Luthfiatul Zahra
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mengenal Lebih Dalam: Tradisi Budaya Perkawinan dalam Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan Luthfiatul Zahra; Hasanah, Uswatun; Syahrul Adam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4: Juni 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i4.9551

Abstract

Penulisan ini membahas kajian mendalam tentang rangkaian upacara perkawinan adat dalam masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Penulis mengangkat pembahasan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya masyarakat yang masih kurang memahami tata cara dan rangkaian dalam pelaksanaan perkawinan adat Banjar. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk menerangkan secara rinci tahapanprosesi perkawinan adat masyarakat Banjar serta makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah kualitatif deskriptif, studi kepustakaan, dengan pendekatan budaya untuk menggali informasi daritradisi lisan dan praktik masyarakat Banjar. Hasil penelitian ini membahas dari prosesi sebelum menikah(pra-nikah): Basalusuh, Babilangan, Badatang, Bahantaran, Bahantar Jujuran, Bahantar Patalian, Mandi Pengantin, Batimung, Batamat Qur’an dan Bapingit. Prosesi pernikahan: Akad, Bausung, dan Batatai. Prosesi sesudah pernikahan/walimah (pasca - nikah): Sujud. Rangkaian tradisi tersebut bersifat sakral juga bermakna simbolik, religius, dan sosial, serta bertujuan menjaga kehormatan, kesopanan, serta keseimbangan relasi antara dua keluarga. Penulisan ini memperlihatkan bahwa prosesi adat pernikahan Banjar bukan sekadar acara, tetapi juga penerapan nilai-nilai luhur masyarakat Banjar dalam membangun calon keluarga yang harmonis. Pelestarian tradisi ini relevan dengan konteks pembangunan budaya dan pendidikan karakter sosial.
Keabsahan Akad Nikah Virtual dalam Pandangan Empat Mazhab Luthfiatul Zahra; Diah Cahyani; Abdul Sani; Fadullah Rusadi
Hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember : Hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/hidayah.v2i4.1450

Abstract

The development of information and communication technology has brought significant changes to various aspects of human life, including marriage practices. The implementation of marriage contracts conducted through online media such as video calls or digital conferencing platforms has emerged as a modern phenomenon. This development has sparked legal debates in Islam regarding its validity, particularly concerning the fulfillment of essential conditions and pillars of marriage, such as ittihād al-majlis (unity of the session) and the sighat ijab qabul (offer and acceptance). The purpose of this article is to examine the validity of virtual mge contracts from the perspective of the four major schools of Islamic jurisprudence (Hanafi, Maliki, Shafi'i, and Hanbali). This study employs a qualitative research methodology using a literature review with a descriptive-analytical approach. The findings indicate that the Shafi'i School does not permit virtual marriage contracts due to the absence of physical unity in place. In contrast, the Hanafi, Maliki, and Hanbali Schools allow virtual marriage contracts, emphasizing unity in time and clarity in the sighat. Therefore, according to several schools of Islamic jurisprudence, virtual marriage contracts may be considered valid as long as the required conditions of marriage are fulfilled, including the presence of witnesses and the clarity of the ijab qabul.