Bullying in schools is a social problem that has serious impacts on the mental well-being and physical condition of students who experience it. This study aims to examine the various forms of bullying and the efforts made by Islamic Religious Education teachers to suppress this behavior at MIN 15 Aceh Besar. A qualitative approach was used in this study, collecting data through observation and interviews. The research findings show that bullying most often occurs in verbal forms such as teasing that offends family identity and derogatory remarks and physical acts such as pushing and taking belongings from peers without consent. In response, Islamic Religious Education teachers implement preventative measures through engaging learning activities, reinforcing religious values, and creating a friendly and inclusive school climate. However, the implementation of these strategies still faces several obstacles, including emotional pressure on students from the family environment, weak communication between the school and parents, and excessive parental involvement in student conflicts. Therefore, close synergy between educators, families, and all school elements is crucial in creating a safe learning environment free from bullying.ABSTRAKPerundungan di sekolah merupakan persoalan sosial yang menimbulkan dampak serius terhadap kesejahteraan mental dan kondisi fisik peserta didik yang mengalaminya. Penelitian ini bertujuan mengkaji ragam bentuk bullying serta upaya yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam menekan perilaku tersebut di MIN 15 Aceh Besar. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan pengumpulan data melalui kegiatan observasi dan wawancara. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa perundungan paling sering muncul dalam bentuk verbal—seperti olok-olok yang menyinggung identitas keluarga dan ujaran merendahkan—serta tindakan fisik berupa dorongan dan pengambilan barang milik teman tanpa persetujuan. Dalam merespons kondisi tersebut, guru Pendidikan Agama Islam menerapkan langkah-langkah pencegahan melalui aktivitas pembelajaran yang bersifat menarik, penguatan nilai-nilai keagamaan, dan pembentukan iklim sekolah yang ramah serta inklusif. Namun, pelaksanaan strategi ini masih menghadapi sejumlah hambatan, antara lain tekanan emosional siswa yang berasal dari lingkungan keluarga, lemahnya komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua, serta keterlibatan orang tua yang berlebihan dalam konflik siswa. Oleh sebab itu, sinergi yang erat antara pendidik, keluarga, dan seluruh unsur sekolah menjadi faktor krusial dalam mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan terbebas dari praktik bullying.