Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Local Government in Conserving Pandan Wangi Rice Farming Land in Cianjur Regency Anderson, Einstein; Ilham, Muh.; Ruhana, Faria
Interdiciplinary Journal and Hummanity (INJURITY) Vol. 4 No. 6 (2025): INJURITY: Journal of Interdisciplinary Studies
Publisher : Pusat Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58631/injurity.v4i6.1443

Abstract

Excessive conversion of agricultural land for industrial or residential uses has reduced the supply of pandan wangi rice due to shrinking farmland. This study aims to identify and analyze the local government’s role, the inhibiting factors, and efforts to overcome obstacles in preserving Pandan Wangi rice farming land in Cianjur Regency. Using a qualitative descriptive method based on Sondang P. Siagian’s theory (2009: 132), the research involved 18 informants and used primary and secondary data. Data collection included interviews, observation, and documentation, with analysis through data reduction, presentation, and conclusion drawing. Findings show the government protects Pandan Wangi rice land by formulating and enforcing regulations, notably Regional Regulation No. 19/2012 for Pandanwangi preservation, supported by Spatial Planning Regulation No. 4/2019. Integrated spatial planning uses agro-ecological maps and GIS for land zoning, buffer zones, and core area protection. Preservation is embedded in RPJMD/RKPD documents to align all sectoral policies with the protection of Pandanwangi fields. Routine coordination forums involve the Agriculture Service, Spatial Planning Service, Bappeda, Environmental Service, MP3C, and village governments. Stakeholder engagement includes farmer groups, MP3C, academics, NGOs, and market players in Village Musrenbang/Musrenbangcam, public forums, and technical workshops. Sustainable land management is enforced through soil and water conservation practices like terracing, legume rotation, organic mulch, and micro irrigation. Promotion and product image strengthening are achieved by supporting Geographical Indications for Pandanwangi rice to protect its authenticity and increase its premium market value.
Collaborative Governance dalam Pelestarian Lahan Pertanian Padi Pandan Wangi di Kabupaten Cianjur Maryani, Dedeh; Anderson, Einstein; Noffiardi, Hendra; Cahyono , Heri
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v5i1.7330

Abstract

Padi Pandan Wangi merupakan varietas padi lokal unggulan yang menjadi ikon Kabupaten Cianjur dengan karakteristik rasa pulen dan aroma pandan yang khas, serta telah memperoleh pengakuan sebagai varietas unggul lokal dan sertifikat Indikasi Geografis. Namun demikian, keberlanjutan lahan pertanian Padi Pandan Wangi menghadapi tekanan serius akibat alih fungsi lahan, penurunan luas lahan tanam, berkurangnya jumlah petani, serta rendahnya minat generasi muda untuk bertani. Kebijakan nasional melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), yang kemudian dioperasionalkan di Kabupaten Cianjur melalui Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2012 tentang Pelestarian dan Perlindungan Padi Pandanwangi Cianjur serta Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019 jo. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2024 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, menyediakan kerangka hukum untuk melindungi lahan dan varietas ini. Artikel ini bertujuan menganalisis pelestarian lahan pertanian Padi Pandan Wangi dengan perspektif collaborative governance, meliputi kerangka kebijakan, konfigurasi aktor, praktik kolaborasi, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis dokumen, memanfaatkan data sekunder dari peraturan perundang-undangan, dokumen perencanaan, data statistik Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, serta literatur ilmiah terkait Pandan Wangi dan PLP2B. Kerangka analisis mengacu pada model collaborative governance Ansell dan Gash serta Emerson, Nabatchi, dan Balogh. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelestarian lahan Padi Pandan Wangi telah memiliki dasar regulatif yang kuat dan melibatkan beragam aktor pemerintah daerah, petani, lembaga penelitian, organisasi pelestari, pelaku usaha, dan komunitas lokal. Namun, praktik collaborative governance masih menghadapi kendala berupa ketimpangan kekuasaan dan sumber daya, lemahnya penegakan hukum atas alih fungsi lahan, koordinasi lintas sektor yang belum optimal, serta menurunnya regenerasi petani. Artikel ini merekomendasikan institusionalisasi forum kolaboratif lintas aktor, penguatan sistem informasi LP2B yang transparan, skema insentif dan disinsentif yang lebih efektif, penguatan kelembagaan ekonomi petani, serta pengarusutamaan kearifan lokal Pandan Wangi dalam pendidikan, pariwisata, dan kampanye publik.