Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip deep learning dalam kegiatan keagamaan Jumat sebagai sarana penguatan nilai-nilai spiritual dan karakter peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prinsip deep learning dalam program keagamaan Jumat berpotensi signifikan dalam membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan kompeten secara global. Kegiatan keagamaan ini merepresentasikan pembelajaran bermakna, kolaboratif, reflektif, dan berorientasi nilai sebagaimana dikemukakan oleh Fullan dalam kerangka deep learning. Melalui keterlibatan aktif siswa dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi, kegiatan ini berhasil menguatkan enam kompetensi global (6C), yaitu berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, karakter, dan kewargaan. Keberhasilan penerapan deep learning dalam konteks keagamaan dipengaruhi oleh faktor internal, seperti peran guru sebagai fasilitator dan co-learner yang membangun kemitraan belajar yang egaliter serta budaya religius sekolah yang menumbuhkan keterlibatan aktif siswa, dan faktor eksternal, seperti dukungan kebijakan sekolah, partisipasi orang tua, serta kerja sama dengan lembaga keagamaan dan masyarakat yang memperkuat ekosistem pembelajaran kondusif. Temuan ini sejalan dengan teori Fullan yang menegaskan bahwa keberhasilan deep learning ditentukan oleh keterpaduan antara kemitraan, pedagogi, dan lingkungan belajar yang mendukung.