Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Aborsi dalam Perspektif Gereja Katolik: Telaah Moral dan Teologis Koli, Arnoldus Nofrianus; Terang, Erfianus Moat; Bili, Teofilus Xaverius; Locang, Georgius
CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah Vol. 2 No. 6 (2025): CENDEKIA : Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, Juni 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/cendekia.v2i6.1351

Abstract

Abortion is a complex and controversial moral and theological issue, especially in the context of the teachings of the Catholic Church. This study aims to examine the Catholic Church's views on abortion with a moral and theological approach, based on Sacred Scripture, Church Tradition, and Magisterium documents such as Evangelium Vitae and Gaudium et Spes. In the light of Catholic teaching, abortion is seen as an intrinsically wrong act because it takes innocent human life from the moment of conception. The study also examines the anthropological and ethical foundations underlying the Church's respect for the dignity and right to life of every human being. In addition, the pastoral dimension of the Church in dealing with the reality of abortion is discussed, including assistance to women who experience moral dilemmas. The results show that the Catholic Church is consistent in defending life from conception to natural death, while inviting people to develop a culture of life based on love, forgiveness and repentance. Thus, the Church's view on abortion is not merely a prohibition, but a call to respect life as a divine gift.
Bunuh Diri Dalam Perspektif Ensklik Evangelium Vitae Paus Yohanes Paulus II Koli, Arnoldus Nofrianus; Bria, Zakharias; Karloman, Siprianus
AKSIOMA : Jurnal Sains Ekonomi dan Edukasi Vol. 1 No. 11 (2024): AKSIOMA : Jurnal Sains, Ekonomi dan Edukasi
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/bsbmvj48

Abstract

The Encyclical Evangelium Vitae by Pope John Paul II affirms that human life is a sacred and irreplaceable gift from God. In this document, the Pope condemns the practice of suicide as a direct attack on life, which is the prerogative of God as the Creator and SustainerIt is explained that suicide is a rejection of divine love and a denial of the dignity and value of human life. This Encyclical emphasizes that human life must be respected and protected from conception to natural death.Suicide is seen as an act that is contrary to the human vocation to be the image and likeness of God, and to fulfill the mission of safeguarding and preserving life. The Pope calls on the faithful to provide support and compassion to those who are trapped in depression or existential crisis, so that they can rediscover the meaning and purpose of their lives. Overall, Evangelium Vitae asserts that any form of destruction or destruction of human life is a violation of the dignity and human rights granted by God. Suicide is seen as a morally unjustifiable act, and the Church is committed to protecting and promoting a culture of life that is in accordance with God's plan of love.
Konsep Taoisme Tentang Keseimbangan Antara Manusia dengan Alam dan Relevansinya dalam Ritus Hamis Batar pada Suku Mamulak Desa Meotroi, Kecamatan Laen Manen Kabupaten Malaka Koli, Arnoldus Nofrianus; Karloman, Siprianus; Locang, Gregorius
AKSIOMA : Jurnal Sains Ekonomi dan Edukasi Vol. 2 No. 5 (2025): AKSIOMA : Jurnal Sains, Ekonomi dan Edukasi
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/aksioma.v2i5.1151

Abstract

This research focuses on the Taoist concept of balance between humans and nature, and its relevance in the Hamis Batar ritual performed by the Mamulak tribe in Meotroi Village, Laen Manen Sub-district, Malacca Regency. Taoism teaches the importance of harmony with nature as a basic principle of life. In the context of the Mamulak tribe, the Hamis Batar ritual is a manifestation of this understanding and practice of balance. This research aims to explore how Taoist values are integrated into the daily lives of the Mamulak tribe and how this ritual serves as a means to strengthen the spiritual and ecological relationship between the community and their environment. Through a qualitative approach, data was collected through interviews and participatory observation, providing deep insights into local cultural practices and beliefs.
TUHAN DI BAWAH BAYANG KAPITAL: TAFSIR KRITIS ATAS PANDANGAN KARL MARX TENTANG AGAMA Manuk, Andreas Geleda; Liwu, Dominggus Bara; Koli, Arnoldus Nofrianus; Lewuk, Hubertus Ropon Efrem; Fukuruas, Elioardus Lusin
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 3 No. 02 (2025): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v3i02.2504

Abstract

Tulisan ini mengkaji secara kritis pandangan Karl Marx mengenai agama dalam kerangka materialisme historis serta relevansinya terhadap realitas keberagamaan dalam konteks kapitalisme modern. Karl Marx memandang agama sebagai produk kesadaran yang teralienasi, yakni manifestasi psikologis dan sosial yang lahir dari kondisi material yang menindas. Dalam karya-karyanya, Marx menegaskan bahwa agama merupakan “keluh kesah makhluk tertindas” sekaligus “candu bagi rakyat,” karena memberikan penghiburan semu yang menutupi akar struktural penderitaan manusia. Penelitian ini berupaya menafsirkan ulang kritik tersebut dengan menempatkannya dalam dinamika kapitalisme global abad ke-21, terutama fenomena komodifikasi iman, teologi kemakmuran, dan subordinasi nilai-nilai religius di bawah logika pasar neoliberal. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui penelaahan sistematis terhadap karya-karya Marx, literatur kritis para pemikir kontemporer, serta dokumen Gereja yang berkaitan dengan fungsi sosial-profetis agama. Peulisan ini menunjukkan bahwa kritik Marx tetap memiliki daya relevan yang kuat, khususnya dalam melihat bagaimana agama dapat direduksi menjadi instrumen ideologis bagi kepentingan ekonomi dan politik. Marx secara tepat mengidentifikasi peran agama sebagai legitimasi moral bagi ketimpangan sosial, sekaligus sebagai mekanisme pembentuk kesadaran palsu yang memelihara struktur kapitalistik. Namun demikian, penelitian ini juga menilai bahwa pendekatan Marx cenderung reduksionistik karena menafsirkan agama semata sebagai refleksi dari kondisi material, sehingga meniadakan otonomi spiritual dan potensi profetis agama untuk membebaskan manusia dari penindasan struktural. Hasil kajian menunjukkan bahwa agama, apabila direfleksikan secara kritis, dapat bergerak melampaui fungsi ideologisnya dalam kapitalisme dan tampil sebagai kekuatan etis-transformasional. Dengan demikian, tafsir kritis atas pemikiran Marx tidak dimaksudkan untuk menolak agama, melainkan untuk membangun kesadaran baru agar agama kembali pada mandat profetisnya: membela martabat manusia, menyingkap ketidakadilan, dan mendorong transformasi sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa “Tuhan di bawah bayang kapital” bukan sekadar metafora, tetapi suatu realitas historis-sosiologis yang menuntut respon teologis yang lebih radikal, reflektif, dan emansipatoris.