Rifai, Akbar Ridho
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN SLEEP HYGIENE DENGAN KUALITAS TIDUR PADA SISWA SMA X DI KABUPATEN BOGOR Anggraini, Nourmayansa Vidya; Ritanti, Ritanti; Rifai, Akbar Ridho
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.652

Abstract

Latar belakang: Kualitas tidur merupakan isu kesehatan global yang signifikan. WHO mencatat 16,6% populasi dunia memiliki kualitas tidur buruk, dengan angka tertinggi di Bangladesh (40%) dan terendah di Indonesia serta Kenya. Di Indonesia, 51% masyarakat kurang tidur, dengan 21% tidur kurang dari lima jam per hari. Tujuan penelitian: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan sleep hygiene dengan kualitas tidur pada siswa SMA X di wilayah Kabupaten Bogor. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif noneksperimental dengan desain deskriptif korelasional serta menggunakan pendekatan study cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan berjumlah 87 sampel yang didapatkan melalui teknik total sampling. Populasi berjumlah 87 karena di berada suatu sekolah khusus duafa dengan siswa laki-laki. Data didapatkan dengan melakukan pengisian kuesioner data demografi, kuesioner Adolescence Sleep Hygiene Scale yang telah dimodifikasi, dan Pitssburgh Sleep Quality Index. Hasil analisis: Rata-rata skor sleep hygiene keseluruhan adalah 2,47, dengan 47,1% responden memiliki kebiasaan tidur yang baik dan 52,9% tergolong buruk. Sebanyak 45 siswa (55,2%) memiliki kualitas tidur yang baik dan 39 siswa (44,8%) memiliki kualitas tidur yang buruk. Terdapat hubungan signifikan antara sleep hygene dan kualitas tidur dengan nilai korelasi 0,598 dan p-value0,000. Diskusi: Sleep hygiene yang baik dapat meningkatkan kualitas tidur pada remaja. Hal ini menegaskan bahwa semakin baik sleep hygiene, semakin baik pula kualitas tidurnya. Kesimpulan: Perlunya edukasi dan penerapan disiplin sleep hygiene harus dilakukan secara menyeluruh. Pelayanan kesehatan harus menyediakan pendekatan yang lebih holistik dalam menangani masalah tidur, termasuk terapi yang mempertimbangkan faktor psikologis dan medis, guna membantu remaja mengatasi gangguan tidur yang mereka alami. Diharapkan siswa dapat memperhatikan penerapan sleep hygiene agar memperoleh kualitas tidur yang baik.Kata Kunci: kualitas tidur, remaja, sleep hygiene Correlations Between Sleep Hygiene and Sleep Quality Among High School Students at SMA X in the Bogor Region ABSTRACTBackground: Sleep quality is a significant global health issue. According to the World Health Organization (WHO), 16.6% of the global population experiences poor sleep quality, with the highest prevalence in Bangladesh (40%) and the lowest in Indonesia and Kenya. In Indonesia, 51% of the population is sleep-deprived, and 21% sleep less than five hours per day. Research Objective: This study aims to examine the correlation between sleep hygiene and sleep quality among students of SMA X in the Bogor Regency. Methods: This study employed a quantitative, non-experimental method using a descriptive-correlational design with a cross-sectional approach. A total of 87 students participated in the study through total sampling, as the school serves underprivileged male students exclusively. Data were collected using a demographic questionnaire, a modified version of the Adolescent Sleep Hygiene Scale, and the Pittsburgh Sleep Quality Index. Results: The average overall sleep hygiene score was 2.47. Of the respondents, 47.1% exhibited good sleep hygiene habits, while 52.9% showed poor habits. A total of 45 students (55.2%) had good sleep quality, and 39 students (44.8%) had poor sleep quality. A significant correlation was found between sleep hygiene and sleep quality, with a correlation coefficient of 0.598 and a p-value of 0.000. Discussion: Good sleep hygiene is associated with improved sleep quality among adolescents. These findings indicate that the better the sleep hygiene practices, the better the sleep quality. Conclusion: Comprehensive education and implementation of disciplined sleep hygiene are essential. Healthcare services should adopt a more holistic approach in addressing sleep problems, including therapies that consider both psychological and medical factors, to support adolescents in overcoming sleep disturbances. Students are encouraged to adopt proper sleep hygiene practices to achieve better sleep quality. Keywords: Sleep quality, Adolescents, Sleep hygiene
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGOLAHAN SABUN BERBAHAN DASAR MINYAK JELANTAH DI DESA TANJUNGSARI, KABUPATEN BOGOR Togatorop, Lina Berliana; Sabina, Adinda Salwa; Nabila, Adinda Zahra; Rifai, Akbar Ridho; Dewi, Dita Amalia; Rahmawati, Fitri; Rendheart, Galang; Bastareina, Lulu; Maulana, Muhammad Gilang; Aryaputri, Pheliasaskara Dhanariswari Nurraissa; Angelica, Silvia Putri; Nurhalija, Siti; Tavipiana, Zafira Virgine
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20011

Abstract

Abstrak: Minyak jelantah merupakan salah satu bahan sisa yang menyumbang limbah dalam jumlah banyak di Indonesia. Permasalahan tersebut dapat teratasi dengan kegiatan pengolahan sabun berbahan dasar minyak jelantah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai daur ulang dan pembuatan sabun olahan minyak jelantah. Metode yang diaplikasikan berupa ceramah dan demonstrasi, dengan mitra sebanyak 30 orang yaitu ibu-ibu dan remaja putri Desa Tanjungsari RT.13. Evaluasi dari pelaksanaan kegiatan dilakukan terhadap tahap persiapan, pelaksanaan dan peningkatan pengetahuan peserta melalui pengisian kuesioner. Hasil akhir membuktikan bahwa terdapat penambahan proporsi pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Dengan nilai rata-rata pre-test adalah 6.50 dan setelah dilakukan edukasi nilai rata-rata post-test meningkat menjadi 8.Abstract: Used cooking oil is one of the waste materials that contributes to large amounts of waste in Indonesia. This problem can be resolved by processing soap made from used cooking oil. This activity aims to increase public knowledge regarding recycling and making used cooking oil soap. The method applied was in the form of lectures and demonstrations, with 30 partners, namely mothers and young women from Tanjungsari Village RT.13. Evaluation of the implementation of activities is carried out at the preparation, implementation, and increasing participants' knowledge stages through filling out questionnaires. The final results prove that there was an increase in the proportion of participants' knowledge before and after being given education. The average pretest score was 6.50; after education, the average post-test score increased to 8.