Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DENDANG DALAM PENGEMBANGAN WISATA AIR PANAS JURUH MENUJU DESA WISATA BERKELANJUTAN Agita; Situmorang, Josep Irwanda; Supangadi, Egita Riyanti; Amalya, Diska; Septia, Hera; Arliansyah, Ahmad; Apriyani, Putri; Selviana, Nila; Yuandary, Fhatur Rauzy; Prayanti, Baiq Desy Aniska
Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Teknologi Vol 6 No 01 (2025): Volume 6, Nomor 1, Mei 2025
Publisher : ISB Atma Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Dendang merupakan suatu daerah yang terletak di wilayah Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Desa Dendang memiliki berbagai potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia, salah satunya sumber air panas yang terletak di Dusun Juruh. Rendahnya tingkat kesadaran warga Desa Dendang akan potensi tersebut berakibat tidak dimanfaatkan secara maksimal. Desa Dendang juga memiliki kerajinan seperti kopiah resam dan anyaman bambu yang dijadikan sebagai UMKM masyarakat setempat. Program Bina Desa (BINDES) Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA) yang akan dilaksanakan di Desa Dendang bertujuan untuk memberikan pembinaan kepada masyarakat setempat sehingga mampu mengelola potensi wisata yang ada, mempromosikan Wisata Air Panas di Desa Dendang sebagai salah satu desa wisata yang ada di Bangka Barat dengan cara promosi pada media sosial dan membuat area foto yang instagramable pada lokasi sumber air panas di wisata yang ada, dan membuat kreasi dari resam berupa cendera mata untuk Wisata Air Panas. Metode pelaksanaan program ini meliputi identifikasi masalah, analisis kebutuhan, penetapan khalayak sasaran, perumusan indikator keberhasilan, pelaksanaan program, strategi pembinaan khalayak sasaran, penguatan jejaring koordinasi, monitoring dan evaluasi, pelaporan. Program yang telah kami laksanakan adalah focus grup discusion dan inisiasi pembentukan pokdarwis, seminar strategi pengelolaan desa wisata, seminar strategi pemasaran UMKM resam, pembuatan spot foto dan decorative plants park. Harapan dengan telah terlaksananya program ini, Desa Dendang semakin maju dengan masyarakat setempat yang lebih peduli dan tidak membiarkan potensi yang ada terbengkalai
ANALISIS KRIGING UNTUK MENDETEKSI POLA SPASIAL KASUS DBD DI KOTA PANGKALPINANG DAN KABUPATEN BANGKA TENGAH Septia, Hera; Agita; Emelia; Lianawati; Supriyadi, Slamet
MATHunesa: Jurnal Ilmiah Matematika Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathunesa.v14n1.p507-517

Abstract

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus meningkat di Indonesia, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang mengalami fluktuasi angka kejadian dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peta sebaran IR DBD 2020-2024 dengan mempertimbangkan faktor variabel curah hujan, menganalisis konsentrasi wilayah kasus tertinggi, serta mengidentifikasi klaster spasial. Data yang digunakan meliputi data curah hujan, jumlah kasus DBD, dan jumlah penduduk dari tahun 2020 hingga 2024. Analisis dilakukan menggunakan metode Ordinary Co-Kriging, Anselin Local Moran’s I, dan Hotspot Analysis (Getis-Ord Gi*), dengan pemilihan model semivariogram terbaik berdasarkan nilai RMSE menggunakan software ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Gaussian memberikan nilai RMSE paling kecil sehingga menjadi model semivariogram terbaik dalam memprediksi persebaran kasus. Pemetaan Co-Kriging memperlihatkan bahwa menunjukkan bahwa hubungan curah hujan dengan kejadian IR DBD berfluktuasi setiap tahunnya, dengan risiko tertinggi terjadi pada tahun 2024 di kecamatan bagian tengah wilayah penelitian. Hasil Moran’s I mengindikasikan adanya pengelompokan spasial positif, di mana wilayah dengan kasus tinggi cenderung berdekatan dengan wilayah bernilai tinggi lainnya. Sementara itu, hasil Hotspot Analysis menunjukkan pergeseran lokasi daerah rawan DBD setiap tahun, yaitu dari Sungai Selan pada tahun 2020, Lubuk Besar pada 2021, wilayah Kota Pangkalpinang pada 2022–2023, hingga Koba dan sekitarnya pada 2024. Pola ini menggambarkan bahwa curah hujan memiliki hubungan dinamis terhadap peningkatan kasus DBD.