Gerhard Sipayung
Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mengatasi Founder Syndrome dalam Suksesi Kepemimpinan : Strategi Manajemen Transisi Pemimpin Rohani berdasarkan Narasi Pasca-Kematian Musa (Yosua 1:1-5) Gerhard Sipayung; Patar Gultom; Ngadap Sembiring
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v4i2.299

Abstract

Abstact Many religious organizations, churches, and spiritual foundations experience massive decline or an existential crisis when their principal founder passes away or steps down. This sociological phenomenon is known as Founder’s Syndrome—a condition in which the organization’s operations become rigidly tied to the founder’s persona, charisma, and methodology, thereby paralyzing the capacity of the successor leader. This journal aims to formulate a transition management strategy through a critical-exegetical analysis of the text of Joshua 1:1-5. Using a theological-organizational literature review method, this study identifies a novelty in the form of a radical deconstruction of the phrase “My servant Moses is dead; therefore, prepare yourselves now” (verse 2). This text is not read merely as a message of grief, but as a divine managerial decision to sever dependence on the founder’s legacy in order to legitimize a new leadership system. The research results indicate that the success of spiritual organizational transition does not lie in imitating the founder, but rather in deconstructing the shadow of the cult of personality through re-institutionalization, God’s supernatural promise, and the adaptation of managerial strategies relevant to the prevailing new conditions.   Abstrak Banyak organisasi keagamaan, gereja, maupun yayasan kerohanian mengalami kemunduran masif atau krisis eksistensi organisasi ketika pendiri utama (founder) meninggal dunia atau melepaskan jabatan. Fenomena sosiologis ini dikenal sebagai Founder’s Syndrome sebuah kondisi di mana roda organisasi terikat mati pada figuritas, karisma, dan metodologi sang pendiri, sehingga melumpuhkan kapasitas pemimpin penerus. Jurnal ini  bertujuan merumuskan strategi manajemen transisi melalui analisis kritis-eksegetis terhadap teks Yosua 1:1-5. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur teologis-organisasional, penelitian ini menemukan kebaruan (novelty) berupa dekonstruksi radikal terhadap frasa "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang" (ayat 2). Teks ini tidak dibaca sekadar sebagai berita duka, melainkan sebagai keputusan manajemen ilahi untuk memutus ketergantungan figuritas masa lalu (founder-dependency) demi melegitimasi sistem kepemimpinan baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan transisi organisasi rohani tidak terletak pada peniruan  pendiri, melainkan pada dekonstruksi bayang-bayang kultus individu melalui re-institusionalisasi, janji supranatural Allah dan penyesuaian strategi manajerial yang relevan dengan kondisi yang baru  
Pembentukan Mahasiswa Teologi sebagai Calon Pemimpin Umat : Analisis Reflektif Ketokohan Daud ‘Sebelum dan Sesudah’ menjadi Raja Patar Gultom; Gerhard Sipayung; Baskita Ginting; Theresia Hutauruk
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2025): November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v4i1.268

Abstract

The challenge of forming Generation Z theology students to become future leaders and servants of the community is increasingly urgent in the digital era with all its excesses. This study aims to prove that the formation of theology students can occur organically and progressively to prepare them with the qualities needed by the church and other service institutions. Using biblical studies by analyzing the character based on Sindunata Kurniawan's five formations: Spiritual Formation, Knowledge, Personality/Character, Leadership, and Service, the author conducts reflective analysis steps with a 'before' and 'after' perspective on the figure of David. David was chosen because he exemplifies a leader who underwent a thorough and meaningful formation process, and can be studied before and after he became king. This serves as a reflective study for student formation before and after they graduate and enter professional ministry. This research demonstrates that, like David, theology students can also develop into community leaders by undergoing in-depth, extensive, integrative, and authentic formation processes, which can be achieved through learning in theology classrooms, practical ministry, dormitory life, personal and communal worship, independent study, and relationships and interactions with the world of ministry in the light of truth. Abstrak. Tantangan formasi mahasiswa teologi generasi Z untuk menjadi pemimpin dan pelayan umat masa depan saat ini semakin urgent dihadapi di era digital dengan segala eksesnya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa formasi mahasiswa teologi dapat terjadi secara organik dan progresif untuk mempersiapkan mereka dengan kualitas diri yang diperlukan gereja dan institusi pelayanan lainnya. Menggunakan kajian biblikal dengan melakukan analisis ketokohan berdasar 5 formasi Sindunata Kurniawan yakni Formasi Spiritual,  Pengetahuan, Kepribadian/ Karakter, Kepemimpinan dan Pelayanan, penulis melakukan langkah-langkah analisis reflektif dengan sudut pandang ‘before’ and ‘after’  terhadap tokoh Daud. Daud dipilih karena menjadi contoh pemimpin yang mengalami proses pembentukan yang baik dan dapat dikaji sebelum dan sesudah ia menjadi raja. Ini menjadi kajian reflektif bagi pembentukan mahasiswa sebelum dan sesudah mereka tamat dan terjun ke pelayanan secara profesional. Melalui penelitian ini didapati bahwa sebagaimana Daud, mahasiswa teologi juga dapat berproses menjadi pemimpin umat dengan menjalani semua proses pembentukan in-depth, ekstensif, integratif dan otentik yang bisa didapat melalui semua proses belajar di ruang kelas teologi, pelayanan praktis, kehidupan asrama, ibadah personal dan komunal, studi mandiri, relasi dan interaksi dengan dunia pelayanan dalam terang kebenaran