Salsabila, Anisah Rifda
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Craniofacial Fibrous Dysplasia in Pediatric Patients with McCune-Albright Syndrome: A Scoping Review Salsabila, Anisah Rifda; Yusuf, Harmas Yazid; Hadikrishna, Indra
Journal of Indonesian Dental Association Vol 8 No 1 (2025): May
Publisher : Indonesian Dental Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32793/jida.v8i1.1286

Abstract

Pendahuluan: Fibrous dysplasia (FD) adalah kelainan tulang langka non-neoplastik yang dikarakterisasikan dengan proliferasi berlebih pada proses pembentukan tulang oleh sel mesenkim. FD dapat timbul sebagai salah satu gejala klinis dari sindroma McCune-Albright (MAS). MAS memiliki triad gejala klinis khas yang terdiri dari FD, makula café-au-lait, dan hiperfungsi endokrinopati. FD dan MAS disebabkan oleh mutasi genetik post-zigotik, sehingga pasien akan lahir dengan penyakit FD. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis pengaruh gejala klinis lain dari MAS terhadap lesi FD kraniofasial pada pasien anak. Metode: Penelitian dilaksanakan menggunakan metode scoping review. Pencarian artikel dilakukan pada database Scopus dan PubMed. Kriteria inklusi: artikel yang membahas mengenai karakteristik lesi FD kraniofasial yang berkaitan dengan MAS pada pasien anak, dipublikasikan dalam jangka tahun 2016-2023, dipublikasikan melalui jurnal internasional, full text, dan free article. Penyaringan sumber literatur dilaksanakan sesuai dengan protokol PRISMA-ScR. Hasil: Delapan artikel ditetapkan sebagai kriteria inklusi. Pengaruh dari uncontrolled GH excess terhadap patogenesis lesi FD dibahas pada seluruh artikel, diantaranya adalah meningkatnya risiko gangguan penglihatan/pendengaran (tujuh artikel), tampilan makrosefali (lima artikel), meningkatnya risiko regrowth pasca operasi (empat artikel), ekspansi lesi FD (empat artikel), dan meningkatnya morbiditas lesi FD (satu artikel). Pembahasan mengenai PP serta koeksistensinya dengan gejala uncontrolled GH excess dibahas pada satu artikel. Hipofosfatemia dibahas pada lima artikel. Simpulan: GH excess dan PP merupakan jenis hiperfungsi endokrinopati yang dapat memperparah patogenesis dan gejala klinis lesi FD. Pada pasien MAS dengan jumlah (skeletal burden) lesi FD yang masif kondisi hipofosfatemia akan meningkatkan risiko fraktur tulang dan rasa nyeri pada lesi FD.
Penggunaan gutta-percha measurement cutter untuk mencegah overfilling material obturasi pada perawatan saluran akar gigi insisif sentral rahang atas Salsabila, Anisah Rifda; Nurdin, Denny
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.110346

Abstract

Obturasi saluran akar bertujuan menciptakan seal yang rapat secara koronal, lateral, dan apikal yang adekuat untuk mencegah infeksi pasca perawatan. Sensasi tug back pada saat trial obturasi sering digunakan sebagai indikator adaptasi apikal gutta-percha, namun prosedur tersebut tidak selalu mencerminkan posisi ideal secara radiografis. Ketidaksesuaian ukuran master cone dapat menyebabkan adaptasi apikal yang tidak optimal dan berujung pada overfilling, yang berpotensi menimbulkan reaksi inflamasi jaringan periapikal. Gutta-percha measurement cutter merupakan alat bantu yang memungkinkan pengendalian panjang dan diameter ujung gutta-percha secara lebih presisi. Laporan kasus ini membahas seorang pria berusia 36 tahun dengan keluhan gigi insisif sentral rahang atas kanan berlubang besar dan riwayat perawatan saluran akar yang tidak tuntas. Pada tahap trial obturasi ditemukan sensasi tug back, namun evaluasi radiografis menunjukkan overextension gutta-percha sebesar 0,5 mm. Penatalaksanaan dilakukan dengan pemotongan ujung gutta-percha sepanjang 0,5 mm menggunakan gutta-percha measurement cutter, berdasarkan nilai taper file F3 sebesar 0,09 mm/mm sehingga diameter ujung gutta-percha berubah dari 0,30 mm menjadi 0,345 mm. Setelah penyesuaian dan obturasi, evaluasi radiografis menunjukkan posisi gutta-percha tepat di ujung apikal tanpa overfilling. Penggunaan gutta-percha measurement cutter berbasis kalibrasi taper terbukti membantu mencegah overfilling dan berpotensi diintegrasikan sebagai langkah preventif dalam prosedur endodontik rutin.