Matkur
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Existence Of Ulama In The Digital Era: : A Framing Analysis Of Gus Miftah's Misspeaking Using Robert Entman's Model Al-Masduqi, Himayatu Syarafatil Furqon; Matkur; Mustajab
AJIS: Academic Journal of Islamic Studies Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/ajis.v10i1.12972

Abstract

The advent of the digital era has profoundly reshaped the practice of Islamic preaching, allowing religious scholars (Ulama) to engage with broader and more diverse audiences through social media and other digital platforms. Yet, alongside this expanded reach comes a set of complex challenges, chief among them the heightened risk of verbal missteps, which can easily spark controversy, foster misinterpretation, and ultimately compromise the credibility of the Ulama in the public eye. This study seeks to explore the evolving role of the Ulama in the digital age, with particular emphasis on the challenges posed by verbal missteps and their implications for public perception. Utilizing a qualitative research design and content analysis methodology, the study investigates the cases of Gus Miftah and Herri Pras, two influential religious figures who encountered significant public backlash following communication errors on social media platforms. This analysis draws on Robert N. Entman's framing model to examine how media outlets and audiences construct and interpret the public statements of Ulama and how these interpretive frames shape their broader public image. The findings indicate that even minor verbal missteps can rapidly escalate into significant controversies, ultimately threatening to erode the public's trust in religious authority. Given these dynamics, the Ulama must cultivate digital literacy and adopt more deliberate, context-sensitive communication strategies. This study contributes original insights to the discourse on the communicative challenges confronting Ulama in the digital era, underscoring the critical need for their preparedness to navigate the complexities of social media to sustain their relevance and credibility as authoritative voices in Islamic scholarship.
PEMBERDAYAAN KELUARGA MELALUI KURSUS PRA NIKAH BERBASIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN KELUARGA DI BONDOWOSO, JAWA TIMUR Matkur; Rahman, Farah Dianita
AL-ADABIYAH: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 5 No. 1 (2024): AL-ADABIYAH: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Published by the Islamic Religious Education Study Program Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Kiai Haji Achmad Siddiq University, Jember, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/adabiyah.v5i1.1192

Abstract

The rising divorce rate and complex family issues in Bondowoso highlight the urgency of comprehensive premarital education. This article examines the implementation of premarital courses based on Islamic educational values as a form of family empowerment to foster family resilience. The community service program was conducted in Bondowoso and Wringin sub-districts, involving 120 participants. The method used included participatory counseling, discussions, and lectures. Key topics covered were Marriage Law, the concept of sakinah family, and reproductive health. The findings indicate high enthusiasm from participants and competent resource persons, although challenges such as time limitations and participant absenteeism were noted. The course effectively instilled Islamic values into family life and strengthened prospective couples' understanding of familial roles and responsibilities. Strengthening the program through extended duration and more comprehensive materials is recommended for future implementation. Peningkatan angka perceraian dan kompleksitas masalah keluarga di Bondowoso menunjukkan pentingnya pembekalan pranikah yang komprehensif. Artikel ini mengkaji pelaksanaan kursus pra nikah berbasis nilai-nilai pendidikan Islam sebagai bentuk pemberdayaan keluarga guna menciptakan ketahanan keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kecamatan Bondowoso dan Kecamatan Wringin dengan melibatkan 120 peserta. Metode yang digunakan adalah penyuluhan partisipatif, diskusi, dan ceramah. Materi yang disampaikan mencakup Undang-Undang Perkawinan, konsep keluarga sakinah, serta kesehatan reproduksi. Hasilnya menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta dan narasumber yang kompeten, meskipun terdapat kendala waktu dan ketidakhadiran sebagian peserta. Kursus ini efektif dalam menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berumah tangga dan memperkuat pemahaman calon pengantin terhadap peran dan tanggung jawab keluarga. Diperlukan penguatan pelaksanaan dengan waktu lebih panjang dan dukungan materi yang lebih lengkap.
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM MASA SAHABAT: KONSTELASI POLITIK, TRADISI BELAJAR, DAN KARYA INTELEKTUAL Auliya Rahma, Nabila; Kafilaturrahmah; Puspitarini, Dwi; Matkur
AZKIA : Jurnal Aktualisasi Pendidikan Islam Vol. 20 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Hilal Sigli Aceh- Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58645/azkia.v20i2.745

Abstract

Penulisan ini mengkaji sejarah sosial pendidikan Islam pada masa sahabat dengan fokus pada tiga aspek utama: konstelasi politik, tradisi belajar, dan karya intelektual para sahabat. Pada masa sahabat besar yang berlangsung sekitar 30 tahun, wilayah Islam telah meluas dan materi pelajaran yang diajarkan pun berbeda dengan masa Nabi. Pendidikan Islam sudah berkembang dengan munculnya ilmu-ilmu bahasa dan filsafat, dengan tujuan untuk melanjutkan dan mempertahankan apa yang sudah dicapai pada masa Nabi dan mewariskan nilai serta budaya Islami kepada generasi selanjutnya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memahami fenomena tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis library research, yaitu dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber tertulis. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menghasilkan narasi yang sistematis dan logis. Hasil penulisan menunjukkan bahwa konstelasi politik pada masa sahabat, meskipun dinamis, tidak menjadi penghalang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, tradisi belajar yang kuat, seperti majelis ilmu di masjid dan rumah, menjadi pusat transfer pengetahuan. Tradisi ini kemudian melahirkan karya-karya intelektual yang monumental, menjadi warisa berharga bagi generasi berikutnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam pada masa sahabat merupakan sebuah ekosistem yang mandiri, di mana ilmu pengetahuan berkembang dalam harmoni dengan kondisi sosial dan politik saat itu