Widyanti, Khairina
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FROM PRIVACY TO OBLIVION: THE RIGHT TO BE FORGOTTEN IN INDONESIA'S SOCIAL MEDIA PLATFORMS Syari, Shinta Kumala; Simarmata, Sahat Parlindungan; Widyanti, Khairina; Putrijaya, Stefani Nuranugrah
Law Jurnal Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/lj.v6i1.6895

Abstract

The growing permanence of personal information on social media platforms has created an urgent demand for enhanced legal safeguards for digital identities, especially through mechanisms that allow individuals to request the removal of their data. This is acknowledged in Law No. 27/2022 on Personal Data Protection, its practical implementation within the context of social media still faces significant legal challenges. This article examines how the right to be forgotten is interpreted and operationalized within the social media ecosystem in Indonesia, focusing on platform responsibility and the limitations of user control over their personal data. Through doctrinal legal analysis and socio-legal document review, this article explores the normative scope and real-world application of the right to be forgotten, comparing it with the more established legal guidelines in the European Union. The findings indicate that while there is recognition of the principle of digital erasure, users often find themselves trapped in opaque policies and procedural uncertainties. This article proposes policy recommendations to strengthen user rights, enhance regulatory clarity, and harmonize cross-border enforcement in the digital age.
PENDIDIKAN LINGKUNGAN SEBAGAI INSTRUMEN HUKUM PENCEGAHAN: STUDI PADA PENCEGAH KRISIS PLANET RT 08 RW 04 MALAKA JAYA Supriadi, Taufiq; Girsang, Fredsly Hendra Sardol; Syari, Shinta Kumala; Widyanti, Khairina
Law Jurnal Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/lj.v6i2.8283

Abstract

Krisis lingkungan global menuntut pergeseran instrumen hukum dari pendekatan represif ke preventif-edukatif. Penelitian ini menganalisis kedudukan yuridis pendidikan lingkungan dalam UU No. 32 Tahun 2009 (UU PPLH) serta efektivitasnya pada tingkat komunitas melalui metode yuridis-empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik "Pencegah Krisis Planet" di RT 08 Malaka Jaya merupakan implementasi konkret Pasal 65, 67, dan 70 UU PPLH sebagai instrumen pencegahan administratif non-pidana yang efektif mengisi kekosongan hukum (legal gap) di wilayah padat penduduk. Integrasi legalitas Rukun Tetangga sebagai Lembaga Kemasyarakatan, regulasi mikro melalui Blueprint pembangunan, dan transparansi digital terbukti mentransformasi budaya hukum warga menjadi kepatuhan sukarela. Secara empiris, inisiatif mandiri ini berhasil mengelola 6 ton sampah organik per tahun dan mengonservasi air melalui melalui 43 titik biopori, 3 sumur resapan dalam, serta drainase biru-hijau yang terintegrasi. Model ini menghasilkan green returns bagi negara melalui efisiensi biaya pemulihan lingkungan, sehingga perlu direplikasi sebagai strategi mitigasi krisis ekologi di tataran lokal.
Perspektif hukum agraria terhadap perlindungan para pihak dalam kontrak pembangunan pipa gas bawah tanah Pangesti, Shinta; Girsang, Fredsly Hendra Sardol; Widyanti, Khairina; Syari, Shinta Kumala
Widya Bhumi Vol. 6 No. 1 (2026): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v6i1.287

Abstract

The construction of underground gas pipelines across privately owned land may create legal uncertainty, restrict land use, and trigger compensation disputes when it relies solely on right-of-way agreements without clear minimum standards. This study formulates minimum contractual clauses for right-of-way agreements to protect land-right holders within Indonesia’s agrarian-law framework. Using a normative-juridical method with statutory and conceptual approaches, this research examines primary legal materials consisting of the Basic Agrarian Law, the Land Acquisition Law, Government Regulation Number 18 of 2021, Government Regulation Number 19 of 2021, Minister of ATR/BPN Regulation Number 19 of 2021, and Minister of Energy and Mineral Resources Regulation Number 32 of 2021, as well as secondary legal materials in the form of books, journal articles, and references on right-of-way and easement practices. These materials were obtained through library research and document review and analyzed prescriptively. The findings show that minimum clauses should regulate parties’ authority, corridor identification, access scope, land-use restrictions, duration, compensation, liability, restoration, supervision, and dispute resolution. These standards strengthen legal certainty, reduce conflict, and balance private land rights with energy infrastructure needs. Pembangunan pipa gas bawah tanah yang melintasi tanah milik perseorangan dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, membatasi pemanfaatan tanah, dan memicu sengketa kompensasi apabila hanya didasarkan pada perjanjian hak lintas tanpa standar minimum yang jelas. Penelitian ini merumuskan klausul minimum kontrak hak lintas untuk melindungi pemegang hak atas tanah dalam kerangka hukum agraria Indonesia. Dengan menggunakan metode yuridis-normatif melalui pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini mengkaji bahan hukum primer yang terdiri atas Undang-Undang Pokok Agraria, Undang-Undang Pengadaan Tanah, Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021, Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 19 Tahun 2021, dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2021, serta bahan hukum sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan referensi mengenai praktik hak lintas dan easement. Bahan-bahan tersebut diperoleh melalui studi kepustakaan dan penelaahan dokumen, lalu dianalisis secara preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klausul minimum harus mengatur kewenangan para pihak, identifikasi koridor, ruang lingkup akses, pembatasan penggunaan tanah, jangka waktu, kompensasi, tanggung jawab, pemulihan tanah, pengawasan, dan penyelesaian sengketa. Standar ini memperkuat kepastian hukum, mengurangi konflik, dan menyeimbangkan hak atas tanah dengan kebutuhan infrastruktur energi.