Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam bidang visual telah memunculkan fenomena rekonstruksi foto lama yang mampu menghidupkan kembali figur manusia, termasuk individu yang telah meninggal dunia. Fenomena ini banyak ditemukan pada platform media sosial TikTok dan menimbulkan persoalan mengenai batas antara realitas, simulasi visual, serta etika representasi. Visual AI tidak hanya berfungsi sebagai media kreatif, tetapi juga membentuk simulacra yang menciptakan realitas visual baru dan memengaruhi pemaknaan audiens secara emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi simulacra pada visual Artificial Intelligence yang menghidupkan kembali figur dari foto lama serta mengkaji penerapan etika visual dalam proses penciptaan dan pemaknaan visual tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi terhadap lima konten visual AI rekonstruksi foto lama di platform TikTok. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori simulacra dan perspektif etika visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa visual AI membentuk simulacra yang bersifat hiperreal, di mana visual tidak lagi merepresentasikan realitas faktual, melainkan menciptakan realitas imajiner yang diterima secara emosional oleh audiens. Dari sisi etika visual, proses produksi visual AI mengandung persoalan etis terkait manipulasi visual dan ketiadaan izin figur yang direpresentasikan, namun dalam pemaknaan audiens visual tersebut dipahami sebagai ekspresi simbolik nostalgia dan emosi personal kolektif.