Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EFEKTIVITAS SHALAT DHUHA DALAM MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS HAMSTRING PADA USIA DEWASA MUDA Jufri, Sabri
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.46504

Abstract

Fleksibilitas hamstring merupakan komponen penting dalam kebugaran fisik, terutama pada usia dewasa muda. Hamstring yang kaku dapat menyebabkan gangguan performa fisik, serta meningkatkan risiko cedera, khususnya pada aktivitas yang memerlukan gerakan melibatkan pinggul dan lutut. Cedera hamstring sering terjadi, dan sebagian besar terkait dengan gaya hidup. penggunaan gadget berlebih, serta posisi duduk yang statis. Shalat dhuha, salah satu ibadah yang dilakukan umat Islam, melibatkan gerakan tubuh yang luas, termasuk peregangan otot tubuh bagian bawah, dan dapat berfungsi sebagai alternatif latihan untuk meningkatkan fleksibilitas. Namun, belum ada penelitian yang secara spesifik menyoroti hubungan antara shalat dhuha dan peningkatan fleksibilitas hamstring, khususnya pada usia dewasa muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas shalat dhuha dalam meningkatkan fleksibilitas hamstring pada usia dewasa muda. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test. Sampel penelitian terdiri dari 22 mahasiswa STIKes Yapika Makassar yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi yang diberikan adalah gerakan shalat dhuha 4 rakaat yang dilakukan selama satu bulan. Data fleksibilitas hamstring diukur sebelum dan setelah intervensi menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada fleksibilitas hamstring setelah melakukan shalat dhuha 4 rakaat. Data pretest menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori poor (31,8%), sementara pada posttest, kategori excellent meningkat menjadi 50%. Uji Wilcoxon menghasilkan p-value 0,000, yang menunjukkan perbedaan signifikan antara pretest dan posttest. Pemberian intervensi shalat dhuha 4 rakaat terbukti efektif dalam meningkatkan fleksibilitas hamstring pada usia dewasa muda. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan dalam shalat dhuha dapat menjadi alternatif non-invasif untuk meningkatkan fleksibilitas tubuh. Kata Kunci: Shalat Dhuha, Fleksibilitas Hamstring, Dewasa Muda
PENGARUH GERAKAN SHALAT DHUHA DAN GERAKAN CALF RAISE TERHADAP FLEKSIBILITAS MUSCULUS GASTROCNEMIUS PADA USIA PRODUKTIF Jufri, Sabri; Masriadi, Masriadi; Gobel, Fatmah Afrianty
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.26128

Abstract

Cedera otot betis (musculus gastrocnemius) biasanya terjadi ketika seseorang tiba-tiba menggerakkan otot betis secara berlebihan setelah beridam diri dengan waktu yang cukup lama atau dengan lompatan yang jauh. Hal ini dikarenakan adanya ketegangan otot betis yang tidak fleksi (lentur). Otot betis yang tertarik parah dapat menyebabkan robekan sebagian atau bahkan seluruhnya. Otot betis yang robek parah memerlukan pembedahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gerakan shalat dhuha dan calf raise terhadap fleksibilitas musculus gastrocnemius pada usia produktif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan one group design pretest-postest  terhadap pengaruh gerakan shalat dhuha dan gerakan calf raise pada usia produktif, dan masing-masing kelompok dilakukan intervensi selama 7 hari, dengan jumlah total responden sebanyak 44 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling yaitu Teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai yang dikehendaki peneliti. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan fleksibilitas musculus gastocnemius setelah pemberian intervensi shalat dhuha 2 rakaat (p 0,00 < 0,05), ada pengaruh yang signifikan setelah pemberian intervensi gerakan calf raise  (p 0,00 < 0,05). Kesimpulannya: dengan demikian pengaruh shalat dhuha dan gerakan calf raise dapat meningkatkan fleksibilitas otot betis sehingga risiko cedera dan rasa nyeri pada otot betis (musculus gastrocnemius) dapat diminimalisir.
Hubungan Dukungan Suami dengan Kecemasan Ibu Hamil Trimester III dalam Menghadapi Persalinan di Puskesmas Lau Kabupaten Maros Tahun 2023 Hasyati, Hasyati; Fitriani, Fitriani; Jufri, Sabri
Journal of Health Quality Development Vol. 3 No. 1 (2023): Juni 2023, JHQD
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/jhqd.v3i1.855

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu gangguan psikologis yang sering dialami ibu hamil menjelang persalinan. Di Indonesia, angka kejadian kecemasan pada ibu hamil diperkirakan mencapai 373 juta kasus, dengan sekitar 107 juta (28,7%) di antaranya mengalami kecemasan menghadapi proses persalinan. Salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi tingkat kecemasan ibu hamil adalah dukungan suami, karena kehadiran dan perhatian suami mampu menumbuhkan rasa percaya diri, memberikan ketenangan, serta membentuk kesiapan mental ibu dalam menghadapi persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan suami dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III dalam menghadapi persalinan di Puskesmas Lau Kabupaten Maros Tahun 2023. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 34 ibu hamil trimester III, yang sekaligus dijadikan sebagai sampel penelitian menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan kecemasan ibu hamil trimester III (nilai p = 0,000 < 0,05). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa dukungan suami memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III menjelang persalinan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan keterlibatan suami dalam proses kehamilan dan persalinan sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengalaman persalinan yang aman, nyaman, dan bermakna bagi ibu.