Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FILSAFAT SENI KARL MARX SEBAGAI UPAYA MEMBUDAYAKAN LITERASI DAN MELITERASIKAN BUDAYA DI SIKKA Manuk, Andreas Geleda; Wea, Vinsensius; Dju, Yohanes
TANDA Vol 5 No 01 (2025): SASTRA DAN BUDAYA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v5i01.2042

Abstract

Berbicara tentang seni memang tidak akan pernah ada habisnya. Seni itu sendiri menarik untuk dikaji, menyitkan dahi ketika dibahas tetapi indah bila dipandang. Seni dan eksistensi manusia merupakan dua hal yang tidak terpisahkan sebab, seni merupakan sarana ekspresi jiwa yang paling indah sekaligus menjadi cerminan tujuan hidup manusia. Dari segi historisitasnya, seni sebetulnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, bahkan seni itu sendiri muncul bersamaan dengan kehadiran manusia. Dengan kata lain, eksistensi seni dan manusia saling bersamaan. Seni itu sendiri lahir karena keberadaan manusia. Tanpa manusia, seni tidak dapat diketahui. Hal ini disebabkan karena masing-masing filsuf di zaman modern dan postmodernisme melihat dan mengamati seni dengan berbagai pandangan yang sangat bervariatif. Filsuf tersebut ialah Karl Marx. Karl Marx mempelajari dan memahami secara sungguh-sungguh arti dan hakikat dari seni. Selama menggeluti ilmu hukum dan filsafat, Marx menyempatkan diri untuk mempelajari sejarah sastra termasuk estetika klasik Jerman. Di Universitas Bonn, Marx memperhatikan teori-teori seni dan sastra sebesar perhatiannya pada yurisprudensi. Ketertarikan Marx pada dunia seni tidak hanya sebatas teori tetapi juga sajak-sajak. Di Bonn misalnya, Marx menulis puisi-puisi filsafat dan mengerjakan sebuah buku latihan sajak. Dari sekian karya awalnya, terhitung sudah empat puluh puisi yang dibuat pada babak pertama imajinasi dramatiknya. Di masa inilah, Marx kemudian mendalami lebih serius tentang seni. Seni Marx berpengaruh besar dalam literasi masyarakat terlebih khusus pelajar yang ada di Sikka.
PEMIKIRAN THOMAS KUHN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PERKEMBANGAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI DALAM DUNIA PENDIDIKAN Wea, Vinsensius; Manek, Jefrianus Ulu; Manuk, Andreas Geleda
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 3 No. 01 (2025): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v3i01.2410

Abstract

Tulisan ini menampilkan bagaimana perkembangan dan penerapan teknologi dalam dunia pendidikan dan bagaimana latar belakang terciptanya teknologi serta bagaimana teknologi yang diciptakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan ini membantu dunia pendidikan dalam menyebarkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Seperti yang telah di jelaskan oleh Thomas Kuhn bermaksud bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bersifat revolusioner dan bukan kumulatif, penulis juga menjelaskan bahwa terciptanya teknologi bukanlah sebuah bahan baru yang ditambahkan ke dalam ilmu pengetahuan namun teknologi itu sendiri merupakan sebuah bahan baru yang merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan tentunya penulis sangat setuju dengan apa yang telah dipaparkan oleh Filsuf Thomas Kuhn mengenai perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat revolusioner atau mengubah dari suatu bentuk formal menjadi sebuah materi dengan tujuan kembali membantu mempermudah setiap langkah dalam penyebaran ilmu pengetahuan itu sendiri.
Makna “Akulah Roti Hidup” dalam Injil Yohanes 6:35 bagi Umat Kristiani Manuk, Andreas Geleda; Bato, Kamilus; Rolando, Ignasius
ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol. 2 No. 5 (2024): ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisplin, Mei 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/armada.v2i5.1300

