Sara, Bapthista Mario Yosryandi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menggugat Hegemoni Antroposentrisme Melalui Dekonstruksi Hermeneutika Ekologis Sara, Bapthista Mario Yosryandi
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.319

Abstract

Krisis iklim dan kehancuran alam akhir-akhir ini merupakan gejala multidimensi yang tidak cukup dipahami dengan pendekatan ilmiah dan teknokratik semata. Perlu adanya kajian secara filosofis akar dari krisis tersebut, yaitu dominasi paradigma antroposentris terhadap relasi manusia dan alam. Dengan analisis filsafat ekologi, etika lingkungan, hermeneutika, ekofenomenologi, serta antroposentrisme, artikel ini berusaha untuk membongkar cara berpikir yang menempatkan manusia sebagai sentral eksistensi dan mengobjektifikasi alam layaknya sumber daya privat. Tulisan ini hendak menegaskan, bahwasannya keberlanjutan ekologi menuntut pembalikan paradigma menuju etika biosentris dan teosentris, serta mengajukan kritik atas diskursus pembangunan berkelanjutan yang masih terjebak di balik logika kapitalistik dan modernisme. Melalui telaah teoritis dan kajian literatur atas kehancuran lingkungan di negara-negara dunia ketiga–terkhususnya Indonesia, artikel ini memperlihatkan jika kehancuran ekosistem di abad-21 merupakan bagian dari krisis cara berpikir manusia itu sendiri; antroposentris, ekstraktif, dan kapitalis. Maka dari itu, menuju transisi yang berkelanjutan, perlu revolusi ontologis dan etis dengan memandang alam dan kehidupan di sekitarnya sebagai suatu kesatuan, subjek bukan objek eksploitasi.
Dinamika Demokrasi Indonesia Pasca Pemilu 2024 : Tinjauan Terhadap Konfigurasi Politik PDIP dan PKS Sara, Bapthista Mario Yosryandi; Rambe, Safrizal
Jurnal Demokrasi dan Politik Lokal Vol 7 No 2 (2025): Edisi Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Politik, FISIP, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jdpl.7.2.115-132.2025

Abstract

Sebenarnya, Pemilu 2024 adalah gambaran atas dinamika demokrasi elektoral Indonesia di tengah krisis potensi yang kian ditiru. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang selama dua periode mendominasi eksekutif dan legislatif, kini harus menentukan posisi politiknya di tengah penurunan dukungan elektoral di basis tradisionalnya. Pilihan antara berada di lingkar kekuasaan melalui kompromi atau mundur ke barisan oposisi untuk memulihkan citra ideologis, menjadi suatu dilema yang cukup serius. Demikian pula Partai Keadilan Sejahtera (PKS), terjadi di persimpangan tengah jalan; antara bertahan sebagai konsistensi yang sejauh ini menjadi mesin perlawanan atau bergabung ke perdamaian dengan kalkulasi pragmatis tatkala mengamankan sumber daya politiknya. Dengan demikian, tulisan ini mengkaji dinamika tersebut melalui analisis teori oposisi, teori tidak rasional, serta politik patronase yang menjelaskan betapa cairnya garis oposisi oposisi dan lingkungan dalam politik Indonesia pasca-reformasi. Hasil analisis yang ditampilkan, hakikatnya konfigurasi politik PDIP dan PKS pasca Pemilu 2024, menjadi salah satu aspek krusial pada kualitas demokrasi Indonesia. Jika kedua partai ini bersatu dalam kondisi besar, maka ruang oposisi yang substantif akan menyempit, dan turut serta menambah check and balance dalam prosedur demokrasi. Oleh karena itu, pergeseran politik PDIP dan PKS tidak sebatas strategi kekuasaan, justru pertaruhan masa depan demokrasi Indonesia di bawah bayang-bayang kekuasaan rezim Prabowo-Gibran.