Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Response of narrowband ultraviolet-B phototherapy combined with superoxide dismutase antioxidant cream in the management of non-segmental vitiligo Muchamad Apriyanto; Hanan Asrafi Noviandari; Niken Indrastuti; Arief Budiyanto
Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences Vol 57 No 2 (2025)
Publisher : Published by Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/inajbcs.v57i2.17224

Abstract

Vitiligo is a skin depigmentation disorder characterized by the loss of melanocyte function. The oxidative stress theory plays a role in the occurrence of vitiligo. Narrow band ultraviolet B (NB-UVB) phototherapy can be combined with other therapies to accelerate skin repigmentation. A 47 yo woman presented to the dermatology and venereology outpatient clinic in Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta with a chief complaint of white patches on her face, neck, chest, and hands that had persisted for 11 yr. The patient had previously received NB-UVB phototherapy and a calcineurin inhibitor cream, but the symptoms persisted. Significant repigmentation of the lesion area was achieved after NB-UVB phototherapy combined with superoxide dismutase (SOD) antioxidant cream. NB-UVB phototherapy plays a role in immunomodulation, biostimulation, and reducing oxidative stress. The SOD helps clear superoxide radicals, preventing damage to melanocytes. The combination of NB-UVB phototherapy and antioxidant cream can be considered a treatment option for vitiligo.
Mukositis Oral Akibat Kemoterapi Raden Roro Rini Andayani; Niken Indrastuti; Satiti Retno Pudjiati; Sonia Diovani; Marcella Anggatama
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 2 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i2.532

Abstract

   Mukositis oral merupakan komplikasi umum pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi atau radioterapi pada area kepala dan leher, dengan sekitar 40% pasien kemoterapi mengalami efek samping ini. Mukositis yang berat dan tidak tertangani dapat menghambat pengobatan kanker, memperpanjang waktu rawat inap, dan menurunkan kualitas hidup pasien. Memahami penegakan diagnosis mukositis oral akibat kemoterapi guna mencegah peningkatan keparahan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Mukositis oral merupakan komplikasi inflamasi mukosa yang secara klinis ditandai oleh eritema, ulserasi, nyeri, dan perdarahan. Patogenesisnya terdiri atas lima fase, yaitu inisiasi, inflamasi, amplifikasi sinyal kerusakan, ulserasi, dan penyembuhan. Derajat keparahan mukositis oral dinilai berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO) dan National Cancer Institute – Common Terminology Criteria for Adverse Events (NCI-CTCAE), mulai dari derajat 1 (ringan) hingga derajat 5 (kematian akibat toksisitas kemoterapi). Insidensi dan tingkat keparahannya dipengaruhi oleh kerentanan pasien dan jenis kemoterapi yang digunakan. Penanganan mukositis oral meliputi perawatan dasar mulut, agen antiinflamasi, fotobiomodulasi dan metode pendinginan oral. Diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat terhadap mukositis oral diharapkan dapat memperbaiki prognosis dan kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi.