Melasma merupakan gangguan hiperpigmentasi kronik yang sering ditemukan pada wanita usia produktif dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Selama ini, radiasi ultraviolet (UV) dianggap sebagai faktor utama pemicu melasma. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa visible light (VL), khususnya high-energy visible light (HEV) atau blue light, juga berperan dalam patogenesis melasma. Blue light tidak hanya berasal dari sinar matahari, tetapi juga dari perangkat digital berbasis light-emitting diode (LED) seperti layar komputer dan telepon pintar, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak paparan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bukti ilmiah terkait peran radiasi blue light dari perangkat digital terhadap melasma serta implikasi klinisnya. Metode yang digunakan adalah narrative literature review dengan penelusuran basis data PubMed dan Google Scholar pada Desember 2025. Artikel yang dianalisis meliputi penelitian asli, uji klinis, studi eksperimental, review, dan konsensus ahli yang dipublikasikan dalam rentang tahun 2015–2025. Sebanyak 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa blue light, terutama pada panjang gelombang pendek, mampu menginduksi hiperpigmentasi yang persisten melalui aktivasi jalur opsin-3 pada melanosit. Paparan blue light dari perangkat digital memiliki intensitas yang jauh lebih rendah dibandingkan sinar matahari dan tidak terbukti memperburuk melasma secara akut, namun berpotensi memberikan efek kumulatif jangka panjang. Studi klinis juga menunjukkan bahwa fotoproteksi terhadap visible light, khususnya menggunakan sunscreen berwarna, lebih efektif dalam mencegah perburukan dan kekambuhan melasma. Dapat disimpulkan bahwa blue light merupakan faktor lingkungan penting dalam patogenesis melasma, sehingga strategi pencegahan dan tata laksana melasma perlu mencakup proteksi terhadap visible light selain radiasi UV.