Abstract

Artikel ini merupakan ikhtiar penulis untuk menganalisis makna dari Injil Yohanes 6:35 yang berbunyi, “Akulah Roti Hidup”. Makna dari perikop Kitab Suci ini diberikan secara khusus untuk umat Katolik. Penulis berpendapat bahwa makna dari Injil Yohanes 6:35 ini dapat memberikan peneguhan dan kekuatan bagi kehidupan umat manusia. “Roti Hidup” merupakan tubuh Tuhan sendiri yang dikorbankan untuk keselamatan umat Kristiani. Karena itu, umat harus menyadari bahwa roti yang disantap pada perayaan Ekaristi merupakan tubuh Tuhan sendiri yang harus dihormati dan dihayati dengan sungguh-sungguh. Tema ini sangat menarik karena saat ini banyak umat Kristiani yang belum mendekatkan diri kepada Tuhan lewat perayaan Ekaristi, membaca Kitab Suci, dan kegiatan kerohanian lainnya. Metode yang digunakan dalam penulisan ini yaitu metode kepustakaan, dimana penulis mengumpulkan sumber dari berbagai literatur seperti buku dan artikel jurnal. Setelah membaca artikel ini, para pembaca terlebih khusus umat Kristiani mampu menghidupi kehadiran Yesus lewat “Roti Hidup” yang diberikan secara cuma-cuma kepada umat manusia. Jika “Roti Hidup” itu dihidupkan dan dihayati dengan baik dalam kehidupan dan karya kita di bumi, maka kita akan memperoleh kehidupan yang layak hingga kekal.
Sumbangsih Pikiran Filsafat David Hume (1711-1776) terhadap Teologi dan Relevansinya Bagi Umat Beragama Manuk, Andreas Geleda; Liwu, Dominggus Bara; Kudre, Gabriel
AKSIOMA : Jurnal Sains Ekonomi dan Edukasi Vol. 1 No. 12 (2024): AKSIOMA : Jurnal Sains, Ekonomi dan Edukasi
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/am9nza84

Abstract

This paper discusses the contribution of the philosophical thought of David Hume (1711-1776) to theology and its relevance to religious people. Hume, as an empiricist, emphasized that morality comes from human feelings and experiences, not from reason or divine revelation. He proposed that good and bad are determined by compassion for others, which is in line with the teaching of charity in Catholic theology. Through a literature analysis approach, this article explores three main Hume thoughts: morality as a product of feeling, the evaluation of actions based on consequences, and the importance of virtue. Hume also criticized the traditional view that separates reason from morality, asserting that it is feelings that are the basis of moral judgment. The relevance of Hume's thought to religious people lies in its ability to encourage interfaith dialogue, find common ground in moral values, and promote empathy in the practice of daily life. The conclusion of this paper is that Hume's moral thought offers an important framework for building a more just, harmonious, and loving society in today's multicultural era.
TUHAN DI BAWAH BAYANG KAPITAL: TAFSIR KRITIS ATAS PANDANGAN KARL MARX TENTANG AGAMA Manuk, Andreas Geleda; Liwu, Dominggus Bara; Koli, Arnoldus Nofrianus; Lewuk, Hubertus Ropon Efrem; Fukuruas, Elioardus Lusin
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 3 No. 02 (2025): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v3i02.2504

Abstract

Tulisan ini mengkaji secara kritis pandangan Karl Marx mengenai agama dalam kerangka materialisme historis serta relevansinya terhadap realitas keberagamaan dalam konteks kapitalisme modern. Karl Marx memandang agama sebagai produk kesadaran yang teralienasi, yakni manifestasi psikologis dan sosial yang lahir dari kondisi material yang menindas. Dalam karya-karyanya, Marx menegaskan bahwa agama merupakan “keluh kesah makhluk tertindas” sekaligus “candu bagi rakyat,” karena memberikan penghiburan semu yang menutupi akar struktural penderitaan manusia. Penelitian ini berupaya menafsirkan ulang kritik tersebut dengan menempatkannya dalam dinamika kapitalisme global abad ke-21, terutama fenomena komodifikasi iman, teologi kemakmuran, dan subordinasi nilai-nilai religius di bawah logika pasar neoliberal. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui penelaahan sistematis terhadap karya-karya Marx, literatur kritis para pemikir kontemporer, serta dokumen Gereja yang berkaitan dengan fungsi sosial-profetis agama. Peulisan ini menunjukkan bahwa kritik Marx tetap memiliki daya relevan yang kuat, khususnya dalam melihat bagaimana agama dapat direduksi menjadi instrumen ideologis bagi kepentingan ekonomi dan politik. Marx secara tepat mengidentifikasi peran agama sebagai legitimasi moral bagi ketimpangan sosial, sekaligus sebagai mekanisme pembentuk kesadaran palsu yang memelihara struktur kapitalistik. Namun demikian, penelitian ini juga menilai bahwa pendekatan Marx cenderung reduksionistik karena menafsirkan agama semata sebagai refleksi dari kondisi material, sehingga meniadakan otonomi spiritual dan potensi profetis agama untuk membebaskan manusia dari penindasan struktural. Hasil kajian menunjukkan bahwa agama, apabila direfleksikan secara kritis, dapat bergerak melampaui fungsi ideologisnya dalam kapitalisme dan tampil sebagai kekuatan etis-transformasional. Dengan demikian, tafsir kritis atas pemikiran Marx tidak dimaksudkan untuk menolak agama, melainkan untuk membangun kesadaran baru agar agama kembali pada mandat profetisnya: membela martabat manusia, menyingkap ketidakadilan, dan mendorong transformasi sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa “Tuhan di bawah bayang kapital” bukan sekadar metafora, tetapi suatu realitas historis-sosiologis yang menuntut respon teologis yang lebih radikal, reflektif, dan emansipatoris.