Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Penerapan Service Learning terhadap Pengembangan Karakter dan Tingkat Kehadiran Remaja Naposo Bulung di HKBP Maranatha Ressort Cinta Damai Anna Ria Silaban; Meri Kristiani Simanjuntak; Ajelina Novita Pasaribu; Sorta Taruli Martogi Simamora; Nikson Hutasoit; Justice Zeni Zari Panggabean
Kolaborasi : Jurnal Hasil Kegiatan Kolaborasi Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): Juni : Kolaborasi : Jurnal Hasil Kegiatan Kolaborasi Pengabdian
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Matematika dan Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/kolaborasi.v3i2.616

Abstract

This research is motivated by the low attendance and involvement of church youth in spiritual activities, as well as the weak Christian character that should be the basis of their lives. The purpose of this study is to analyze the impact of the service learning approach by IAKN Tarutung students on character development and increasing participation of Naposo Bulung youth at HKBP Maranatha Ressort Cinta Damai. This research is based on the theory of service learning (Eyler & Giles, 1999), experiential learning (Kolb, 1984), and the concept of sense of belonging (Etzioni, 1991) which emphasizes the importance of emotional involvement and critical reflection in the learning and service process. The method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation, which were conducted for three months. The results of the study showed that the service learning program had a significant influence in increasing the attendance of youth from an average of 14 to 25 people per week, as well as fostering positive characters such as responsibility, discipline, and social concern. Students not only act as implementers of activities, but also as spiritual mentors and spiritual friends, who form authentic and contextual relationships with teenagers. The implications of this study confirm that service learning is an effective approach in the formation of church teenagers because it combines aspects of direct service with spiritual and academic reflection. Therefore, it is recommended that this approach be integrated more systematically into the curriculum of higher theological education and used as a model of sustainable service in the church community.
Implementasi Komunikasi Persuasif Kepala Sekolah Dalam Membina Disiplin Siswa Di SMA Negeri 1 Meri Kristiani Simanjuntak; Justice Z.Z Panggabean
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.60952

Abstract

Penelitiani ini bertujuan untuk mengetahui implementasi komunikasi persuasif kepala sekolah dalam membina disiplin siswa di SMA Negeri 1 Siborongborong. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta melibatkan informan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, guru bimbingan konseling, wali kelas, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah menerapkan tiga strategi utama, yaitu strategi psikodinamika, strategi persuasi sosiokultural, dan strategi pembuatan kebermaknaan. Pertama, strategi psikodinamika dilakukan kepala sekolah melalui pendekatan empatik dengan memahami kondisi emosional dan latar belakang siswa sebelum memberikan pembinaan. Kedua, strategi persuasi sosiokultural diterapkan melalui penanaman nilai-nilai budaya sekolah seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, dan saling menghargai melalui pembiasaan, keteladanan, serta kerja sama dengan orang tua dan masyarakat. Sementara itu, strategi pembuatan kebermaknaan dilakukan dengan menjelaskan tujuan dan manfaat aturan sehingga siswa memahami makna disiplin dan terdorong untuk menerapkannya secara sadar. Ketiga strategi tersebut dilaksanakan secara terpadu melalui dialog dan penguatan positif, sehingga mampu meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan siswa secara berkelanjutan karena didasarkan pada pemahaman, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan.