Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sumbangsih Pikiran Filsafat David Hume (1711-1776) terhadap Teologi dan Relevansinya Bagi Umat Beragama Manuk, Andreas Geleda; Liwu, Dominggus Bara; Kudre, Gabriel
AKSIOMA : Jurnal Sains Ekonomi dan Edukasi Vol. 1 No. 12 (2024): AKSIOMA : Jurnal Sains, Ekonomi dan Edukasi
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/am9nza84

Abstract

This paper discusses the contribution of the philosophical thought of David Hume (1711-1776) to theology and its relevance to religious people. Hume, as an empiricist, emphasized that morality comes from human feelings and experiences, not from reason or divine revelation. He proposed that good and bad are determined by compassion for others, which is in line with the teaching of charity in Catholic theology. Through a literature analysis approach, this article explores three main Hume thoughts: morality as a product of feeling, the evaluation of actions based on consequences, and the importance of virtue. Hume also criticized the traditional view that separates reason from morality, asserting that it is feelings that are the basis of moral judgment. The relevance of Hume's thought to religious people lies in its ability to encourage interfaith dialogue, find common ground in moral values, and promote empathy in the practice of daily life. The conclusion of this paper is that Hume's moral thought offers an important framework for building a more just, harmonious, and loving society in today's multicultural era.
TUHAN DI BAWAH BAYANG KAPITAL: TAFSIR KRITIS ATAS PANDANGAN KARL MARX TENTANG AGAMA Manuk, Andreas Geleda; Liwu, Dominggus Bara; Koli, Arnoldus Nofrianus; Lewuk, Hubertus Ropon Efrem; Fukuruas, Elioardus Lusin
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 3 No. 02 (2025): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v3i02.2504

Abstract

Tulisan ini mengkaji secara kritis pandangan Karl Marx mengenai agama dalam kerangka materialisme historis serta relevansinya terhadap realitas keberagamaan dalam konteks kapitalisme modern. Karl Marx memandang agama sebagai produk kesadaran yang teralienasi, yakni manifestasi psikologis dan sosial yang lahir dari kondisi material yang menindas. Dalam karya-karyanya, Marx menegaskan bahwa agama merupakan “keluh kesah makhluk tertindas” sekaligus “candu bagi rakyat,” karena memberikan penghiburan semu yang menutupi akar struktural penderitaan manusia. Penelitian ini berupaya menafsirkan ulang kritik tersebut dengan menempatkannya dalam dinamika kapitalisme global abad ke-21, terutama fenomena komodifikasi iman, teologi kemakmuran, dan subordinasi nilai-nilai religius di bawah logika pasar neoliberal. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui penelaahan sistematis terhadap karya-karya Marx, literatur kritis para pemikir kontemporer, serta dokumen Gereja yang berkaitan dengan fungsi sosial-profetis agama. Peulisan ini menunjukkan bahwa kritik Marx tetap memiliki daya relevan yang kuat, khususnya dalam melihat bagaimana agama dapat direduksi menjadi instrumen ideologis bagi kepentingan ekonomi dan politik. Marx secara tepat mengidentifikasi peran agama sebagai legitimasi moral bagi ketimpangan sosial, sekaligus sebagai mekanisme pembentuk kesadaran palsu yang memelihara struktur kapitalistik. Namun demikian, penelitian ini juga menilai bahwa pendekatan Marx cenderung reduksionistik karena menafsirkan agama semata sebagai refleksi dari kondisi material, sehingga meniadakan otonomi spiritual dan potensi profetis agama untuk membebaskan manusia dari penindasan struktural. Hasil kajian menunjukkan bahwa agama, apabila direfleksikan secara kritis, dapat bergerak melampaui fungsi ideologisnya dalam kapitalisme dan tampil sebagai kekuatan etis-transformasional. Dengan demikian, tafsir kritis atas pemikiran Marx tidak dimaksudkan untuk menolak agama, melainkan untuk membangun kesadaran baru agar agama kembali pada mandat profetisnya: membela martabat manusia, menyingkap ketidakadilan, dan mendorong transformasi sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa “Tuhan di bawah bayang kapital” bukan sekadar metafora, tetapi suatu realitas historis-sosiologis yang menuntut respon teologis yang lebih radikal, reflektif, dan emansipatoris.