan pengadilan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengumpulan data dilaksanakan melalui teknik dokumentasi dan pencatatan sistematis terhadap informasi yang termuat dalam masing-masing putusan. Proses analisis dilakukan dengan menguraikan komponen identitas perkara, kronologi kejadian, identitas terlapor atau terdakwa, pihak pelapor atau korban, serta hasil putusan yang ditetapkan oleh pengadilan. Kelima putusan yang menjadi objek kajian mencakup beragam tipologi perkara, yaitu penistaan, pengaduan berbasis fitnah, pencemaran nama baik melalui saluran elektronik, penghinaan yang dilakukan via media sosial, serta pencemaran nama baik yang terjadi di platform Facebook. Hasil analisis mengungkap bahwa meskipun kelima kasus tersebut memiliki konfigurasi faktual dan kronologis yang berbeda, seluruhnya berakar pada aktivitas penyampaian informasi atau pernyataan yang kemudian berimplikasi hukum dan diproses melalui mekanisme peradilan. Outcome putusan pengadilan bervariasi, disesuaikan dengan karakteristik perkara dan dinamika proses hukum yang menyertainya