Panjaitan, Geri Gabriel
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mengucap Syukur Sebagai Esensi Hidup Baru: Hermeneutis Biblis terhadap Kolose 3: 13-17 Raulina, Raulina; Panjaitan, Geri Gabriel
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i2.374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna teologis dari praktik mengucap syukur sebagai bagian dari reorientasi hidup baru menurut Kolose 3:13–17. Dalam bagian ini, Paulus menekankan bahwa hidup baru dalam Kristus harus tercermin melalui sikap syukur yang terus-menerus mewarnai seluruh aspek kehidupan. Syukur dipahami bukan sekadar reaksi emosional terhadap anugerah Allah, melainkan sebagai ungkapan mendalam dari perubahan identitas orang percaya yang telah meninggalkan manusia lama dan diperbarui menurut gambar Penciptanya. Selain itu, sikap syukur berperan penting dalam membangun keharmonisan komunitas Kristen, mempererat hubungan kasih dan damai di antara jemaat. Dengan demikian, pengucapan syukur menjadi wujud nyata iman, mencerminkan ketergantungan kepada kasih karunia Allah serta memperlihatkan kuasa Injil dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menegaskan bahwa syukur harus menjadi landasan spiritual yang aktif, baik dalam kehidupan individu maupun dalam hubungan komunitas, serta berfungsi sebagai kesaksian hidup yang mendukung misi gereja di tengah dunia.AbstrakThis study aims to examine the theological meaning of the practice of giving thanks as part of the reorientation of a new life according to Colossians 3:13–17. In this section, Paul emphasizes that a new life in Christ must be realized through an attitude of gratitude that continuously colors all aspects of life. Gratitude is understood not merely as an emotional reaction to God's grace, but as a profound expression of the change in the identity of believers who have left the old man and are renewed according to the image of their Creator. In addition, an attitude of gratitude plays an important role in building harmony in the Christian community, strengthening relationships of love and peace among the congregation. Thus, gratitude becomes a real manifestation of faith, reflects dependence on God's grace and displays the power of the Gospel in everyday life. This study emphasizes that gratitude must be an active spiritual foundation, both in individual life and in community relationships, and functions as a living testimony that supports the church's mission in the world.
Keselamatan Tanpa Sekat (Studi Hermeneutis Mengenai Konsep Keselamatan Universal Menurut Markus 7:24-30) Raulina; Panjaitan, Geri Gabriel
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.693

Abstract

This study examines the narrative of the Syro-Phoenician woman in Mark 7:24-30 to understand the concept of universal salvation revealed by Jesus Christ in the context of His mission. This topic is important considering the tension between Jesus’ mission initially aimed at the people of Israel and the evidence that salvation is also intended for Gentiles without ethnic or social discrimination. The purpose of the study is to analyze how the dialogue between Jesus and the Syro-Phoenician woman affirms the universality of the gift of salvation that transcends social and ethnic boundaries. The method used is a historical-critical approach and textual exegesis by examining the historical, cultural context, and theological message of the narrative in depth. The research results show that the faith of the Syro-Phoenician woman serves as an indicator of the acceptance of the universality of salvation, affirming that God’s salvation is not limited by ethnic or social identity but depends on a sincere response of faith. These findings contribute to the understanding of inclusivity in church ministry in spreading the grace of salvation to all humanity with full conviction and hope. AbstrakPenelitian ini mengkaji narasi perempuan Siro-Fenisia dalam Markus 7:24-30 untuk memahami konsep keselamatan universal yang diungkapkan oleh Yesus Kristus dalam konteks misi-Nya. Topik ini penting mengingat adanya ketegangan antara misi Yesus yang awalnya ditujukan kepada bangsa Israel dengan bukti bahwa keselamatan juga diperuntukkan bagi orang non-Yahudi tanpa diskriminasi etnis maupun sosial. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana dialog antara Yesus dan perempuan Siro-Fenisia menegaskan universalitas anugerah keselamatan yang melampaui batas-batas sosial dan etnis. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis dan eksegesis teks dengan menelaah konteks historis, budaya, serta pesan teologis narasi tersebut secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iman perempuan Siro-Fenisia menjadi indikator penerimaan universalitas keselamatan, yang menegaskan bahwa keselamatan Allah tidak terbatas oleh identitas etnis atau sosial, melainkan bergantung pada respons iman yang sungguh-sungguh. Temuan ini memberikan kontribusi pada pemahaman inklusivitas pelayanan gereja dalam menyebarkan kasih karunia keselamatan kepada seluruh umat manusia dengan penuh keyakinan dan harapan.