Fleksibilitas hamstring merupakan komponen penting dalam kebugaran fisik, terutama pada usia dewasa muda. Hamstring yang kaku dapat menyebabkan gangguan performa fisik, serta meningkatkan risiko cedera, khususnya pada aktivitas yang memerlukan gerakan melibatkan pinggul dan lutut. Cedera hamstring sering terjadi, dan sebagian besar terkait dengan gaya hidup. penggunaan gadget berlebih, serta posisi duduk yang statis. Shalat dhuha, salah satu ibadah yang dilakukan umat Islam, melibatkan gerakan tubuh yang luas, termasuk peregangan otot tubuh bagian bawah, dan dapat berfungsi sebagai alternatif latihan untuk meningkatkan fleksibilitas. Namun, belum ada penelitian yang secara spesifik menyoroti hubungan antara shalat dhuha dan peningkatan fleksibilitas hamstring, khususnya pada usia dewasa muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas shalat dhuha dalam meningkatkan fleksibilitas hamstring pada usia dewasa muda. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test. Sampel penelitian terdiri dari 22 mahasiswa STIKes Yapika Makassar yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi yang diberikan adalah gerakan shalat dhuha 4 rakaat yang dilakukan selama satu bulan. Data fleksibilitas hamstring diukur sebelum dan setelah intervensi menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada fleksibilitas hamstring setelah melakukan shalat dhuha 4 rakaat. Data pretest menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori poor (31,8%), sementara pada posttest, kategori excellent meningkat menjadi 50%. Uji Wilcoxon menghasilkan p-value 0,000, yang menunjukkan perbedaan signifikan antara pretest dan posttest. Pemberian intervensi shalat dhuha 4 rakaat terbukti efektif dalam meningkatkan fleksibilitas hamstring pada usia dewasa muda. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan dalam shalat dhuha dapat menjadi alternatif non-invasif untuk meningkatkan fleksibilitas tubuh. Kata Kunci: Shalat Dhuha, Fleksibilitas Hamstring, Dewasa Muda